5 Hari Krisis Nepal: 51 Orang Tewas, 13 Ribu Napi Kabur, dan 200 Senjata Dijarah

Kepolisian Nepal memberikan keterangan perihal kerusuhan besar pada pekan ini, Jumat (12/9). Jumlah korban jiwa selama sepekan mencapai puluhan orang.
Krisis di Nepal bermula demo menuntut pemberantasan korupsi yang digelar pada Senin (8/9). Tetapi, demo berubah menjadi kerusuhan dan kekerasan setelah pemerintah memblokir 26 platform social media.
Kerusuhan berdarah menyebabkan kekuasaan PM Nepal KP Sharma Oli tumbang. Rumah Oli, kantor kepresidenan serta gedung parlemen di sana dibakar.
Kini demi memulihkan keamanan militer berjaga di berbagai titik ibu kota Kathmandu. Jam malam pun diberlakukan di Nepal.
Saat bersamaan Presiden Nepal Ramchandra Paudel menggelar perundingan dengan kelompok Gen Z dan pemangku kepentingan lainnya, demi menemukan jalan keluar krisis.
Pada Jumat (12/9), militer Nepal mengungkap selama sepekan rusuh sebanyak 100 senjata dijarah massa. Sejumlah foto yang tersebar di media sosial, saat kerusuhan pecah, massa membawa senapan otomatis.
Terpisah, jubir kepolisian Binod Ghimere melaporkan soal seberapa banyak nyawa melayang saat kerusuhan pecah.
“Sejauh ini pada pekan ini sebanyak 51 orang tewas saat demo,” kata Binod seperti dikutip dari AFP.
Binod menambahkan, korban jiwa terdiri dari demonstran dan kepolisian. Ia juga mengakui banyaknya napi kabur saat kerusuhan pecah selama sepekan.
“Lebih dari 13.500 napi kabur, beberapa sudah kembali ditangkap, sebanyak 12.533 masih dalam pelarian,” papar Binod.
Sebanyak sembilan napi, kata Binod, terbunuh saat bentrok dengan aparat keamanan.
“Beberapa buronan mencoba menyeberangi perbatasan yang luas menuju India, di mana beberapa juga sudah ditangkap oleh pasukan perbatasan India,” kata Binod.
