3.829 Pemudik yang Pulang ke Jatim Jalani Karantina

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Foto: Dok. Istimewa

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut ada sebanyak 3.829 pemudik dari berbagai daerah yang sedang menjalani karantina di Jawa Timur. Para pemudik itu dikarantina di berbagai kabupaten/kota. Khofifah mengatakan mayoritas pemudik adalah orang yang baru saja tiba dari daerah yang selama ini disebut zona merah, seperti Jabodetabek, dan juga dari luar negeri yang menjadi episentrum COVID-19. “Total saat ini ada sebanyak 3.829 orang (pemudik) yang sedang dikarantina di ruang observasi berbasis desa/kelurahan seluruh Jawa Timur. Gedung yang kini sedang terpakai untuk observasi ada 478 titik,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (30/4).

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberikan keterangan pers di Surabaya (19/4). Foto: ANTARA FOTO/Moch Asim
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberikan keterangan pers di Surabaya (19/4). Foto: ANTARA FOTO/Moch Asim

Dari jumlah pemudik yang diobservasi, terbanyak berada di Probolinggo. Jumlahnya mencapai 2.068 orang.

Sementara, fasilitas observasi terbesar berada di Jember Soper Garden (JSG). JSG berkapasitas 486 kasur dengan jumlah pemudik yang diobservasi sebanyak 382 orang.

“Terdiri dari 310 laki-laki dan 72 perempuan,” terangnya.

embed from external kumparan

Salah satu pemudik, Siti Rodiyah, warga Desa Tanjung Rejo Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, sudah 4 hari menjalani observasi di JSG. Dia mengikuti prosedur observasi setelah pulang dari tempat kerjanya di luar negeri.

“Saya baru 4 hari diobservasi, setelah pulang dari kerja di Maldives atau Maladewa. Jadi kurang 10 hari lagi baru bisa pulang kampung,” jawab Rodiyah.

Selama dikarantina, Rodiyah mengaku tak merasa kekurangan dengan kebutuhan yang disiapkan di lokasi observasi. Namun, dia berharap lebih banyak mendapatkan asupan sayuran. “Kalau bisa sayurnya ditambah,” ujar Rodiyah.

Data pemudik di Jatim yang dikarantina. Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan

Kuli Bangunan Berharap Kompensasi

Senada dengan Rodiyah, salah satu pemudik yang diobservasi dari Jakarta, Nana Sudarna, juga mengisahkan pengalamannya menjalani karantina. Nana mengaku sudah tercukupi kebutuhannya dalam masa karantina atau observasi.

Nana yang berprofesi sebagai kuli bangunan ini mengeluh tak bisa bekerja lagi dengan kondisi pandemi virus corona. Dia berharap agar bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Saya mohon ada kompensasi bagi masyarakat kecil seperti saya, saya kehilangan pekerjaan karena wabah ini, tempat kerja saya berhenti beroperasi,” jelas Nana.

Mendengar keluhan itu, Khofifah menjelaskan bahwa Pemprov Jatim sudah menyiapkan dana bantuan sosial bagi warga terdampak COVID-19. Namun sistem penyalurannya ada di pemerintah kabupaten kota.

Data pemudik di Jatim yang dikarantina. Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan

“Ada bantuan Pemprov Jatim, kita distribusikan lewat kabupaten kota. Anggarannya ditransfer ke BPBD, kalau ada kepala BPBD Jember boleh nanti dibagikan juga pada beliau nggih meskipun misalnya beliau tidak masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS),” ucap Khofifah.

“Karena dana bantuan kita memang untuk warga yang terdampak COVID-19. Sementara untuk menambah protein kami kirimkan 500 kilogram telur untuk warga yang sedang di observasi di Jember Sport Garden,” ujar dia.

***

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.