4 Prajurit Zeni Tempur Dikeroyok Warga

14 Februari 2017 16:13 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:18 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
ADVERTISEMENT
Prajurit Yonpur 1/DD tanam cabai di markas (Foto: Irsan Mulyadi/Antara)
zoom-in-whitePerbesar
Prajurit Yonpur 1/DD tanam cabai di markas (Foto: Irsan Mulyadi/Antara)
Empat prajurit Batalyon Zeni Tempur 1/Dhira Dharma terluka akibat dikeroyok warga di areal PTPN 2 di Desa Namo Bintang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
ADVERTISEMENT
Komandan Batalyon Zeni Tempur (Zipur) 1/Dhira Dharma Mayor Czi Rielman Yudha mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Senin (13/2) petang. Empat prajuritnya terluka akibat lemparan batu, disiram air panas, dan dipukul dengan bambu.
Keempat prajurit itu adalah Prada M Fadli yang luka di bagian kepala akibat lemparan batu, Pratu Aminullah yang badannya melepuh akibat disiram air panas, Pratu Marpaung terluka di bagian kepala belakang akibat lemparan batu, serta Pratu Rio yang luka di tangan akibat dipukul dengan bambu.
TNI telah mengamankan dua warga yang diduga bertanggung jawab atas penyerangan prajurit TNI di area PTPN 2 tersebut.
"Mereka sudah diserahkan ke Polrestabes Medan," kata Rielman di Medan, Selasa (14/2), seperti diberitakan Antara.
ADVERTISEMENT
Para prajurit telah mendapatkan perawatan. "Mereka juga sudah menjalani visum di RS Pirngadi Medan. Kini, kondisi mulau membaik," ujar Mayor Rielman.
Ia menjelaskan keberadaan prajurit Batalyon Zipur 1/Dhira Dharma di area tersebut merupakan permintaan dari PTPN 2 untuk membangun parit di sekitar kawasan perkebunan sawitnya.
Permintaan tersebut disahuti karena berdasarkan dokumen yang sah, kawasan itu merupakan area Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 2 hingga tahun 2034.
Dia telah beberapa kali melakukan sosialisasi mengenai pembangunan parit tersebut, termasuk menginformasikan keberadaan HGU di area yang berlaku hingga tahun 2034.
Namun prajurit Batalyon Zipur 1/Dhira Dharma selalu mendapatkan teror dari kelompok tertentu, bahkan pernah dilempari dengan bom molotov.
ADVERTISEMENT
Kelompok tersebut meminta prajurit Batalyon Zipur 1/Dhira Dharma untuk meninggalkan lokasi karena menganggap area itu sebagai lahannya.
"Kami hanya melakukan tugas, tapi kok dapat perlawanan seperti itu," kata Mayor Rielman.