3 Gunung di Indonesia Erupsi Hampir Bersamaan, Ini Penjelasan PVMBG

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Erupsi Gunung Semeru mengeluarkan abu vulkanik setinggi 1,2 km di atas puncak Rabu (17/6/2026) pagi. Foto: Dok. Pos Pengamatan Gunung Semeru
zoom-in-whitePerbesar
Erupsi Gunung Semeru mengeluarkan abu vulkanik setinggi 1,2 km di atas puncak Rabu (17/6/2026) pagi. Foto: Dok. Pos Pengamatan Gunung Semeru

Tiga gunung di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang hampir bersamaan pada Selasa (18/8) malam. Ketiga gunung tersebut adalah Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara.

Ketua Tim Kerja Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Heruningtyas Desi Purnamasari, menyampaikan fenomena aktivitas erupsi yang terjadi di tiga gunung api tersebut tidak saling berhubungan atau memicu satu sama lain.

Ia menjelaskan setiap gunung api memiliki sistem magmatik, hidrotermal, serta dinamika tekanan bawah permukaan yang berbeda dan relatif independen.

"Erupsi terjadi ketika kondisi internal pada masing-masing sistem gunung api memungkinkan terjadinya pelepasan energi, gas, dan/atau material vulkanik ke permukaan. Oleh karena itu, kesamaan waktu erupsi lebih tepat dipandang sebagai kejadian yang berlangsung pada masing-masing sistem gunung api, bukan sebagai satu rangkaian proses vulkanik yang saling berhubungan," ujar Heruningtyas kepada kumparan, Rabu (19/8).

Heruningtyas mengatakan letak geografis Indonesia yang berada di jalur tektonik aktif dengan puluhan gunung api aktif membuat potensi erupsi bersamaan dimungkinkan terjadi secara statistik.

Maka dari itu, masyarakat diminta tidak berasumsi bahwa seluruh gunung api di Indonesia sedang mengalami peningkatan aktivitas secara massal.

"Yang paling penting, masyarakat tidak perlu mengaitkan kejadian tersebut sebagai tanda bahwa seluruh gunung api di Indonesia mengalami peningkatan aktivitas secara bersamaan," ucapnya.

Terkait tingkat risiko dan dampak erupsi, Heruningtyas menyampaikan pentingnya melihat parameter bahaya secara spesifik pada tiap-tiap gunung api.

Karakteristik letusan, tinggi dan arah sebaran kolom abu, potensi lontaran material pijar, guguran awan panas, serta risiko lahar hujan menjadi poin utama dalam pemantauan.

"Abu vulkanik juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat dan berpotensi mengganggu penerbangan apabila sebarannya mencapai jalur penerbangan atau kawasan bandara. Dalam evaluasi PVMBG, bahaya abu terhadap pernapasan, potensi lahar hujan, dan kemungkinan gangguan penerbangan menjadi bagian dari parameter yang perlu diwaspadai," jelasnya.

Saat ini, PVMBG terus melakukan pemantauan secara visual maupun melalui Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) di masing-masing lokasi.

Tingkat aktivitas serta rekomendasi batas jarak aman ditentukan secara mandiri berdasarkan hasil analisis data tiap gunung.

"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan mengikuti rekomendasi resmi PVMBG sesuai tingkat aktivitas serta zona bahaya masing-masing gunung api. Perkembangan aktivitas dan rekomendasi resmi dapat dipantau melalui MAGMA Indonesia dan kanal resmi Badan Geologi/PVMBG," katanya.