21 Orang Tewas Akibat Suhu Ekstrem di Chicago

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fenomena tersebut terjadi akibat Polar vortex yang ekstrem. Foto: Pinar Istek/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Fenomena tersebut terjadi akibat Polar vortex yang ekstrem. Foto: Pinar Istek/REUTERS

Kawasan Chicago dan daerah Midwest, Amerika Serikat, lumpuh dengan badai salju yang terjadi sejak pekan lalu. Badai itu menyebabkan membekunya saluran air, listrik padam, dan pembatalan penerbangan di sejumlah kawasan. Tidak hanya itu, suhu yang amat dingin, yakni mencapai -17 derajat celcius, juga menyebabkan hipotermia. Setidaknya, 21 orang dinyatakan tewas akibat suhu rendah di kawasan itu. Dilansir dari AFP, Sabtu (2/2), salah satu korban adalah seorang mahasiswa kedokteran di Universitas Iowa bernama Gerald Belz. Ia meninggal pada Rabu (30/1). Remaja berusia 18 tahun itu ditemukan tidak sadar diri di luar gedung ketika suhu rendah terjadi di Kota Iowa. Sementara itu, seorang wanita berusia 38 tahun di Winconsin ditemukan membeku pada Rabu (30/1) malam akibat alat penghangat ruangan yang tidak berfungsi. Seorang pria juga dilaporkan membeku hingga mati di halaman belakang rumahnya pada Kamis (31/1).

Seorang warga mengambil gambar sungai Chicago yang membeku akibat pusaran kutub atau polar vortex (29/1/2019).  Foto: REUTERS/Pinar Istek
zoom-in-whitePerbesar
Seorang warga mengambil gambar sungai Chicago yang membeku akibat pusaran kutub atau polar vortex (29/1/2019). Foto: REUTERS/Pinar Istek

Pejabat setempat berulang kali memperingatkan para tunawisma untuk memanfaatkan peningkatan kapasitas tempat tinggal. Warga juga diperingatkan untuk tidak menghabiskan banyak waktu di luar ruangan. Badan Cuaca Nasional AS memprediksi suhu memungkinkan untuk mencapai titik yang sangat rendah, yakni minus 30 derajat fahrenheit (-34 derajat celcius). Diperkirakan, suhu akan mulai meningkat mulai Jumat (1/2). Pada Senin, suhu diperkirakan mencapai suhu normal yakni 10 derajat celcius. Namun, hal ini menimbulkan kekhawatiran pemerintah berikutnya, yakni es mencair yang berpotensi menyebabkan banjir. “Penting untuk diingat bahwa perubahan cuaca dan salju dapat menyebabkan banjir yang berbahaya,” pungkas Direktur Regional Badan Manajemen Darurat Federal, James Joseph. Suhu dingin yang ekstrem seperti ini sebelumnya pernah terjadi di Amerika. Fenomena ini terakhir muncul pada 20 tahun yang lalu.