17 Lulusan SMA Tertipu Lowongan Kerja di Korsel, Rugi Rp 255 Juta

Sebanyak 17 orang pria dan wanita lulusan SMA mengalami kerugian sebanyak Rp 255 juta. Memanfaatkan program G2G (Government to Government) BNP2TKI, oknum penipu ini menjanjikan pekerjaan dengan gaji fantastis untuk bekerja di Korea Selatan.
"Oknum ini tersebut untuk kepentingan pribadi, jadi dia mencoba menyebarkan ini lewat perkumpulannya bahwa ada lowongan TKI. Dari sana menyebar lah, mungkin ada kerabat yang lulusan SMA, kemudian ditawarkan gaji yang fantastis, yaitu 1.7 juta Won atau sekitar Rp 23 juta," ujar kuasa hukum 17 dari 26 orang korban, Masayu Donny Kertapati, saat dihubungi kumparan, Kamis (30/8).
Kesempatan yang menggiurkan ini membuat 26 orang ini tertarik lalu menghubungi pelaku berinisial HH, contact person yang ada di dalam informasi lowongan kerja tersebut. Saat itu pelaku HH menjelaskan, program ini memiliki kuota terbatas, dengan jadwal pemberangkatan di bulan Juli, sehingga harus dilakukan pembayaran. Korban pun setuju untuk segera membayar.

"Kalau total 26 orang, cuma yang join untuk kuasa hukum cuma 17 orang. Masing-masing rata-rata Rp 15 juta, tapi yang belum punya paspor diminta tambah Rp 1,5 juta, untuk visa dan tiket. Jadi ini mengesampingkan tahapan training, dan lain-lainnya," jelas Donny.
Di Korea Selatan, korban dijajikan untuk bekerja di Hotel New Seoul. Dan hotel itu memang benar ada dengan alamat yang sesuai seperti yang tercantum di dalam lowongan kerja.
Di sana mereka dijanjikan pekerjaan sebagai asisten chef, waiters, resepsionis, office boy, dan lainnya. Mereka berasal dari sejumlah daerah, seperti Bangka, Aceh, Indramayu, dan Jabodetabek.
Namun suatu hari seorang korban mula menaruh curiga, akibat bentuk itinerary yang kurang meyakinkan.

"Saat itu dia tanya, kok ini kayak editan? tapi dijawab dengan lugas oleh si HH ini. Akhirnya dikeluarkan lah jadwal briefing ketemu sama agensi, ketemu sama user di sana, tanggal 23 Agustus di Hotel Royal Kuningan," kata Donny.
Namun setibanya di hotel tersebut, tak ada ruangan yang direservasi atas nama para korban, sehingga mereka menunggu di lobby sambil menghubungi HH.
"Ahirnya mereka telepon saudari HH ini, tapi sampai pukul 18.00 WIB tidak ada kejelasan lagi apakah mereka jadi briefing atau tidak, alasannya si user sama agen nya masih ada acara lain," ungkap Donny.
Dari sana kecurigaan semakin besar, sehingga seorang korban menghubungi Donny yang sudah dikenal sejak lama.
"Tapi saya bilang, tunggu sampai tanggal 28 Agustus, karena kalian dijadwalkan terbang tanggal 28, setelah itu baru kita lapor. Akhirnya tanggal 28 itu mereka enggak jadi berangkat. Sementara uang sudah masuk semua. Bahkan paspor mereka sudah di HH semua," kata Donny.
Tanggal 28 Agustus, Donny dan korban masih menghubungi HH untuk minta ganti rugi. Namun HH menolak, karena menurutnya uang sudah diserahkan ke R, yang merupakan koordinator program.
"Ahirnya tanggal 29 kami lapor Bareskrim. Kami berharap kasus ini cepat ditangani, karena kerugian yang ditimbulkan cukup besar," pungkasnya.
