237 Jempana Diusung saat Melasti di Pantai Petitenget Bali

Para pemedek (umat) memenuhi kawasan Pantai Petitenget yang terletak di kawasan Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Bali, Rabu (14/3). Sejak pagi, para umat Hindu dari 3 desa adat dan puluhan banjar (setingkat RW) di kawasan tersebut melakukan prosesi Melasti menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1940 yang jatuh pada Sabtu (17/3) mendatang.

Melasti adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi. Berdasarkan informasi yang diperoleh, ada 3 desa adat yang melakukan prosesi Melasti di Pantai Petitenget. Antara lain Desa Adat Padang Luwih, Desa Adat Kerobokan, dan Desa Pakraman Padang Sambian.

Ritual ini membawa 237 jempana (tandu berbentuk pondok untuk membawa pratima alias patung dewa), yakni linggih atau stana Ida Bhatara - Bhatari (semacam tempat bersemayam dewa-dewi) yang biasanya diusung oleh krama desa adat. Bendesa (pemimpin) Adat Kerobokan, Anak Agung Putu Sutarja, menyampaikan, prosesi Melasti ini sudah berlangsung sejak pagi tadi.
“Upacara sudah dimulai sejak pukul 08.00 Wita. Puluhan ribu pemedek juga mengiringi ratusan jempana yang memusatkan upacara melasti di sini (Petitenget, red) sampai pukul 18.00 Wita. Kira-kira kalau dihitung, biasanya 40 ribu pemedek,” jelas Sutarja.

Sebagai bentuk penghormatan pada Sang Hyang Baruna, penguasa laut menurut kepercayaan para umat Hindu di Bali, ritual Melasti ini merupakan suatu ritual pensucian diri yang dilakukan dalam rangkaian Hari Raya Nyepi yang dilaksanakan di tepi Pantai. Tujuannya mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu yang dengan simbolik membuang hal-hal buruk tersebut ke laut.
Secara bergantian, para umat Hindu melakukan persembahyangan. Ada juga ritual Ngurek dalam rangkaian Melasti hari ini. Mereka yang mengalami trance atau kerauhan kemudian menghujamkan keris ke tubuh mereka. Ritual ngurek ini diyakini masyarakat Hindu Bali sebagai cara dalam menyeimbangkan dan menjaga keharmonisan antara dunia nyata dengan yang tidak nyata.

Namun tidak semua desa melakukan Ngurek, karena tidak semua desa dapat melakukannya. Menurut Ketua PHDI Bali, IGN Sudiana, Kebanyakan Ngurek dilakukan di desa-desa di Kabupaten Badung, Gianyar dan Karangasem.
"Itu namanya Ngurek, sebagai tanda persembahan sudah diterima oleh para dewa yang hadir. Ini membuktikan apa yang bersifat negatif sudah dinetralisir menjadi positif," ujarnya.

Tak hanya di Pantai Petitenget, prosesi Melasti hampir dilakukan di semua daerah di Bali. Menurut Kapolres Badung AKBP Yudith Satriya Hananta, ada 6 titik lainnya di kawasan Kuta Utara dan Mengwi yang dijadikan kawasan Melasti. Yakni Pantai Berawa, Pantai Batu Bolong, Pantai Pererenan, Pantai Seseh, Pantai Sogsogan, dan Pantai Mengening.
Meski demikian, Pantai Petitengetlah yang paling ramai. Selain banyaknya pemedek yang datang dari berbagai desa, juga karena jalur jalan yang sempit sehingga banyak dilakukan pengalihan arus. Ditambah lagi pantai ini berada di lokasi pariwisata.

"Yang cukup menjadi atensi kami adalah Pantai Petitenget, karena selain banyak, juga jalannya kecil-kecil sehingga banyak pengalihan arus jalan," tambahnya.

Khusus untuk prosesi Melasti, Polres Badung menurunkan 438 personel. Pengamanan Melasti dilakukan sejak hari ini hingga besok, Kamis (15/3). Polres Badung juga bekerja sama dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Badung dan Satpol PP Badung yang akan dikerahkan untuk mengawal selama berlangsungnya upacara Melasti di wilayah Kuta Utara dan Mengwi, Badung.
“Kita mengerahkan ratusan personel untuk mengawal jalannya prosesi Melasti di wilayah Badung,” tutur Yudith.
