30 Tahun Kudatuli, Hasto Ungkap Pesan Megawati: Demokrasi Harus Tetap Hidup

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyampaikan pesan Presiden ke-5 sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk terus memperjuangkan demokrasi. Hal itu disampaikannya sebagai bentuk memperingati 30 tahun peristiwa Kudatuli.

Megawati berpesan agar tragedi Kudatuli menjadi pelajaran penting bagi kehidupan demokrasi di Indonesia.

“Jadi pada hari ini, dalam seluruh rangkaian peringatan tragedi kemanusiaan, tragedi demokrasi, dan pembunuhan masa depan saat itu melalui serangan terhadap kantor partai politik yang sah, yaitu Partai Demokrasi Indonesia, seluruh lintasan sejarah peristiwanya ditampilkan di dalam pameran ini,” kata Hasto di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).

“Pesan dari Ibu Megawati Soekarnoputri, bahwa peristiwa tragedi Kudatuli tersebut mengajarkan bahwa watak kekuasaan yang otoriter yang menindas rakyatnya sendiri tidak boleh dibiarkan. Karena itulah demokrasi harus hidup dengan terang kemanusiaan, memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan memperkuat watak politik yang memperjuangkan agar rakyat betul-betul dapat secara merdeka menyampaikan seluruh kehendaknya untuk berserikat, berkumpul, dan menyampaikan aspirasinya,” lanjutnya.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tiba menghadiri rapat DPP yang ke-59 di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2026). Foto: PDIP

Hasto pun menyampaikan bahwa demokrasi membutuhkan berbagai pilar pendukung agar dapat berjalan sehat.

“Bahwa demokrasi memerlukan pers yang bebas, memerlukan kekuatan masyarakat sipil, memerlukan suatu pendidikan politik yang baik dan kehidupan demokrasi yang sehat, serta hukum yang betul-betul berkeadilan, hukum yang tidak tebang pilih,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Ribka Tjiptaning mengatakan peringatan 30 tahun Kudatuli telah dimulai sejak 18 Juli dan akan berlangsung hingga puncak acara pada 27 Juli mendatang.

Rangkaian kegiatan tersebut diisi dengan berbagai agenda, mulai dari diskusi publik, kegiatan Car Free Day, hingga pameran sejarah Kudatuli.

“Hari ini kan rangkaian peringatan 27 Juli yang ke-30 tahun. Sebetulnya sudah dari tanggal 18 lah ya. Ada 18, 19, ada terus acara. Waktu tanggal 18 diskusi, terus tanggal 19 Car Free Day. Tanggal 20 terus 21 ini. Jadi, terus masih berlanjut sampai nanti tanggal 27 Juli hari H-nya lah,” kata Ribka.

Ia menjelaskan, pada 26-27 Juli akan digelar rangkaian acara di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat. Acara dimulai siang hari dan dilanjutkan dengan renungan malam hingga dini hari.

“Itu nanti kita akan adakan di Diponegoro 58, 2 hari berturut-turut tanggal 26 mulai dari jam 2. Ah, jam 2, terus malamnya itu setelah maghrib kita renungan malam. Ada pengajian biasanya bagi-bagi apa ya. Anak yatim terus pengajian nasi tumpeng, putar film dokumenter. Bisa ada kesaksian-kesaksian dari korban,” jelas Ribka.

“Bisa ada orasi-orasi sampai menunggu 1 malam penuh biasanya. Nanti bangun pagi, biasanya banyak yang nginep itu. Bangun pagi kita jam 6 siap-siap, sebetulnya peristiwanya itu kan jam 6.15. Kita bikinlah jam 7. Jadi setengah 7 di jam 7, kita tabur bunga. Lalu jam 1 nanti Ibu Ketua Umum pidato politik sambung meresmikan monumen 27 Juli,” sambungnya.

Ribka mengatakan monumen peringatan Kudatuli akan diresmikan di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, lokasi yang menjadi tempat terjadinya penyerbuan pada 27 Juli 1996.

Ribka juga menjelaskan bahwa orasi yang digelar pada malam 26 Juli akan diisi oleh para korban dan saksi peristiwa Kudatuli. Menurutnya, mereka akan menyampaikan kesaksian mengenai peristiwa yang dialami saat penyerbuan kantor PDIP.

“Kalau orasi-orasi kan kita 26 malam. Itu biasanya korban-korban kayak testimoni lah gitu istilahnya. Jadi teman-teman FKK terus dia dulu di luar FKK tapi dia 27 Juli ada di situ,” katanya.