5 Jurnalis Hilang saat Liput Anak Krakatau, BNPB Jelaskan 3 Bahaya Gunung Api

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa hilang kontaknya 5 jurnalis yang tengah meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung, BNPB mengingatkan tingginya risiko keselamatan di kawasan vulkanik aktif, khususnya terkait ancaman gas beracun, material letusan, hingga sebaran abu vulkanik.
Pernyataan tersebut disampaikan Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatinkom) BNPB, Berton Panjaitan, dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk "Waspada Gunung Berapi, Bagaimana Langkah Mitigasinya?" yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9).
Mengawali paparannya, Berton secara khusus menyampaikan empati kepada komunitas pers dan berharap seluruh awak media yang dilaporkan hilang dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.
“BNPB tentu turut memberikan rasa hormat, prihatin, dan juga empati kami terhadap hilang kontaknya wartawan atau jurnalis yang sedang mau mengambil beberapa gambar ataupun data terkait dengan Gunung Anak Krakatau,” ujar Berton.
Berton kemudian membeberkan karakteristik bahaya utama dari gunung api yang wajib diwaspadai oleh siapa pun yang berada di sekitar kawasan rawan bencana (KRB). Ancaman pertama dan yang paling mematikan di sekitar kawah aktif adalah keluarnya gas beracun tanpa indikasi kasat mata.
“Kemudian gas beracun, ini yang yang paling kita takuti sebenarnya. Ini kadang-kadang tidak terlihat atau tidak berasa tapi bisa kita hirup dan kita mati lemas ya, jadi korban. Dengan konsentrasi di atas ambang batas dapat tentu membunuh manusia, hewan yang ada di sekitarnya,” jelasnya.
Bahaya kedua bersumber dari dinamika letusan fisik, mulai dari lontaran batu pijar hingga lahar letusan yang bersumber langsung dari danau kawah.
“Tentu ada beberapa bahaya kenapa gunung ini kita perlu waspadai. Yang pertama adalah lontaran eh batu pijar. Itu tentu ada batu yang namanya batu itu bisa terlontar sampai jauh, bisa besar sekali dan bisa juga sampai kecil-kecil,” kata Berton.
“Yang selanjutnya adalah lahar letusan. Lahar ini terbentuk akibat letusan gunung api yang ada di dalam kawah dan ini sangat berbahaya karena dapat terjadi sewaktu-waktu bersamaan dengan letusan gunung api,” lanjutnya.
Sementara itu, bahaya ketiga yang memiliki daya jangkau paling luas adalah hujan abu vulkanik. Menurut Berton, abu letusan tidak sekadar mengganggu jarak pandang atau melumpuhkan penerbangan, melainkan sangat beracun bagi organ pernapasan karena bentuknya menyerupai partikel kaca mikroskopis.
“Ada juga hujan abu yang kita rasakan di Jakarta dan sekitarnya, ada di Jawa Barat, Banten, dan Lampung bahkan sampai ke Sumatra bagian selatan. Ini juga tentu zat ini sangat berbahaya juga ketika kita hirup masuk paru-paru, ini bisa seperti kaca kecil mikroskopis yang dapat membuat iritasi kulit, bahkan alveoli di dalam paru-paru luka,” pungkas Berton.
