33 Orang Hilang Akibat Topan Super Ragasa, Taiwan Gelar Operasi Pencarian

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pakaian dan barang-barang rumah tangga tertimbun lumpur akibat banjir setelah Topan Super Ragasa di Hualien, Taiwan, Rabu (24/9/2025). Foto: Tyrone Siu/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pakaian dan barang-barang rumah tangga tertimbun lumpur akibat banjir setelah Topan Super Ragasa di Hualien, Taiwan, Rabu (24/9/2025). Foto: Tyrone Siu/REUTERS

Taiwan mencari 33 orang yang hilang akibat Topan Super Ragasa. Hujan lebat yang dibawa oleh topan ini menyebabkan danau meluap dan tanggul jebol akibat tak bisa menahan debit air.

Dikutip dari Reuters, Kamis (25/9), luapan air danau menyebabkan banjir di Kota Guangfu. Meski perintah untuk evakuasi telah dikeluarkan, sebagian besar korban yang merupakan lansia sulit untuk mengikuti panduan evakuasi untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau ke lantai 2 rumah masing-masing.

Jumlah korban tewas akibat Topan Ragusa mencapai 14 orang. Banyaknya jumlah korban tewas menimbulkan pertanyaan apakah perintah untuk mengungsi ke lantai atas rumah sudah tepat, dan apa yang bisa dilakukan secara berbeda.

Stasiun Luar Angkasa Internasional terbang di atas mata Topan Ragasa pada Senin (22/9/2025). Foto: NASA/ via REUTERS

"Selain berduka atas korban, kita harus menyelidiki penyebab kematian, yang sebagian besar terjadi di lantai bawah," kata Perdana Menteri Cho Jung-tai dalam rapat kabinet.

"Mengklarifikasi faktor-faktor ini penting untuk menyempurnakan protokol evakuasi di masa mendatang," lanjutnya.

Korban Sebagian Besar Lansia

Peta China dan Taiwan. Foto: Shutterstock

Di berbagai wilayah pedesaan Taiwan khususnya di timur, sebagian besar penduduknya merupakan lansia, sementara anak muda telah pindah ke kota untuk mencari kesempatan kerja yang lebih baik. Lansia penyandang disabilitas merupakan mayoritas korban tewas, ditemukan di lantai bawah rumah-rumah mereka.

"Mereka kesulitan berjalan," kata pejabat wilayah Hualien, Lin Jung-lu.

Kesenjangan digital dan tidak efektifnya komunikasi juga dinilai menjadi salah satu alasan mengapa penduduk lansia tidak bisa segera mengevakuasi diri.

Seorang warga berjalan di samping sebuah restoran yang rusak, setelah badai topan super Ragasa di Hong Kong, China, Rabu (24/9/2025). Foto: Tyrone Siu/Reuters

"Sebagian dari mereka tidak terbiasa menggunakan ponsel. Kepala desa telah mengadakan pengarahan, tapi mereka tidak menganggapnya seserius itu sampai akhirnya terjadi bencana," kata perwakilan anak muda di Hualien, Chang Chih-hsiung.

Masalah lainnya adalah skala banjir yang sangat besar, sehingga sulit untuk memprediksi wilayah mana yang akan terdampak. Chang mengatakan sebagian desa telah dievakuasi sepenuhnya dan penduduknya telah mengungsi di tempat penampungan.

Namun, desa itu malah tidak terdampak banjir. Sementara wilayah lain justru terdampak lebih parah dari yang diperkirakan.

Seorang pria menyaksikan ombak besar pecah di pantai saat Topan Super Ragasa bergerak menuju Hong Kong, Selasa (23/8/2025). Foto: Dale De La Rey/AFP

Selain Taiwan, Ragasa juga menyerang Filipina bagian utara, Hong Kong, Makau, dan China daratan khususnya Guangdong.

Topan ini menyebabkan kerusakan signifikan, banjir, dan tanah longsor di berbagai lokasi, serta berdampak pada layanan transportasi dan aktivitas ekonomi.