3 Polisi di Katingan yang Gugur Sempat Diteriaki Perampok Oleh Bandar Narkoba

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pemakaman Briptu Nopandri di Katingan, Kalimantan Tengah.  Foto: Dok. Polres Katingan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pemakaman Briptu Nopandri di Katingan, Kalimantan Tengah. Foto: Dok. Polres Katingan

Kapolda Kalimantan Tengah, Irjen Pol Iwan Kurniawan, mengungkap bandar narkoba yang menjadi target penangkapan di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, melakukan perlawanan saat akan ditangkap pada Kamis (2/7).

Iwan mengatakan, bandar narkoba tersebut meneriaki anggota Satresnarkoba Polres Katingan sebagai perampok. Teriakan itu kemudian memancing kerabat dan warga sekitar untuk menyerang polisi yang sedang bertugas.

"Masyarakat yang ada di situ, keluarga yang menjadi target, dan beberapa pelaku lain memprovokasi dengan teriakan 'rampok'. Kemudian mereka juga mengeluarkan senjata tajam dan senjata api laras panjang. Lalu terjadilah keributan di situ," kata Iwan di Mapolda Kalimantan Tengah, Selasa (7/7).

Tiga polisi yang tewas saat menjalankan tugas mengungkap peredaran narkoba di Katingan, Kalimantan Tengah. Foto: Instagram/@kejari_katingan

Akibatnya, polisi terpojok dan memilih mundur ke arah sungai. Saat itu, para pelaku terus menyerang polisi hingga akhirnya sebagian anggota terjun ke sungai untuk menyelamatkan diri.

Menurut Iwan, tidak semua anggotanya berhasil menyelamatkan diri. Tiga anggota yang kemudian ditemukan tewas diduga sempat ditangkap oleh para pelaku sebelum akhirnya dibunuh.

"Kenapa mereka mundur ke sungai? Karena di depan sudah didapat informasi bahwa cukup banyak kelompok pelaku berada di sekitar rumah. Saat itu mereka memutuskan untuk terjun ke sungai," katanya.

Dalam insiden tersebut, Briptu Anumerta Nopandri Ramadhana dan Aiptu Anumerta Sumaryanto ditemukan tewas dengan tubuh penuh luka. Jasad keduanya ditemukan mengapung di sungai. Sementara itu, Aipda Anumerta Yudhie Perdana Putra ditemukan meninggal dunia di lokasi penggerebekan.