5 Fakta Kampanye Akbar Prabowo-Sandi: GBK Memutih hingga Protes SBY

Kampanye akbar Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) digelar pada Minggu (7/4). Sejak dini hari, massa pendukung pasangan calon 02 itu berbondong-bondong ke SUGBK untuk berpartisipasi, yang dimulai dari salat subuh berjemaah.

Tak hanya Prabowo-Sandi, sederet tokoh, mulai dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Rhoma Irama, hingga Wakil Ketua DPR Fadli Zon ikut menghadiri kampanye tersebut. Bahkan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab juga menyapa massa pendukung melalui video conference dari Makkah.
Dalam rangkaian kampanye itu, kumparan menangkap lima momen yang menjadi perbincangan. Apa saja?
SUGBK memutih
Massa pendukung Prabowo-Sandi kompak mengenakan pakaian serba putih. kumparan yang berada di lokasi menyaksikan tak ada celah di setiap sudut lapangan maupun tribun sejak subuh. Berbagai atribut kampanye dan bendera merah putih juga berkibar di setiap sudut SUGBK.
Prabowo-Sandi yang hadir pukul 04.40 WIB juga ikut menjadi bagian jemaah yang diimami Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Sobri Lubis.
Seusai salat, Prabowo-Sandi terlihat khusyuk berdoa. Di samping mereka, hadir Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Rhoma Irama, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan sejumlah elite parpol pengusung Prabowo-Sandi.
"Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar. Merdeka, merdeka, merdeka," teriak Prabowo kepada massa pendukungnya.
Potret padatnya massa tak hanya di dalam stadion. Di area luar, pendukung Prabowo-Sandi yang kompak menggunakan baju putih juga terlihat menyemut.
SBY protes konsep kampanye Prabowo-Sandi yang tak lazim dan terkesan eksklusif
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut memantau kampanye akbar capres-cawapres yang ia usung dari Singapura. SBY tak bisa berada di tengah-tengah SUGBK lantaran harus mendampingi perawatan istrinya, Ani Yudhoyono, yang sedang berjuang melawan leukimia.
Rupanya, SBY tidak sepakat dengan konsep kampanye akbar itu. SBY yang mendengar rencana kampanye tersebut sejak Sabtu (6/4) sore menilai konsep acara cenderung eksklusif. Padahal, kampanye harusnya terbuka atau lebih inklusif.
"Sore hari ini, Sabtu, tanggal 6 April 2019 saya menerima berita dari tanah air tentang 'set up', 'run down' dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres-cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto-Bapak Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif," tulis SBY dalam surat yang diterima kumparan dari pengurus Partai Demokrat.
"Malam hari ini, saya mendapat kepastian bahwa informasi yang didapat dari pihak lingkaran dalam Bapak Prabowo, berita yang saya dengar itu mengandung kebenaran," imbuhnya.
Dalam surat itu, SBY meminta pengurus Demokrat menyampaikan masukan kepada Prabowo agar kampanye lebih inklusif dan menghindari politik identitas. Namun, SBY tak merinci maksud perkataannya itu.
"Cegah demonstrasi, apalagi 'show of force' identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem," tuturnya.
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan mencoba menjelaskan maksud pernyataan ketua umumnya. Menurut Syarief, surat SBY itu hanya sekadar untuk mengingatkan penyelenggara acara.
"Saya pikir usulan itu bagus untuk mengingatkan, memberikan saran karena selama ini kampanye akbar memang begitu (tidak ekslusif). Jadi mengingatkan kembali," ucap Syarief kepada kumparan.
Kendati demikian, Syarief tak merinci bagian mana yang disebut SBY sebagai eksklusif, tidak lazim, dan cenderung ada politik identitas. Namun, ia juga memastikan menerima surat SBY itu sebelum acara berlangsung.
"Bukan keberatan, tapi saat susunan rundown itu diterima (SBY), supaya diperbaiki lagi dan ternyata mengalami perubahan. Ada revisi. Misal, menyangkut penayangan video Habib Rizieq. Itu kan akhirnya ditempatkan di akhir, tidak di awal, seakan 212. Itu kan bagus," bebernya.
Prabowo berguyon menirukan Jokowi berpidato
Saat berpidato, Prabowo sempat melontarkan sejumlah guyonan kepada massa pendukungnya. Salah satunya saat Ketua Umum Partai Gerindra itu menirukan gaya bicara yang dia sebut 'pemimpin politik'. Kendati tak menyebut nama, namun materi yang ia sampaikan adalah materi kampanye Joko Widodo.
"Kalian mau dengar pemimpin politik Indonesia memberi sambutan?" tanya Prabowo.
"Saudara-saudara sekalian, ekonomi Indonesia baik, pertumbuhan lima persen. Lima persen, ndasmu!" teriak Prabowo disambut riuh pendukungnya. Tampak ikut tertawa para pimpinan parpol dan ulama yang berada di belakang Prabowo.
Ia juga menirukan soal klaim angka kemiskinan yang menurun. Termasuk juga menyinggung soal pembangunan infrastruktur dan tiga kartu sakti.
"Nanti rakyat akan kita bagi-bagi kartu-kartu. Bung, kita butuh pekerjaan bukan kartu. Betul?" pungkas Prabowo.
Berikut videonya:
Sandi kaget dilempari botol di panggung kampanye
Peristiwa cukup mengagetkan dialami Sandi saat akan berpidato dari atas panggung sekitar pukul 06.50 WIB. Sebelum berpidato, Sandi meminta pendukung untuk duduk dengan melantunkan nyanyian.
"Yang di panggung duduk.. Yang di panggung duduk... Yang di panggung duduk.. Prabowo Sandi.. Prabowo-Sandi.. Prabowo-Sandi.." nyanyi Sandi.
Tiba-tiba, botol minuman kesan melayang dari arah peserta kampanye ke arah Sandi. Botol itu tak mengenai Sandi, tapi mendarat di sampingnya dan dekat kumparan berdiri. Sandi langsung menepis lemparan itu dan tak memberi respons.
Usai insiden, anggota laskar FPI dan sejumlah panitia pengamanan langsung mendekati area panggung utama tempat Sandi berdiri. Mereka menanyakan ke seluruh pendukung siapa yang melakukan hal itu. Namun, tak ada dari mereka yang mengaku.
Meski begitu, insiden itu tak mengusik Sandi. Dia tetap melanjutkan nyanyiannya kemudian berpidato.
Saf salat subuh yang bercampur antara perempuan dan laki-laki beredar di media sosial
Jagad media sosial Twitter diramaikan dengan polemik kondisi saf (barisan) dalam salat subuh kampanye akbar yang bercampur antara perempuan dan laki-laki.
Merespons hal ini, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS sekaligus timses paslon 02, Hidayat Nur Wahid, sudah memberikan penjelasan. Hidayat yang saat itu juga menjadi jemaah salat memastikan saf salat sudah diatur oleh panitia.
"Saya tidak lihat persis karena saya ada di depan. Dan semua saf sudah diatur oleh panitia," kata Hidayat kepada kumparan.
Menurutnya, apabila para pendukung sudah mengikuti tempat yang sudah disediakan panitia, hal-hal seperti itu tidak mungkin terjadi.
"Itu kan kejadiannya kemungkinan, ya, orang-orang yang sudah duduk-duduk di kursi itu mereka enggak bisa ke tempat saf. Atau mereka telanjur di situ kemudian di situ sudah penuh, mungkin kondisinya semacam itu," ungkap dia.
"Jadi harusnya jemaah mengikuti aturan panitia kemudian mengikuti apa yang sudah dilakukan, ya, tertiblah gitu. Yang jadi masalah mereka duduk di kursi kemudian penuh dan sudah azan. Padahal kalau sudah di saf enggak gitu," tuturnya.
