2 Jenis Anggrek Langka Ditemukan di Gunung Semeru di Ketinggian 1.100 Mdpl
·waktu baca 3 menit

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menemukan dua jenis anggrek baru bernama Anoectochilus papuanus dan Acanthophippium bicolor di kawasan Gunung Semeru, Jawa Timur. Temuan ini merupakan catatan baru yang didokumentasikan TNBTS.
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNBTS, Toni Artaka, mengatakan berdasarkan status global International Union for Conservation of Nature (IUCN), kedua jenis anggrek tersebut masih berstatus not evaluated atau belum dievaluasi.
"Namun, berdasarkan hasil pengamatan di kawasan TNBTS, keduanya tergolong cukup langka karena relatif sulit ditemukan di habitat alaminya. Untuk penetapan status konservasi yang lebih spesifik dan resmi di Indonesia, dapat dikonfirmasi lebih lanjut kepada BRIN sebagai scientific authority nasional," kata Toni saat dikonfirmasi, Rabu (20/5).
Toni menyampaikan, dua jenis anggrek itu pertama kali ditemukan di kawasan TNBTS, tepatnya di lereng selatan Gunung Semeru pada kisaran elevasi 800–1.100 mdpl.
"Untuk menjaga keamanan habitat dan mencegah potensi gangguan terhadap populasi di alam, titik koordinat detail tidak dapat dipublikasikan," ujarnya.
Ditemukan Tahun 2022 dan 2023
Anggrek Anoectochilus papuanus ditemukan pada tahun 2022. Sebelumnya, jenis ini tercatat memiliki sebaran di Papua hingga Kepulauan Solomon.
Sedangkan satunya bernama Acanthophippium bicolor ditemukan pada tahun 2023. Jenis ini sebelumnya hanya dikenal dari India dan Sri Lanka.
Ia menyampaikan, dari hasil pengamatan di lapangan, kedua jenis anggrek itu tumbuh pada habitat yang relatif serupa.
"Di lantai hutan yang teduh dengan tutupan kanopi sekitar 40–60 persen, kondisi mikroklimat yang lembap, serta lapisan seresah yang cukup tebal," lanjutnya.
Dua jenis anggrek itu memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Anoectochilus papuanus termasuk kelompok Jewel Orchids, yaitu anggrek dengan daun kecil berurat menyerupai warna perak atau emas.
"Ukuran daunnya sekitar 2–5 cm dengan tinggi tanaman beserta bunga sekitar 12 cm. Jenis ini menggugurkan daun pada musim kering. Bunganya berwarna marun kombinasi putih transparan, memiliki rambut halus pada seluruh bagian bunga, dan tidak mekar sempurna," ucapnya.
Sementara itu, Acanthophippium bicolor memiliki ukuran yang jauh lebih besar. Tinggi tanaman dari pangkal hingga ujung daun bisa mencapai sekitar 60 cm dengan dua helai daun hijau yang bertahan sepanjang tahun.
"Umbi semunya besar dengan panjang hingga 20 cm dan tumbuh secara merumpun. Bunganya berukuran cukup besar dengan diameter mencapai 4 cm, berbentuk menyerupai kendi, berwarna merah menyala berpadu kuning pucat dengan bagian bibir bunga berwarna kuning," ujarnya.
"Karakter bunga tersebut menjadi pembeda utama dengan tiga jenis Acanthophippium lain yang juga ditemukan di TNBTS, yaitu A. javanicum, A. parviflorum, dan A. striatum," imbuhnya.
Hingga kini, kata Toni, kedua jenis tersebut belum memiliki nama lokal yang digunakan secara umum.
Secara global, Anoectochilus papuanus dikenal dalam kelompok Jewel Orchids. Sedangkan Acanthophippium bicolor termasuk kelompok Jug Orchids.
Toni mengatakan, proses sejak penemuan awal hingga pengajuan ke jurnal ilmiah membutuhkan waktu sekitar 1–2 tahun.
Tahapan itu meliputi identifikasi spesimen, diskusi, serta konsultasi dengan para ahli dan peneliti dari BRIN sebagai scientific authority di Indonesia.
"Setelah itu, proses publikasi ilmiah masih memerlukan waktu hampir 2 tahun karena harus melalui tahapan peer review oleh para ahli internasional," katanya.
