28 Negara, Mayoritas Barat, Minta Israel Hentikan Perang Gaza

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Palestina berkumpul untuk menerima makanan dari dapur umum, di tengah krisis kelaparan, di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Senin (20/7/2025). Foto: Ramadan Abed/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga Palestina berkumpul untuk menerima makanan dari dapur umum, di tengah krisis kelaparan, di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Senin (20/7/2025). Foto: Ramadan Abed/REUTERS

Sebanyak 28 negara di dunia menandatangani pernyataan bersama yang mendesak Israel untuk mengakhiri perang di Gaza. Seruan ini lahir usai korban-korban berjatuhan akibat pembantaian tentara Israel di pusat bantuan kemanusiaan di Gaza.

Mengutip AP Selasa (22/7), terlihat beberapa di antaranya adalah negara yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan Israel, seperti Inggris dan Prancis. Selain negara, ada Komisi Uni Eropa untuk Kesetaraan, Kesiapsiagaan, dan Manajemen Krisis yang ikut mengutuk serangan Israel.

Bahkan badan Uni Eropa itu menggarisbawahi perihal tindakan mengerikan Israel terhadap warga Gaza yang antre bantuan dan air di pusat kemanusiaan Gaza.

Pernyataan ini juga mengkritik cara penyaluran bantuan kemanusiaan bentukan Israel. Puluhan negara ini menilai cara Israel sebagai "model pemberian bantuan [ini] berbahaya, memicu ketidakstabilan, dan menghilangkan martabat manusia warga Gaza."

Negara-negara ini pun sepakat agar Israel mematuhi aturan yang telah berlaku dalam hukum internasional.

"Upaya penyangkalan pemerintah Israel atas bantuan kemanusiaan esensial bagi penduduk sipil tidak dapat diterima. Israel harus mematuhi kewajibannya berdasarkan hukum humaniter internasional," lanjut bunyi pernyataan itu.

Berikut daftar ke-28 negara yang menandatangani pernyataan bersama itu:

  1. Inggris

  2. Jepang

  3. Australia

  4. Kanada

  5. Prancis

  6. Selandia Baru

  7. Austria

  8. Belgia

  9. Denmark

  10. Estonia

  11. Finlandia

  12. Islandia

  13. Irlandia

  14. Italia

  15. Latvia

  16. Lituania

  17. Luksemburg

  18. Belanda

  19. Norwegia

  20. Polandia

  21. Portugal

  22. Slovenia

  23. Spanyol

  24. Swedia

  25. Swiss

  26. Yunani

  27. Siprus

  28. Malta

Israel dan AS tolak kritik 28 negara itu, Jerman absen

Warga Palestina dan ana-anak berkumpul untuk menerima makanan dari dapur umum, di tengah krisis kelaparan, di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Senin (20/7/2025). Foto: Ramadan Abed/REUTERS

Pemerintah Israel pun menolak pernyataan bersama itu. Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan apa yang disampaikan itu tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Mereka menganggap seruan tersebut justru akan memperpanjang perang.

"Hamas adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas berlanjutnya perang dan penderitaan di kedua belah pihak," tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Oren Marmorstein di media sosial X.

Senada dengan Israel, sekutunya AS, juga menolak seruan puluhan negara itu. Bahkan Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee menyebutnya sebagai hal yang 'menjijikkan' dan menyebut pihak yang seharusnya ditekan dunia internasional adalah Hamas.

Sementara itu, dari sebagian besar negara di Eropa yang ikut dalam pernyataan itu, Jerman menjadi salah satu negara besar benua biru yang absen.

Meski demikian, Menlu Jerman, Johann Wadephul menulis di X bahwa ia berbicara dengan mitranya dari Israel Gideon Saar pada hari Senin (21/7) dan menyatakan keprihatinan atas situasi di Gaza. Ia mendesak Israel untuk mengimplementasikan perjanjian dengan Uni Eropa guna memungkinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan.

Adapun setelah serangan 7 Oktober 2023, sebagian besar pasokan makanan yang diizinkan Israel masuk ke Gaza diberikan kepada Yayasan Kemanusiaan Gaza, sebuah kelompok Amerika yang didukung oleh Israel.

Sejak lembaga itu beroperasi pada bulan Mei, menurut saksi mata, ratusan warga Palestina telah tewas dalam penembakan oleh tentara Israel saat menuju ke lokasi untuk mengambil makanan dan air.

Namun, pihak militer Israel mengeklaim massa yang berbondong-bondong itu sebagai ancaman bagi tentara mereka yang ada di lokasi. Bahkan tentara mereka disebut hanya melepaskan tembakan peringatan, berbeda dengan kesaksian para saksi mata yang turut menjadi korban.