26 Jasad Ditemukan di Bendungan Ambrol Laos, 131 Masih Hilang

26 Juli 2018 10:07 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Warga desa dievakuasi setelah bendungan Xepian-Xe Nam Noy ambrol. (Foto: REUTERS/Stringer)
zoom-in-whitePerbesar
Warga desa dievakuasi setelah bendungan Xepian-Xe Nam Noy ambrol. (Foto: REUTERS/Stringer)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Upaya pencarian korban dalam bencana bendungan ambrol di Laos masih terus dilakukan. Sejauh ini telah ditemukan 26 korban tewas dalam bencana tersebut, 131 orang lainnya masih hilang.
ADVERTISEMENT
Hal ini diungkapkan oleh Perdana Menteri Laos Thongloun Sisoulith dalam konferensi pers, Rabu (25/7). Sebelumnya tim penyelamat juga telah menyatakan ada ratusan orang yang hilang.
"131 orang masih dilaporkan hilang," kata Thongloun seperti dikutip AFP.
Sebanyak lima miliar kubik air, atau setara dua juta kali volume air di kolam renang ukuran Olimpiade, mengalir deras ke permukiman warga usai bendungan Xepian-Xe Nam Noy ambrol di distrik Sananxay, bagian tenggara provinsi Attapeu.
Banjir bandang ini menyebabkan rumah warga terendam. Upaya evakuasi dilakukan bagi warga yang terjebak di atap-atap rumah mereka, ada yang berlindung di atas pohon. Jumlahnya diperkirakan mencapai 3.000 orang.
Saat penduduk desa dievakuasi, setelah bendungan Xepian-Xe Nam Noy di Laos runtuh. (Foto: ABC Laos News via REUTERS)
zoom-in-whitePerbesar
Saat penduduk desa dievakuasi, setelah bendungan Xepian-Xe Nam Noy di Laos runtuh. (Foto: ABC Laos News via REUTERS)
Menurut pejabat pemerintahan Laos Chana Miencharoen, sebanyak 17 korban ditemukan terluka dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Upaya penyelamatan dipersulit oleh air banjir yang belum juga surut.
ADVERTISEMENT
Bendungan yang ambrol sedang dalam tahap konstruksi yang menghabiskan dana hingga USD 1,2 miliar, melibatkan beberapa perusahaan asal Thailand, Korea Selatan, dan dari Laos sendiri. Rencananya, bendungan yang dibuat untuk memproduksi listrik hingga 410 megawatt itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2019.
Menurut dua kontraktor dari Korsel, mereka telah melaporkan adanya kerusakan pada bendungan itu, sehari sebelum ambrol. Warga juga menyayangkan pemerintah yang tidak cepat tanggap. Menurut mereka, peringatan bahaya ambrol hanya disampaikan beberapa jam sebelum bencana tersebut.
"Peristiwa itu terjadi sangat cepat, kami hanya punya sedikit waktu untuk bersiap," kata Joo Hinla, 68, warga desa Ban Hin Lath yang terendam banjir.
"Rumah-rumah saya di desa itu kini berada di dalam air. Empat dari keluarga saya hilang, kami tidak tahu nasib mereka," kata wanita yang kini berada di pengungsian bersama ratusan orang lainnya.
ADVERTISEMENT