4 Anggota TNI/Polri yang Kerja Sambilan demi Tambah Penghasilan Halal

Kasus penganiayaan yang menimpa dua anggota TNI di Jalan Jati Kramat, Kelurahan Jati Kramat, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, cukup menyita perhatian. Bagaimana tidak, dua angota TNI tersebut dianiaya ketika sedang bekerja sambilan dengan menjual durian di malam hari. Mereka mencari tambahan penghasilan dengan cara yang halal tapi malah dianiaya.
Penganiyaan itu dilakukan oleh sekelompok anak muda yang memalak mereka. Namun, karena tak mendapatkan apa yang diinginkan, para kelompok itu melakukan tindakan penganiayaan dan membuat dua anggota TNI itu luka-luka. Alhasil, membawa mereka untuk melakukan visum di RSUD Kota Bekasi.
Nasib nahas yang menimpa para prajurit TNI saat bekerja sambilan tak hanya dialami oleh dua anggota TNI asal Bekasi itu saja. Dilansir dari berbagai sumber, ada anggota TNI lain yang pernah mengalami nasib serupa meski tak sama kasusnya.
Namun kondisi itu tak membuat para abdi negara patah arang untuk mencari tambahan rezeki halal. Masih ada anggota polisi dan TNI lain yang bertekad mencari tambahan penghasilan dengan cara yang baik demi memenuhi kebutuhan keluarga. Mengingat gaji yang mereka peroleh dari negara pas-pasan.
1. Sersan Mayor (Serma) Mangatas Simanjuntak
Anggota TNI Angkatan Darat Bekasi yang juga berprofesi sebagai tukang ojek ini juga harus mengalami kejadian tak mengenakkan saat sedang menunggu penumpangnya di pintu masuk Gerbang Tol (GT) Bekasi Timur, Kota Bekasi, Minggu (3/12/2017).
Ia nyaris terkena peluru senjata air softgun jenis FN. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan luka-luka di bagian mulut karena dikeroyok oleh 20 orang pria bersenjata tajam. Diketahui, tindakan penganiayaan tersebut dilakukan karena para pelaku kesal dengan tukang ojek di sekitar lokasi tersebut. Sebab, salah seorang pelaku mengatakan bahwa mereka sebelumnya terlibat pertengkaran. Hal itu membuatnya melampiaskan amarahnya pada Mangatas meski yang bersangkutan bukan tukang ojek yang dimaksud.
2. Bripka Seladi
Seoarang petugas kepolisian asal kota Malang ini punya profesi lain yang jarang ditekuni oleh polisi lain seperti dirinya. Selain menjadi abdi negara, dia pun memilih untuk jadi pemulung sampah. Setiap hari, usai bekerja sebagai anggota Satuan Lalu Lintas Polresta Malang, ia melanjutkan bekerja mencari sampah-sampah plastik untuk dijual pada pengepul. Meski tak mendapat banyak tambahan penghasilan, namun ia bersyukur karena bisa memenuhi kebutuhan hidupnya bersama keluarga.
Kendati demikian, banyak persoalan yang harus dihadapinya. Salah satunya adalah usianya yang sudah tua membuat ia tak bisa bekerja secara maksimal. Ditambah juga dengan masalah gudang yang selama ini ia gunakan sebagai tempat menyimpan hasil memulungnya diambil alih oleh pemiliknya. Seladi pun harus memindahkan sampah-sampah yang dikumpulkannya tersebut di lokasi lain yang jaraknya cukup jauh.
3. Sertu Joko Suprihatin
Di Boyolali, Jawa Tengah, ada seorang Prajurit TNI bernama Sertu Joko Suprihatin. Ia dijuluki prajurit yang multitalenta. Bagaimana tidak, dilihat dari profesi yang digelutinya selama menjadi pengabdi negara, ia juga menjalani dua profesi yang jarang digeluti oleh rekan-rekannya. Joko juga menjadi wasit bola dan tukang urut. Tak setengah-setengah, ia dinilai cukup serius menggeluti profesinya tersebut.
Untuk tarif yang dipatok pun bahkan hanya secara cuma-cuma. Ia beranggapan profesi tersebut bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
4. Aiptu Sutrisno
Biaya kuliah untuk anaknya yang kini tak lagi murah menjadikan seorang polisi asal Semarang, Jawa Tengah, Aiptu Sutrisno memilih menjadi pedang nasi goreng. Menjelang malam selepas magrib ia menjajakan nasi goreng khasnya di depan Ruko Jalan Sultan Agung. Tak ada perasaan malu sedikit pun yang dirasakannya. Hal ini demi biaya pendidikan anak tersayangnya. Prinsipnya adalah asalkan pekerjaan itu halal, maka tidak perlu malu untuk melakukannya.
