150 Orang Ditangkap Terkait Rusuh di Prancis Akibat Kematian Remaja 17 Tahun

Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin mengatakan, ratusan orang ditangkap akibat rusuh besar di Prancis. Kerusuhan itu dipicu kematian remaja 17 tahun akibat ditembak polisi.
Darmanin menambahkan, puluhan anggota kepolisian terluka karena mengamankan demo berujung rusuh, yang sudah berlangsung selama dua hari.
"Dua malam kekerasan terhadap simbol republik, alun-alun kota, sekolah dan kantor polisi yang dibakar atau diserang. 150 orang ditangkap," kata Darmanin pada Kamis (29/6) seperti dikutip dari Reuters.
Penembakan yang dilakukan polisi terhadap remaja 17 tahun keturunan Afrika Utara itu terjadi pada Selasa (27/9). Ia ditembak mati akibat melanggar lalu lintas.
Keterangan kepolisian Prancis bukan hanya di Paris, rusuh juga pecah di Lille, Tolouse, Amiens, Dijon, dan Essonne.
Sebelum kerusuhan pecah, Presiden Emmanuel Macron mengatakan, penembakan terhadap remaja karena melanggar lalu lintas, tidak bisa dibenarkan.
Menanggapi kerusuhan Kementerian Dalam Negeri meminta warga tenang. Sebanyak 2000 anggota kepolisian dikerahkan demi memulihkan situasi keamanan.
Sementara itu, keluarga remaja 17 tahun yang tewas menyatakan, polisi menjadi pihak harus bertanggung jawab.
kejadian penembakan di jalan yang sampai menelan korban jiwa, termasuk 2023 ini, sudah tiga kali terjadi sejak 2017. Peristiwa berdarah ini sebelumnya berlangsung pada 2020 dan 2021.
Mayoritas korban jiwa ialah keturunan kulit hitam atau Arab.
