5 Bulan Tak Diangkut, Sampah di Bandung Menggunung hingga 5 Meter
ยทwaktu baca 3 menit

Bau menyengat menyeruak di Jalan Gunung Batu, Kota Bandung, Kamis (13/11). Lalat berterbangan mencari makan di tumpukan sampah yang sudah menggunung setinggi 5 meter itu.
Bau itu mengganggu pengendara dan pejalan kaki yang lewat.
Namun hal berbeda dirasakan Samsul (43). Pria berbaju cokelat itu tampak sedang beristirahat di pinggiran tumpukan sampah.
Lokasi gunungan sampah ini, kata Samsul, merupakan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Gunung Batu Timur. Samsul merupakan petugas kebersihan di TPS tersebut.
Menurutnya, tak jarang juga TPS itu menerima kiriman sampah dari warga yang melintas di jalan.
"Kalau yang lewat-lewat kan, dari mana-mana kan, pasti buang. Terus keresek-keresek," ucap Samsul saat ditemui di lokasi.
"Apalagi kalau malam kan, nggak ada yang nunggu di sininya. Pasti banyak yang membuang sampah," lanjut dia.
Ia baru saja memilah sampah anorganik dari gunungan itu, yang dapat dijual kembali untuk menghasilkan rupiah.
Menurut Samsul, gunungan sampah itu terbentuk karena sudah 5 bulan tak diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
"Sudah 5 bulan enggak diangkut," kata Samsul, Kamis (13/11).
Samsul mengatakan, sampah di jalan ini biasanya rutin diangkut setiap seminggu tiga kali. Semakin hari, frekuensi pengangkutan sampah semakin berkurang.
Saat ini sampah tersebut masih belum diangkut sejak 2 Juni lalu.
"Kalau sekarang, pas ke sininya, jadi seminggu satu kali. Ini juga terakhir diangkut tanggal 2 Juni," ujar Samsul.
Asa Samsul dan Petugas Kebersihan Lainnya
Samsul menyebut, selama ini ia tidak mendapatkan gaji tetap dari mengurus TPS itu. Pendapatannya mengandalkan dari iuran warga setiap pengangkutan sampah perumahan.
"Jadi sistem gajiannya kalau di sini ada yang buang dari roda per bulan Rp 100 ribu," kata Samsul.
"Jadi kalau nggak ada yang buang gitu kan enggak dapat apa-apa," kata dia melanjutkan.
Sementara, hasil pendapatan dari pembayaran warga itu juga masih harus dibagi untuk biaya pengangkutan dan petugas lainnya.
"Dapat dari yang roda-roda itu dapat yang Rp 100.000, Rp 200.000 itu kan dikembalikan lagi. Buat biaya ini pengangkutan, buat supir, buat rokok," ujar Samsul.
Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Samsul dan petugas lainnya memilah sampah yang masih memiliki daya jual.
"Jadi cari tambahannya kan dari gininya (limbah anorganik) kan lumayan, dari limbahnya, cari sampingannya," kata Samsul.
Samsul berharap gunungan sampah ini bisa segera terselesaikan. Menurutnya, dengan diangkutnya sampah oleh DLH, maka ia dapat beraktivitas kembali dan menghasilkan uang.
"Pengennya kan normal kembali lah, biar saya bisa aktivitas lagi, bisa cari limbahnya kayak gini. Bisa menghasilkan uang. Kalau gini kan nggak menghasilkan, enggak ada pemasukan lah," pungkasnya.
