3 Calon di Pilgub Sumut: Edy Rahmayadi, Djarot, dan JR Saragih

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan Danau Toba, Sumatera Utara (Foto: Johanes Hutabarat/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan Danau Toba, Sumatera Utara (Foto: Johanes Hutabarat/kumparan)

Pemilihan Gubernur Sumatera Utara tak kalah riuh dengan Jabar atau Jatim. Setelah terjadi drama penarikan dukungan bagi calon petahana Tengku Erry oleh Partai Golkar dan Nasdem, kini Pilgub Sumut telah menghasilkan 3 pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dari latar belakang yang berbeda.

Dua cagub yang paling banyak mendapat sorotan saat ini yaitu mantan Pangkostrad Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi dan mantan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat. Keduanya belum pernah terjun di dunia politik lokal di Sumut.

Edy berlatar belakang militer sedangkan Djarot pernah memimpin Blitar dan DKI Jakarta. Pertarungan pun menjadi ketat setelah Partai Demokrat mengusung kadernya sendiri, Jopinus Ramli Saragih, yang merupakan Bupati Simalungun dan orang asli Sumatera Utara.

Berikut ketiga paslon yang akan maju dalam Pilgub Sumut 2018.

1. Edy Rahmayadi - Musa Rajeckshah

Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah. (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah. (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan)

Mantan Pangkostrad Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi sudah mantap melangkahkan kakinya untuk maju di Pilgub Sumut sejak September 2017. Edy Rahmayadi-Musa Rajeksah (Ijeck) didukung oleh lima partai yaitu Gerindra, PKS, PAN, Golkar, dan terakhir NasDem.

Selain berlatar belakang militer, Edy merupakan Ketum PSSI. Perjalanan Edy sempat terjegal saat pengunduran dirinya dibatalkan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Namun pada awal Januari 2018, Panglima TNI pun menyetujui pengunduran diri Edy demj memuluskan jalannya untuk maju di Pilgub Sumut.

Pasangan ini telah melebihi target syarat minimal dengan mengumpulkan 50 kursi DPRD. Dan secara mengejutkan, Partai Nasdem memutuskan untuk mendukung Edy ketimbang Tengku Erry yang merupakan kadernya sendiri sekaligus petahana.

Untuk pendamping Ery, nama Ijeck sudah tidak asing bagi penggemar otomotif, terutama warga Medan. Sebelum terjun ke dunia politik, pria kelahiran 1 April 1974 ini pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Provinsi Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumatera Utara, Ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Sumut, Ketua PMI Kota Medan, Pengurus Daerah Perbakin Sumut, dan Direktur Utama PT Anugerah Langkat Makmur.

Ijeck bersedia menerima ajakan Edy Rahmayadi karena tergerak memperbaiki kondisi Sumut dan menyejahterakan masyarakatnya. Selain itu, muncul banyak dukungan dari akar rumput di Sumatera Utara yang menginginkan sosok pemimpin santun serta peduli dengan masyarakat.

2. Djarot Saiful Hidayat - Sihar Sitorus

Djarot Saiful Hidayat - Sihar Sitorus. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan; Facebook Sihar Sitorus)
zoom-in-whitePerbesar
Djarot Saiful Hidayat - Sihar Sitorus. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan; Facebook Sihar Sitorus)

PDIP telah resmi mengusung mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaful Hidayat sebagai calon gubernur di Pilgub Sumatera Utara 2018. Djarot didampingi anak dari pengusaha kelapa sawit Darianus Lungguk (DL) Sitorus, Sihar Sitorus.

Sosok Sihar Sitorus bukanlah nama asing bagi PDIP. Ia pernah menjadi juru kampanye nasional di Pemilu 2014 dan ditunjuk oleh Megawati sebagai salah satu dari 120 tokoh-tokoh PDIP, sekaligus menjadi anggota tim kampanye Jokowi-JK.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengaku pusing memilih sosok pendamping Djarot karena Sumatera Utara memiliki karakteristik yang berbeda dengan di Jawa. Selain itu, santer terdengar langkah Djarot untuk menang sulit dibandingkan pesaingnya pasangan Edy-Ijeck yang didukung oleh koalisi besar dari sejumlah parpol. Walaupun tidak memiliki sejarah dengan Sumatera Utara, PDIP yakin Djarot masih memiliki peluang mengingat rekam jejak dan pengalamannya di birokrasi yaitu dengan memimpin kota Blitar dan DKI Jakarta.

Djarot mengaku ada keterlibatan Basuki Tjahaja Purnama dalam keputusannya siap maju di Pilgub Sumut. Dirinya bercerita, sebelum Natal ia menemui Ahok di penjara untuk mendiskusikan wacana tersebut.

Sejauh ini, Djarot-Sihar baru diusung PDIP dengan total kursi DPRD sebanyak 16 kursi. Artinya, pasangan ini masih kekurangan mendapatkan 4 kursi dari syarat minimal mendaftar sebagai kandidat Pilkada sebesar 20 kursi. Maka dari itu, PDIP akan terus melakukan komunikasi politik dengan parpol lain untuk bisa berkoalisi di Pilgub Sumut.

3. Jopinus Ramli Saragih - Ance Selian

Jopinus Ramli Saragih - Ance Selian. (Foto: dok. Partai Demokrat; Twitter @Ance_PKB)
zoom-in-whitePerbesar
Jopinus Ramli Saragih - Ance Selian. (Foto: dok. Partai Demokrat; Twitter @Ance_PKB)

Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih menggandeng anggota DPRD Sumatera Utara, Ance Selian, untuk maju sebagai cagub dan cawagub pada Pilkada Sumut. Keduanya didukung oleh koalisi Partai Demokrat, PKB dan PKPI.

Partai Demokrat mengusung kadernya sendiri yang merupakan Bupati Simalungun sejak tahun 2008. Pasangan JR Saragih-Ance diharapkan dapat menjadi kuda hitam selain duet Edy-Musa dan Drarot-Sihar yang sudah terlebih dahulu diusung oleh parpol pendukungnya.

Juru bicara Partai Demokrat, Ferdinand Hutahean menyebut bahwa JR Saragih - Ance dapat menjadi 'kuda hitam' karena merupakan pasangan kebhinekaan.

"Ini pasangan pelangi, ada pasangan antara Kristen dan Islam yang kita lihat menjadi pasangan kebhinekaan. Sehingga pasangan ini menjadi alternatif dan menjadi kuda hitam," kata Ferdinand di DPP Demokrat, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (7/1).