3 Kasus Kejahatan Mutilasi Terbaru di Indonesia, Mengapa Pelaku Nekat?

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mutilasi. Foto: Indra Fauzi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mutilasi. Foto: Indra Fauzi/kumparan

Kasus mutilasi di Indonesia marak belakangan ini. Setidaknya ada 3 kasus mutilasi terbaru yang diungkap polisi.

Pertama mutilasi Angela Hindriati Wahyuningsih (54) yang dilakukan M Ecky Listiyanto (34). Kasus ini terungkap pada Desember 2022.

Awalnya Ecky dilaporkan hilang oleh istrinya. Lalu penelusuran polisi menemukan keberadaan Ecky di Bekasi. Saat tempat tinggalnya diperiksa ternyata ada jasad angela yang telah termutilasi. Jasad itu disimpan dalam kotak kontainer.

Angela dibunuh Ecky pada Juni 2019 di Apartemen Taman Rasuna milik Angela. Pembunuhan berawal dari cekcok antara Angela dan Ecky terkait hubungan mereka.

Angela meminta Ecky menikahinya, namun ditolak karena Ecky sudah beristri. Angela lalu mengancam untuk membongkar hubungan gelap mereka. Hal itu lalu berujung tindakan nekat Ecky yang langsung mencekik korban hingga tewas.

Rekonstruksi kasus pembunuhan dan mutilasi Ecky Listiyanto terhadap Angela Hindriati Wahyuningsi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (1/3/2023). Foto: Jonathan Devin/kumparan

Beberapa hari setelah pembunuhan itu Ecky memutilasi korban menjadi beberapa bagian dan memasukkannya ke kotak kontainer. Tujuannya agar aksi kejinya tidak terungkap.

Kasus kedua ialah mutilasi koper merah. Motif asmara diduga LGBT dalam kasus ini yang memicu DA nekat menghabisi nyawa teman prianya, RD dengan sadis.

DA dan RD telah tinggal bareng di apartemen yang sama di wilayah Cisauk, Kabupaten Tangerang. Hingga pada Selasa (15/3) di apartemen tersebut, korban dan pelaku terlibat cekcok karena pelaku diminta melakukan handjob oleh korban.

Koper berwarna merah berisi mayat pria dimutilasi gegerkan warga Kampung Baru, Desa Singabangsa, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Rabu 15 Maret 2023. Foto: Dok. Istimewa

Tersangka yang kesal kemudian langsung membunuh korban dan memutilasinya. Potongan tubuh dan tangan korban kemudian dimasukkan dalam sebuah koper berwarna merah.

Yang terbaru mutilasi di Sleman. Kasus itu dialami Ayu Indraswari (34). Ia dimutilasi HP (23) alias Heru Prastiyo di sebuah penginapan di Pakem, Kabupaten Sleman, 18 Maret 2023.

Korban dipotong menjadi 3 bagian besar dan 62 bagian kecil. Bagian tubuh ini rencananya ingin dibuang pelaku ke septictank untuk menghilangkan jejak, tapi prosesnya yang lama membuatnya lelah dan memilih untuk melarikan diri.

HP (23) pelaku mutilasi Ayu Indraswari (34) di sebuah penginapan di Pakem, Sleman, dihadirkan saat konferensi pers, Rabu (22/3/2023). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

"Adapun alasan atau motif melakukan mutilasi sesuai dengan keterangan tersangka yaitu untuk menyembunyikan jejak yang mana niat yang bersangkutan adalah bagian tubuh korban akan dibuang ke septictank atau toilet," kata Dirreskrimum Polda DIY Kombes Pol Nuredy Irwansyah Putra ditemui di Polda DIY, Rabu (22/3).

Lantas mengapa kasus mutilasi ini marak terjadi?

Ahli Psikolog Forensik Reza Indragiri menuturkan ada dua alasan pelaku pembunuhan memutilasi korbannya. Pertama mutilasi sebagai cara meluapkan kemarahan, kebencian, sakit hati, dendam maupun perasaan negatif lainnya.

Dengan kata lain pelaku merasa puas tidak hanya dengan membunuh korban tapi ketika sudah memutilasinya.

Yang kedua mutilasi sebagai motif instrumental. Artinya pelaku memutilasi korban dengan tujuan agar polisi susah melacaknya.

"Dengan memotong-motong tubuh korban sedemikian rupa pelaku barangkali membayangkan bahwa otoritas penegak hukum akan sulit untuk identifikasi korban. Kalau korban tidak bisa diidentifikasi lebih-lebih lagi pelaku pembunuhannya," jelas Reza.

Ahli psikologi forensik, Reza Indragiri. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Menurutnya pelaku mutilasi juga kerap berasal dari orang dekat. Sebab tidak mudah untuk bisa mengisolasi korban dalam waktu lama hingga sampai pada pembunuhan dan mutilasi.

"Untuk membunuh apalagi disertai mutilasi saya bayangkan dilakukan dalam jangka waktu yang panjang di lingkungan tertutup. Siapa gerangan orang yang mampu untuk kuasai korban dalam jangka panjang dan mengisolasinya dalam lingkungan tertutup. Emang masuk akal kalau kita berspekulasi orang dekat yang lakukan aksi keji tersebut," jelas Reza.

Reza menuturkan pelaku mutilasi mungkin mengalami gangguan mental atau psikopat, tapi kita tetap harus menilai mereka sebagai orang waras sebab bisa melakukan tindak pidana yang keji.

"Bisa saja demikian (alami gangguan mental atau psikopat) tapi kita tidak bicara soal orang biasa, kita bicara orang yang diduga melakukan sebuah tindakan pidana. Dengan situasi seperti itu maka yang tepat adalah berasumsi adalah pelaku orang sehat, waras, orang rasional karena cuma dengan asumsi seperti itu maka pelaku bisa kita seret ke hukum," jelasnya.

Banyaknya kasus mutilasi belakangan ini dikhawatirkan Reza berasal dari peniruan dari kasus-kasus sebelumnya. Maraknya kasus mutilasi juga dianggapnya sebagai pandemi ketidakstabilan kejiwaan manusia.

Ilustrasi pembunuhan. Foto: Shutterstock

"Teringat saya pada pernyataan dari organisasi kesehatan dunia bahwa pasca pandemi virus COVID-19 besar peluang bakal terjadi pandemi baru yaitu pandemi semacam gangguan jiwa, pandemi perilaku-perilaku ekstrem dan sejenisnya," kata Reza.

"Apabila rangkaian pembunuhan yang disertai mutilasi merupakan perilaku yang kita anggap luar biasa keji yang di luar jangkauan akal sehat manusia, maka barangkali tepatlah ramalan WHO atau organisasi kesehatan dunia tentang datangnya gelombang pandemi kedua yaitu pandemi terkait ketidakstabilan kejiwaan manusia," tambahnya.

Lantas bagaimana agar kasus mutilasi tidak lagi terjadi, setidaknya tidak ada yang meniru kasus yang sudah ada di kemudian hari?

"Sulitlah kita mau bendung media seperti apa. Anggaplah media konvensional bisa kita tutup, tapi siapa yang bisa pastikan medsos bersih dari yang bisa menginspirasi siapa pun untuk bisa lakukan perbuatan keji. Termasuk untuk belajar jadi pelaku kejahatan. Dengan rupa-rupa modus dengan rupa-rupa cara termasuk menghilangkan barang bukti dengan metode mutilasi," kata Reza.

"Saya tidak begitu yakin kita temukan solusi sederhana bagaimana bisa atasi copy cut semacam ini," pungkasnya.