15 Guru Besar Bakal Kumpul di UGM Bahas Kepemimpinan Indonesia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Universitas Gadjah Mada (UGM).  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto: Shutterstock

Guru besar dari berbagai perguruan tinggi akan berkumpul di Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka akan membahas kepemimpinan untuk menyambut Indonesia Emas.

Ketua Forum 2024, Untoro Hariadi, mengatakan pertemuan para akademisi itu sebagai respons dari masalah kepemimpinan Indonesia yang masih terjadi. Ini bercermin dari kondisi reformasi hingga Pemilu 2024.

"Acara ini akan diawali besok, hari Sabtu tanggal 16 Maret 2024 di UC UGM Yogyakarta secara hybrid. Jadi nanti ada yang hadir dan kemudian karena ada para senior Forum 2045 di luar Yogya maka nanti akan kita upayakan untuk online juga," kata Untoro saat konferensi pers, Kamis (14/3).

"Tercatat sudah lebih dari 15 guru besar nanti juga akan hadir di UC UGM pada Sabtu besok," tambahnya.

Untoro menuturkan dalam acara itu tidak hanya dihadri para guru besar. Pihaknya juga meminta Ketua Institut Harkat Negeri yang juga mantan Menteri ESDM Sudirman Said untuk memberikan pandangan soal kepemimpinan.

Dr Untoro Hariadi. Foto: Universitas Janabadra

"Pak Sudirman Said nanti akan memberikan semacam pemikiran awal mengenai gagasan kepemimpinan Indonesia. Kemudian nanti akan ada 4 guru besar yang akan merespons di offline-nya itu Prof Ni'matul Huda dari perspektif hukum tata negara, kemudian dari Prof Armaidy Armawi, itu nanti dari perspektif perubahan geopolitik. Kemudian Prof Khoirul dari perspektif kemajuan ekonomi, dan dari perubahan iklim nanti akan direspons oleh Prof Baiquni," tutur Untoro.

Diskusi ilmiah itu diharapkan bisa menghasilkan tiga naskah terkait upaya untuk menghasilkan kepemimpinan dalam rangka menyambut Indonesia Emas 2045.

"Ada naskah bacaan dalam bentuk buku, kemudian naskah kurikulum untuk kita terapkan di dalam rintisan sekolah kepemimpinan publik, dan ketiga itu rencana aksi atau suatu perencanaan jangka panjang yang harus kita lakukan," ujarnya.

Untoro mengatakan tidak hanya guru besar yang akan hadir dalam diskusi itu, tapi juga ada tokoh-tokoh lain termasuk dari partai politik. Mereka akan bersama-saama memformulasikan kepemimpinan Indonesia.

Sudirman Said di program Info A1 kumparan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

"Keaktifan dan kepesertaan itu tokoh-tokoh partai itu juga kita undang dan ada yang berkenan hadir untuk bersama-saama mengkaji secara akademik sehingga nanti didapat satu rumusan atau naskah akademik yang komprehensif. Tinjauan dari para pakar dari kampus, aktivis, peneliti sosial, sekaligus dari para praktisi yaitu parpol," tuturnya.

Aksi pada Sabtu tersebut hanya bersisi diskusi ilmiah, tidak ada demo atau pernyataan sikap. Meski begitu, menurut Sudirman Said diskusi ilmiah itu menjadi bagian yang melengkapi aksi demo maupun pernyataan pendapat soal buruknya demokrasi yang berlangsung saat ini.

"Saya mengibaratkan Indonesia akan mengalami kerusakan yang parah dari sisi etik, dari segi kepatutan, dari segi tata hukum, termasuk kepemimpinan. Karena itu harus ada sebagian dari kita yang di samping memang terus respons keadaan kekinian tapi juga mengajak atau bersama-sama memikirkan bagaimana menata yang rusak ini ke depan," kata Sudirman.

"Salah satu aspek saja yang kita pikirkan, tapi saya kira akan berlangsung pararel jadi saya tidak mengharapkan ada satu proses atau aksi di forum hari Sabtu itu. Karena itu adalah bahian dari yang kita selenggarakan untuk jangka panjang," pungkasnya.