33 Orang Hilang Akibat Topan Super Ragasa, Taiwan Gelar Operasi Pencarian
ยทwaktu baca 2 menit

Taiwan mencari 33 orang yang hilang akibat Topan Super Ragasa. Hujan lebat yang dibawa oleh topan ini menyebabkan danau meluap dan tanggul jebol akibat tak bisa menahan debit air.
Dikutip dari Reuters, Kamis (25/9), luapan air danau menyebabkan banjir di Kota Guangfu. Meski perintah untuk evakuasi telah dikeluarkan, sebagian besar korban yang merupakan lansia sulit untuk mengikuti panduan evakuasi untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau ke lantai 2 rumah masing-masing.
Jumlah korban tewas akibat Topan Ragusa mencapai 14 orang. Banyaknya jumlah korban tewas menimbulkan pertanyaan apakah perintah untuk mengungsi ke lantai atas rumah sudah tepat, dan apa yang bisa dilakukan secara berbeda.
"Selain berduka atas korban, kita harus menyelidiki penyebab kematian, yang sebagian besar terjadi di lantai bawah," kata Perdana Menteri Cho Jung-tai dalam rapat kabinet.
"Mengklarifikasi faktor-faktor ini penting untuk menyempurnakan protokol evakuasi di masa mendatang," lanjutnya.
Korban Sebagian Besar Lansia
Di berbagai wilayah pedesaan Taiwan khususnya di timur, sebagian besar penduduknya merupakan lansia, sementara anak muda telah pindah ke kota untuk mencari kesempatan kerja yang lebih baik. Lansia penyandang disabilitas merupakan mayoritas korban tewas, ditemukan di lantai bawah rumah-rumah mereka.
"Mereka kesulitan berjalan," kata pejabat wilayah Hualien, Lin Jung-lu.
Kesenjangan digital dan tidak efektifnya komunikasi juga dinilai menjadi salah satu alasan mengapa penduduk lansia tidak bisa segera mengevakuasi diri.
"Sebagian dari mereka tidak terbiasa menggunakan ponsel. Kepala desa telah mengadakan pengarahan, tapi mereka tidak menganggapnya seserius itu sampai akhirnya terjadi bencana," kata perwakilan anak muda di Hualien, Chang Chih-hsiung.
Masalah lainnya adalah skala banjir yang sangat besar, sehingga sulit untuk memprediksi wilayah mana yang akan terdampak. Chang mengatakan sebagian desa telah dievakuasi sepenuhnya dan penduduknya telah mengungsi di tempat penampungan.
Namun, desa itu malah tidak terdampak banjir. Sementara wilayah lain justru terdampak lebih parah dari yang diperkirakan.
Selain Taiwan, Ragasa juga menyerang Filipina bagian utara, Hong Kong, Makau, dan China daratan khususnya Guangdong.
Topan ini menyebabkan kerusakan signifikan, banjir, dan tanah longsor di berbagai lokasi, serta berdampak pada layanan transportasi dan aktivitas ekonomi.
