4 Pilihan Transportasi yang Aman untuk Keliling Jakarta

Ada banyak cara untuk menikmati Jakarta. Salah satunya, dengan menggunakan transportasi umum. Upaya ini juga sekaligus untuk mengurai kemacetan di Jakarta.
Pada Juni lalu, Jakarta berhasil mendapatkan anugerah terhormat atau 'Honorable Mention' di ajang Sustainable Transport Award 2020. Ini merupakan ajang penghargaan transportasi perkotaan tingkat dunia yang diumumkan di Fortaleza, Brazil.
Bersama dengan Kota Pune di India, Jakarta akan diberikan penghargaan dalam sebuah seremoni saat acara Sustainable Transport Award di Washington, DC pada Januari 2020.
Jakarta dinilai berhasil mengintegrasikan sistem moda transportasi, meningkatkan fasilitas pejalan kaki, hingga menaikkan jumlah penumpang transportasi umum.
“Anugerah Transportasi Berkelanjutan menunjukkan kemauan politik bahwa (pemerintah) kota berkemampuan penuh untuk menempatkan solusi jitu guna memperbaiki lingkungan kota,” kata Aimee Ganthier dari Komite Sustainable Transport Award 2020 yang menganugerahi Honorable Mention kepada Jakarta.
Selama dua tahun kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan, terdapat beberapa moda transportasi yang terintegrasi dan semakin menunjukkan peningkatan kualitasnya.
Berikut empat pilihan transportasi yang bisa dijadikan opsi untuk keliling menikmati Jakarta.
Transjakarta
Pada 2019, jumlah rata-rata penumpang Transjakarta naik dua kali lipat, berkisar 641.000 penumpang per hari. Jumlah armada dalam tiga tahun terakhir juga meningkat, yaitu pada 2017 sebanyak 2.380, 2018 sebanyak 3.017, dan 2019 sebanyak 3.548 bus.
Fasilitas bus Transjakarta kini juga terintegrasi dengan dua moda transportasi lain berbasis rel, yakni MRT di Bundaran HI dan LRT di Jalan Pemuda.
PT Transjakarta tahun depan berencana dapat mengoperasikan 100 armada bus listrik di Jakarta. Hal itu dilakukan salah satunya untuk mengurangi emisi gas buang di Jakarta.
Direktur Utama Transjakarta, Agung Wicaksono, menjelaskan bahwa target pengoperasian 100 armada tersebut merupakan pilot project sebelum semua Bus Transjakarta menjadi bus listrik.
“Di tahun depan kita mulai pilot (project) pelaksanaan oleh operator, paling enggak tahun depan target kita 100 armada,” ucapnya kepada kumparan, Selasa (29/10).
Moda Raya Terpadu (MRT)
Sejak pengoperasiannya diresmikan pada 24 Maret 2019, Moda Raya Terpadu (MRT) menjadi primadona transportasi publik termodern di Jakarta dan satu-satunya di Indonesia. Kereta Ratangga melewati 13 stasiun fase 1, dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia.
Pembangunan MRT fase kedua direncanakan pada 2020 dan ditargetkan selesai empat tahun kemudian. Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pada rute fase kedua terdiri atas tujuh stasiun tambahan yakni Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok dan Kota. Dari tujuh stasiun, bakal dibangun kereta bertingkat.
"Lebih dalam di bawah tanah semua 17-36 meter. Nantinya karakter terowongan, sampe harmoni sejajar, harmoni sampe Glodok bertingkat. Kota sejajar lagi," terangnya.
PT MRT Jakarta menargetkan, jumlah penumpang harian mencapai 100.000 orang pada akhir 2019. Hingga Juli 2019 saja, jumlah rata-rata pengguna MRT Jakarta bisa mencapai 94.824 orang per hari, naik 15,9 persen dari bulan sebelumnya. Ketepatan waktu kedatangan, waktu tempuh, dan waktu berhenti kereta di stasiun MRT mencapai 100 persen dari total 6.159 perjalanan kereta.
Light Rail Transit (LRT)
Lintas Rel Terpadu atau Light Rail Transit (LRT) adalah suatu moda layanan transportasi penumpang yang beroperasi di atas rel ringan. Kendati kecepatan rata-ratanya sekitar 50 kilometer per jam, kereta LRT Jakarta dapat mencapai kecepatan maksimum hingga 90 kilometer per jam.
Kereta LRT Jakarta merupakan buatan Hyundai Rotem dari Korea Selatan yang memiliki kelebihan, yakni menggunakan sistem articulated bogie. Teknologi yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia ini memungkinkan kereta dapat melaju dengan aman dan luwes, mengikuti kontur jalur trek di tikungan tajam.
LRT Jakarta beroperasi pukul 06.00-22.00 WIB pada Senin-Jumat dan 07.00-23.00 WIB pada Sabtu-Minggu.
Jak Lingko
Jak Lingko merupakan sistem transportasi terintegrasi baik rute, prasarana, maupun pembayarannya. Integrasi ini tidak hanya melibatkan antar bus besar, medium, serta kecil dan Transjakarta, tetapi juga transportasi berbasis rel yang dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti MRT dan LRT.
Selain itu sistem Jak Lingko juga mengintegrasikan prasarana dengan PT. KCI dan Railink yang dimiliki PT. KAI. Contoh integrasi ini dapat dilihat di kawasan Dukuh Atas, di mana empat moda transportasi umum terkoneksi secara nyaman melalui pedestrianisasi Jalan Kendal dan trotoar yang lebar.
Pemprov DKI Jakarta menargetkan 10.047 armada armada kecil, sedang, serta besar terintegrasi Jak Lingko dan akan segera diremajakan tahun depan.
“Untuk implementasi pembatasan usia kendaraan angkutan umum sepuluh tahun akan direalisasikan maksimal pada 2020,”ujar Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo.
Dengan memaksimalkan penggunaan transportasi umum, polusi udara serta kemacetan juga berkurang. Terbukti, Jakarta berhasil turun dari peringkat empat menjadi ketujuh di dunia dalam upaya mengurai kemacetan.
