20 Tahun Bom Bali, Perjuangan Erniawati dan Tumini Mencari Kedamaian Hati

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Turis asing mengunjungi tugu peringatan korban bom Bali 2002 menjelang peringatan 20 tahun ledakan, di kawasan wisata Kuta dekat Denpasar di pulau resor Indonesia Bali, Sabtu (8/10/2022). Foto: Sonny Tumbelaka/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Turis asing mengunjungi tugu peringatan korban bom Bali 2002 menjelang peringatan 20 tahun ledakan, di kawasan wisata Kuta dekat Denpasar di pulau resor Indonesia Bali, Sabtu (8/10/2022). Foto: Sonny Tumbelaka/AFP

Pak, saya sudah memaafkan Bapak. Mari kita bersama-sama menjaga negara kita tercinta agar damai seperti dulu lagi, tidak terjadi peristiwa bom seperti yang saya alami.

Pernyataan itu diungkapkan Ni Luh Erniawati saat bertemu dengan terpidana Umar Patek di Lapas Surabaya, Jawa Timur, akhir bulan September 2022.

Erniawati juga masih ingat betul bagaimana badan dan pikirannya sontak terpaku saat Umar Patek berlutut di hadapannya dan menangis meminta maaf atas peristiwa Bom Bali 20 tahun lalu.

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) memfasilitasi Erniawati bertemu Umar Patek dalam rangka memperingati 20 tahun bom Bali.

Pria yang memiliki nama asli Hisyam bin Alizein itu merupakan salah satu pelaku pengeboman di Paddy's Club dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta, Badung, Bali, pada 12 Oktober 2000 sekitar pukul 23.00 WITA. Akibat ledakan ini, 202 orang tewas— termasuk 88 warga Australia. Salah satu korban jiwa adalah suami Erniawati.

Narapidana kasus terorisme (Napiter) Umar Patek mendapat remisi umum HUT RI ke-77, Rabu (17/8/2022). Foto: Humas Kanwil Kemenkumham Jatim

Janji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama dari mulut Umar Patek membuat Erniawati berusaha melepaskan pilu yang tertanam dalam hatinya selama puluhan tahun.

"Dia janji, dia memang tidak pernah berpikir untuk melakukan itu lagi karena merasa sudah bersalah dengan apa yang dilakukan, apalagi melihat dan bertemu dengan korban langsung," kata Erniawati.

Erni menceritakan sedikit isi pembicaraannya dengan Umar Patek ini dalam acara "Apa Kabar Para Penyintas Bom Bali" secara virtual pada awal Oktober 2022.

Polisi melaksanakan rekonstruksi proses perencanaan Bom Bali I dengan melibatkan Umar Patek (kanan) dan Hari Kuncoro (kiri), di Candi Baru RT 2 RW 11 Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, Jateng, Sabtu (22/10). Foto: Andika Betha/ANTARA

Pada hari itu, Erniawati memutuskan berusaha berdamai dengan masa lalu dengan menyambut tangan Umar Patek agar bangun dari posisi berlutut, mengiringi permintaan maafnya.

Erniawati sadar, dendam tak berujung justru membuat dia sakit dan kehidupan keluarganya terancam kacau balau.

"Karena saya tahu ketika saya masih marah, masih benci, dan masih bergolak dalam pikiran untuk melakukan hal-hal yang enggak tahu pasti, saya sakit, sementara itu saya harus memikirkan masa depan. Saya punya dua orang putra yang harus saya lindungi," kata Erniawati.

Erniawati berbagi cerita bagaimana sulitnya menerima kematian seorang belahan jiwa. Suaminya bekerja sebagai karyawan di salah satu klub malam di lokasi bom Bali I.

Warga Australia memperingati 20 tahun tragedi bom Bali yang digelar di Pantai Coogee, Sydney, Australia, Rabu (12/10/2022). Foto: Loren Elliott/Reuters

Beberapa bulan setelah kawasan Legian luluh lantak karena bom, Erniawati masih berharap suatu saat suami tercintanya muncul di depan pintu rumah. Erniawati membayangkan lelaki itu mengenakan pakaian yang sama saat berangkat kerja dulu.

Suaminya Erniawati mengetahui suaminya menjadi salah satu korban bom saat dokter forensik RSUP Sanglah menyampaikan kabar hasil identifikasi jenazah pada Februari 2001, empat bulan setelah peristiwa.

Hasil identifikasi jenasah disampaikan pihak rumah sakit melalui sambungan telepon.

Turis asing mengunjungi tugu peringatan korban bom Bali 2002 menjelang peringatan 20 tahun ledakan, di kawasan wisata Kuta dekat Denpasar di pulau resor Indonesia Bali, Sabtu (8/10/2022). Foto: Sonny Tumbelaka/AFP

Erniawati seolah tak percaya saat polisi dan dokter menyerahkan jenazah suaminya dibungkus kantong mayat. Erniawati bahkan sudah tidak mengenali wajah suaminya karena luka bakar pada tubuhnya mencapai 70 persen.

"Selama empat bulan itu saya menunggu, menunggu suami saya pulang dan kadang-kadang berpikir kalau tiba-tiba suami saya itu ada di depan mata saya. Tapi itu tidak pernah terjadi dan ketika saya mendapat informasi bahwa suami saya teridentifikasi, saya enggak bisa ngomong apa-apa. Saya nggak bisa jawab (suara panggilan telepon dari rumah sakit), lama (baru membalas panggilan telepon rumah sakit)," katanya.

Suasana warga ziarah ke Monumen Peringatan Bom Bali. Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Dari hasil pernikahan dengan suaminya, Erniawati memiliki dua anak laki-laki. Pada saat itu, anak pertama berusia sembilan tahun dan anak kedua berusia dua tahun. Erniawati memiliki tantangan berat agar kedua anak ini tumbuh tanpa dendam, tidak kekurangan secara finansial, dan hidup bahagia.

Hal yang paling berat bagi Erniawati dalam membesarkan anak adalah saat anak pertamanya bertanya keberadaan sang bapak.

Berminggu-minggu anak kedua mencari ayahnya. Erniawati terpaksa memberikan jawaban yang menyakitkan. Berita duka itu justru membuat sang anak histeris. Erniawati berusaha sekuat hati menenangkan sang buah hati.

"Malam pertama, kedua, ketiga, saya masih bisa masih punya alasan atau bisa mengalihkan pikirannya agar tidak terlalu minta bapak, tapi di hari-hari terakhir saya sudah enggak bisa, saya sudah kehilangan akal," kenang Erniawati.

Hal lain yang terberat adalah Erniawati tidak bisa menerima status janda. Apalagi stereotipe janda di mata masyarakat masih negatif.

Erniawati butuh bertahun-tahun untuk mengganti status menikah menjadi janda pada KTP atau surat lainnya demi kebutuhan administrasi sekolah anaknya.

"Saya sebagai orang tua tunggal, saya juga harus menyandang status janda, yang sebenarnya lama bertahun-tahun, saya tidak bisa terima. Hati saya selalu merasa sakit ketika saya ingat dengan status itu. Karena kita semua tahu status janda di mata orang, di mata masyarakat itu (negatif), membuat saya sakit," katanya.

Penyintas tragedi Bom Bali, Chusnul Chotimah (kiri) bersama warga lainnya berdoa di Monumen Bom Bali. Foto: Antara Foto/Fikri Yusuf

Erniawati Akhirnya Berdamai

Kehidupan baru Erniawati bersama anaknya dimulai ketika mereka sudah berdamai dengan masa lalu yang kelam. Erniawati kini mencari nafkah di sektor konveksi, sementara itu anak pertama telah lulus kuliah dan anak kedua menginjak semester VI di jurusan kesehatan perguruan tinggi.

Oleh karena itu saya berusaha untuk sembuh dari trauma, saya berusaha untuk menerima, untuk berdamai dengan diri saya sendiri, berdamai dengan orang lain, berdamai juga dengan lingkungan kita, " kata Erniawati.

Perjuangan Tumini

Penyintas Bom Bali lainnya bernama Tumini juga mengaku sudah berdamai dengan kisah kelam bom Bali I. Tumini berharap korban saling menguatkan dalam mencari kedamaian.

"Kita sesama korban itu satu perjuangan, walaupun itu korban langsung, korban tidak langsung, anaknya korban, kita, tuh, harus berdamai, saling berdamai, supaya tidak ada saling bermusuhan," kata Tumini dengan tegar.

Kedamaian ini sejatinya belum seirama dengan kondisi fisik tubuh Tumini. Selama kurun 20 tahun, masih ada sisa puing ledakan tersimpan di kedua payudara dan kepala bagian kanannya.

Alhamdulillah, sedikit demi kondisi membaik (dari awal) dengan luka bakar 45 persen. Payudara keduanya ada serpihan, yang sebelah kanan, yang di kepala satu," kata Tumini.

Bekas luka akibat ledakan membuat usus yang sempat keluar kini membusuk sepanjang satu meter. Tumini sedang berusaha agar bisa menjalani operasi pemotongan usus, dibiayai pemerintah. Tumini selalu gagal menentukan jadwal operasi karena tensinya tinggi, yakni di atas 200 mmHg.

"Waktu usus saya keluar (akibat ledakan) langsung dimasukin (ususnya dan perut dijahit oleh dokter). Nah, sudah sekian lama, 20 tahun. Sekarang akhirnya dia (usus) bermasalah, membusuk di dalam akhirnya mau dipotong satu cm," katanya.

Ibu dari tiga anak dahulu bekerja sebagai pelayan di Paddy's Club. Tuminin berada di belakang pada saat ledakan terjadi. Tubuhnya terbakar bersama beberapa karyawan lain.

Tumini diselamatkan oleh satpam yang menyuruhnya melompat dari jendela terbakar. Satpam itu juga menyuruh Tumini segera menanggalkan seluruh pakaian.

Tumini akhirnya menceburkan dirinya ke kolam renang sebuah penginapan yang berada di dekat lokasi kejadian untuk memadamkan api. Tumini selanjutnya diselamatkan seorang WNA. WNA itu meminta ambulans yang melintas mengevakuasi Tumini ke rumah sakit.

"Cuma apinya yang padam, tapi badan tambah panas rasanya," kenang Tumini.

Monumen Bom Bali di Jalan Legian Kuta yang selalu padat pengunjung Foto: Helinsa Rasputri/kumparan

Tumini juga masih ingat betul bagaimana dirinya terpaksa antre selama enam jam di halaman parkir RSUP Sanglah untuk mendapatkan perawatan. Tumini antre bersama pasien lain sambil berharap ada keluarga yang mencari dirinya.

Tumini dirawat oleh pihak RSUP Sangat setelah ada desakan dari suami dan keluarganya.

Akhirnya saya dibawa pakai dipan, dirawat tanpa dikasih bius, sama dokter langsung (pemotongan kulit luka bakar) kayak orang potong ayam, digunting-gunting," kenang Tumini.

"Saya teriak, "Dok jangan semua karena saya enggak kuat." Tapi dokter bilang, "Kalau enggak bisa diselesaikan sekarang besok infeksi, susah sembuhnya," cerita Tumini mengulang trauma penanganan luka bakar yang dialaminya.

Tak cuma di Indonesia, 20 tahun tragedi Bom Bali I juga diperingati di Australia.

kumparan post embed