18 ABK Kapal Tanker Tertahan 5 Pekan dalam Kondisi Mengenaskan

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kapal tanker. (Foto: pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kapal tanker. (Foto: pixabay)

Sebanyak 18 ABK kapal tanker berbendera Marshal Islands, Sea Pioneer, tidak bisa keluar kapal. Gaji mereka juga belum dibayar.

"18 ABK berasal dari Filipina dan Pakistan tertahan di dalam kapal dan masih menunggu gaji bulan Desember,” demikian harian berbasis di Amsterdam, Het Parool, mewartakan, Rabu (17/1).

Dikutip kumparan Den Haag (kumparan.com), para ABK berlayar dari pelabuhan Cienfuegos, Kuba, menuju Amsterdam selama 27 hari sejak November 2017. Kapal tanker Sea Pioneer ini membawa muatan nafta.

Di pelabuhan Amsterdam itulah pelayaran Sea Pioneer terhenti sementara sejak 6 Desember 2017. Sebab pihak kreditur menagih utang ke perusahaan dan meletakkan sita jaminan atas kapal tersebut.

Untuk menghemat bahan bakar dan air, para ABK hanya bisa menggunakan air panas pada pagi dan sore hari selama satu jam. Di dalam kapal mereka juga selalu memakai jaket, sebab hanya sebagian pemanas ruangan dalam kapal yang dinyalakan, padahal selama musim dingin ini temperatur udara mendekati titik beku.

"Situasinya sangat tidak manusiawi. Hal-hal begini sering terjadi dalam pelayaran internasional, tapi tidak di kawasan di mana kita tinggal," ujar Aswin Noordermeer, inspektur pada Internationale Transportarbeiders Federatie (ITF).

ITF tahu situasi mereka setelah mendapat laporan dari pembimbing rohani Leon Rasser, yang berkesempatan naik ke kapal untuk berbicara dengan para ABK. Rasser memberi mereka pakaian, film, dan puzzel sebagai hiburan.

"Sangat memprihatinkan. Bagi kita sudah sangat menjengkelkan kalau gaji belum dibayar, apalagi bagi orang-orang ini. Mereka berlayar demi bisa menghidupi keluarganya," kata Rasser.

"Ada ABK yang baru saja menjadi ayah dan perlu uang supaya istri mereka bisa membeli makanan untuk bayi mereka," imbuhnya.

Menurut Het Parool, para ABK tidak berani mengungkapkan situasi ini karena takut nama mereka dimasukkan ke dalam daftar hitam. Mereka khawatir imbasnya akan kesulitan mendapat pekerjaan lagi di masa depan.

Kalau kalian mengeluh, maka orang lain siap menggantikan. Kemiskinan dieksploitasi dan ada sistem yang memfasilitasi

"Kita mengambil pekerja dari negara-negara itu di mana mereka tidak punya hak sama sekali, sebab mereka mudah tergantikan. Suatu cara berbisnis yang mengenaskan," tuturnya.

Laporan: Eddi Santosa (kumparan Den Haag)