152 Satwa Liar di Kulon Progo, Yogyakarta, Terancam Kurang Pakan karena Pandemi

Sebanyak 152 satwa liar di tempat konservasi Wildlife Rescue Centre (WRC), Kulon Progo, Yogyakarta, terdampak akibat pandemi corona. Hewan tersebut terancam kekurangan pakan.
Manajer Konservasi WRC Yogyakarta Reza Dwi Kurniawan mengatakan, selama ini lembaganya bergantung dengan donasi dari relawan. Karena pandemi, imigrasi tutup dan lembaga itu tak bisa mengadakan program. Akibatnya, donasi terhenti.
"Bulan pertama pandemi kita sudah kaget karena kita mendapatkan income dari program relawan dan school group dari orang luar di sini menjadi relawan dan berdonasi," ujar Reza saat ditemui di lokasi, Senin (1/2).
Ia menambahkan, dalam setiap bulannya, dana yang dibutuhkan WRC untuk kebutuhan operasional lebih dari Rp 100 juta. Uang tersebut digunakan untuk merawat dan merehabilitasi satwa liar, dan juga membayar gaji dan operasional lainnya.
Kondisinya semakin memprihatinkan mulai pertengahan 2020. Sebab, ia hanya terbantu dengan sokongan dana dari BKSDA Yogyakarta sebanyak dua kali.
"Kita di ujung tanduk, operasional sangat berat. Tahun lalu sempat ngobrol dengan BKSDA dan dapat bantuan dana untuk bertahan sampai 2020 selesai," tambahnya.
Karena seretnya dana untuk lembaga itu, WRC memutuskan untuk memotong gaji 25 karyawannya. Usaha itu dilakukan agar tetap bisa memberikan perawatan terhadap satwa. "Kita memutuskan Februari ini akan mengurangi untuk salary. Dikurangi 50 persen. Termasuk saya," kata Reza.
Untuk menghemat dana, penggunaan sarung tangan kain dan masker kain animal keeper dengan dicuci. Sementara untuk makan satwa liar tetap dua kali sehari.
"Seperti yang saya bilang tadi, kita komitmen satwa yang utama. Kita sengsara dulu nggak papa. Kita tidak mengurangi pakan tetap dua hari sekali kita kasih obat, nutrisi," ujarnya.
Diakui Reza, selama ini WRC memang tidak punya donatur tetap. Pihaknya memang selama ini terus mencari donatur tetap tapi hal itu tidak mudah di Indonesia.
"Kenapa kita belum ada funding tetap, karena belum dapat. Kita berusaha dan kita terbuka kalau ada yayasan atau perusahaan lain. Yang penting perusahaan yang tidak merusak lingkungan," ujarnya.
Langkah lain yang dilakukan agar pendanaan bisa terus didapat adalah dengan membuka donasi seperti di kitabisa.com. Jika pandemi tidak kunjung selesai dan kondisi tetap seperti ini bukan tidak mungkin kemungkinan terburuk seperti penutupan lokasi bisa terjadi. Namun, Reza dan kawan-kawan menolak untuk menyerah.
"Pandemi tidak kelar dalam waktu dekat, hal-hal seperti itu bukannya tidak mungkin. Walaupun seperti apa pun kita ingin bertanggung jawab pada satwa tersebut. Kita berusaha sekuat mungkin menggali dana," katanya.
Reza menjelaskan 152 satwa liar di WRC Jogja yang memiliki luas 13,9 hektare terdiri primata seperti orang utan, siamang, owa, monyet ekor panjang. Kemudian ada mamalia seperti beruang madu. Ada pula elang, kaka tua, buaya, kura-kura, hingga kaswari.
Para satwa liar tersebut direhabilitasi dan kemudian di lepas liarkan. Tahun 2020 ini saja sudah ada 17 individu seperti buaya, merak, dan elang yang dilepas liarkan. Namun, tidak semua satwa bisa dilepas liarkan karena sejumlah faktor seperti trauma hingga cacat.
"Tidak semua bisa dilepas liarkan karena ada trauma dan cacat juga," ujarnya.
Sementara itu, salah seorang Animal Keeper, Sangsang (49) mengamini bahwa satwa liar merupakan yang utama. Meski dalam kondisi berat, dia tetap akan bertahan lantaran kecintaannya pada satwa.
"Saya itu masuk pagi ngecek satwa sehat nggak. Bersihin kandang ganti air minumannya. Setengah 10 terus setelah itu ngasih pakan. Saya seminggu liburnya satu kali," ujarnya.
"Saya kan dari dulu suka sama satwa. Seneng satwa dari kecil. Dulu pohon-pohon saya yang nanam dan satwa datang saya rawat," kata pria yang bertugas sejak 2003 atau saat WRC masih bernama Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta (PPSJ).
Reza berharap, vaksinasi corona bisa mengembalikan kondisi seperti sebelum pandemi. Dengan begitu, programnya untuk mengundang orang bisa dijalankan kembali.
