24 Tentara Israel di Gaza Tewas dalam Sehari, Terbanyak sejak Pertempuran Pecah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan hari Senin (22/1) sebagai salah satu hari tersulit dalam kampanyenya memerangi Hamas. Sebab, sebanyak 24 tentaranya dilaporkan telah tewas di Jalur Gaza hanya dalam sehari — jumlah tertinggi sejak peristiwa 7 Oktober terjadi.
Atas dasar itulah, Netanyahu murka dan bersumpah bahwa Israel tak akan menghentikan serangannya di Gaza hingga mereka mencapai 'kemenangan mutlak' melawan Hamas.
"Atas nama para pahlawan kita, demi hidup kita, kita tidak akan berhenti berjuang sampai kemenangan mutlak," ujar Netanyahu pada Selasa (23/1), seperti dikutip dari Reuters.
Menurut Israeli Defense Forces (IDF), kerugian telak di pihak Israel ini bermula ketika pasukan mereka sedang berupaya menyisir beberapa wilayah di dekat perbatasan setelah membombardir benteng-benteng tersisa yang dikuasai Hamas.
Juru bicara IDF, Daniel Hagari, menjelaskan operasi itu ditujukan untuk membersihkan perbatasan Israel-Gaza dari 'infrastruktur teroris' dan membuka akses bagi pemukim ilegal zionis kembali ke rumah masing-masing. Mereka sebelumnya mengungsi ketika Hamas meluncurkan serangan ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober lalu.
Lalu, sebuah granat dengan peluncur rudal ditembakkan ke arah tank-tank yang sedang mengawal pasukan IDF di dalam Jalur Gaza. Granat tersebut ditembakkan ke daerah berjarak 600 meter dari pagar perbatasan Gaza dengan Israel.
Pada saat bersamaan, tiba-tiba dua bangunan berlantai dua meledak — yang menurut Hagari, di dalam bangunan itu sudah ditempatkan peledak sebelumnya. Reruntuhan bangunan kemudian menghantam para pasukan yang berada di sana.
Namun, Hagari mengaku sampai saat ini masih menelusuri lebih lanjut penyebab kematian para tentaranya itu. "Kami masih memeriksa dan menyelidiki rincian kejadian dan alasan ledakan tersebut," kata Hagari.
