Kemenkes Akan Kirim Tim Cek Kesehatan Petugas Pemilu 6 Jam Sekali

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana proses rekapitulasi hasil penghitungan suara secara manual tingkat kecamatan di Gelanggang Olah Raga (GOR) Tanah Abang, Bendungan Hilir, Kec. Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (19/2/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana proses rekapitulasi hasil penghitungan suara secara manual tingkat kecamatan di Gelanggang Olah Raga (GOR) Tanah Abang, Bendungan Hilir, Kec. Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (19/2/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut mengevaluasi jalannya Pemilu 2024. Sorotan ditujukan ke masih adanya petugas pemungutan suara yang meninggal dunia usai menjalankan tugasnya.

KPU mencatat pada 14 Februari sampai 18 Februari 2024 pukul 23.58 WIB, ada 71 petugas yang meninggal dunia. Sementara yang sakit sebanyak 4.567 orang.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, seharusnya, tidak ada korban jiwa dalam penyelenggaraan Pemilu 2024. Apalagi jumlahnya sampai puluhan.

“Kami di Kementerian Kesehatan, melihat satu nyawa saja, buat kami, sudah sangat banyak. Ada banyak masyarakat yang berduka,” kata Budi dalam keterangan persnya bersama KPU, Bawaslu, Mendagri, di Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (19/2).

“Jadi kami berpikir bagaimana caranya untuk terus berpikir hingga turun 80 persenan lebih, bisa enggak kita turun lebih banyak lagi, kalau bisa tidak ada yang meninggal, karena nyawa itu terlalu berharga,” tambah Budi.

Untuk mencegah peristiwa ini terulang di pemilu yang akan datang, Kemenkes akan memeriksa secara berkala para petugas. Nantinya, akan ada petugas Puskesmas yang berkeliling mengecek setiap TPS per 6 jam sekali.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (30/8/2023). Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

“Yang berisiko kita identifikasi kalau bisa setiap 6 jam kita cek. Jadi enggak usah keburu sampai sakit, karena bagaimanapun mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena satu nyawa saja sudah kebanyakan kalau bisa jangan ada lagi,” tuturnya.

Pemeriksaan kesehatan ini diutamakan petugas yang memiliki risiko tinggi, komorbid, dan mereka yang bekerja overtime.

Berdasarkan data yang diperoleh Kemenkes, risiko yang paling tinggi dan mayoritas menjadi penyebab meninggalnya petugas KPPS adalah kelelahan. Karena hipertensi, gula, dan lemak berlebih.

“Yang kedua, jantung, 26 persen,” imbuh Budi.

Data-data tersebut yang kemudian menjadi dasar Kemenkes bakal melakukan pemeriksaan terhadap petugas pemungutan suara secara berkala.

“Alatnya ada, dan semua petugas Puskesmas punya. Dan kita akan coba hitung bisa enggak untuk TPS-TPS yang kita identifikasi ada petugas yang berisiko tinggi, sudah tua atau dia punya komorbid, punya penyakit bawaan yang banyak itu kita periksa setiap 6 jam,” pungkas dia.

Data Petugas Meninggal Dunia dan Sakit

Adapun 71 orang petugas yang meninggal dunia, rinciannya sebagai berikut:

  • PPK tingkat kecamatan: 1 orang

  • Anggota PPS di tingkat desa/kelurahan: 4 orang

  • Anggota KPPS di tingkat TPS: 42 orang

  • Linmas: 24 orang

Sedangkan petugas yang sakit, rinciannya sebagai berikut:

  • PPK tingkat kecamatan: 136 orang

  • PPS desa atau kelurahan: 696 orang

  • Anggota KPPS: 3.371 orang

  • Linmas: 364 orang.