5 Jurnalis Tewas dalam Serangan Israel di RS Nasser Gaza, Reuters dan AP Geram

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menunjukkan peralatan yang digunakan wartawan setelah tewas usai serangan Israel menghantam Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Senin (25/8/2025). Foto: Hatem Khaled/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga menunjukkan peralatan yang digunakan wartawan setelah tewas usai serangan Israel menghantam Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Senin (25/8/2025). Foto: Hatem Khaled/REUTERS

Israel rupanya meluncurkan dua kali serangan dalam waktu berdekatan ke Rumah Sakit Nasser di Gaza pada Senin (25/8). Serangan itu total menewaskan 20 orang dan 5 di antaranya merupakan jurnalis.

Dikutip dari Associated Press (AP), 5 jurnalis yang tewas dalam serangan itu bekerja untuk Reuters (berbasis di Inggris), Associated Press (AS), Al Jazeera (Qatar), dan Middle East Eye (Inggris). Kelima jurnalis itu bekerja sebagai jurnalis kontributor atau freelance.

Hukum perang internasional melarang menyerang jurnalis dan fasilitas medis yang netral.

X post embed

Dalam video yang diambil dari bawah oleh saluran TV Arab, Al Ghad, terlihat para jurnalis sedang menaiki tangga melewati dinding yang rusak akibat serangan pertama. Tak dinyana, bom Israel dengan sengaja menargetkan mereka dalam serangan kedua.

Kelima jurnalis yang tewas adalah Hossam Al-Masri, Mohammad Salama, Mariam Dagga, Moaz Abu Taha, dan Ahmad Abu Aziz.

Media Israel melaporkan pasukan menembakkan dua peluru artileri ke RS Nasser karena menuding ada kamera pengawas Hamas di atap rumah sakit.

Jurnalis dari berbagai media sering melakukan siaran langsung di lokasi itu.

AP dan Reuters Minta Penjelasan

Jurnalis kontributor untuk AP yang jadi korban tewas, Mariam Dagga, sering melaporkan untuk sejumlah media termasuk AP terkait perjuangan para dokter menyelamatkan anak-anak dari kelaparan.

Sementara Reuters mengatakan salah satu jurnalisnya tewas (Hossam Al-Masri) saat sedang mengambil gambar siaran langsung di lantai atas rumah sakit.

Warga menunjukkan peralatan yang digunakan wartawan setelah tewa usai serangan Israel menghantam Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Senin (25/8/2025). Foto: Hatem Khaled/REUTERS

Dalam surat bersama yang ditujukan kepada otoritas Israel, AP dan Reuters menuntut penjelasan.

"Kami sangat marah karena jurnalis independen menjadi korban serangan di rumah sakit, di lokasi yang dilindungi oleh hukum internasional," kata mereka dalam pernyataan bersama, Selasa (26/8).

"Para jurnalis hadir dalam kapasitas profesional mereka, melakukan pekerjaan penting sebagai saksi," lanjutnya.

AP dan Reuters juga menyoroti bahwa Israel melarang jurnalis internasional memasuki Gaza sejak awal serangan, selain kunjungan yang diselenggarakan oleh militer.

Israel Bersikeras Tak Bermaksud Menargetkan Warga Sipil

Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, mengatakan pihaknya tidak menargetkan warga sipil dan telah melakukan penyelidikan internal atas serangan itu.

Dia menuduh Hamas bersembunyi di antara warga sipil, namun tidak menyatakan apakah Israel meyakini ada militan yang ada di sana selama serangan di rumah sakit.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memberikan komentar usai serangan itu.

"Israel sangat menyesalkan kecelakaan tragis yang terjadi hari ini di Rumah Sakit Nasser di Gaza. Israel menghargai kerja keras para jurnalis, staf medis, dan seluruh warga sipil," kata Netanyahu.

Israel Banjir Kutukan

Serangan Israel di Gaza telah menewaskan 189 jurnalis Palestina. Beberapa di antara mereka tewas karena jadi sasaran langsung dan yang lain tewas dalam serangan lainnya. Menurut PBB, lebih dari 1.500 pekerja kesehatan tewas dalam serangan di Gaza.

Warga melihat kondisi serangan Israel yang menghantam Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Senin (25/8/2025). Foto: Hatem Khaled/REUTERS

"Pembunuhan jurnalis di Gaza oleh Israel terus berlanjut, sementara dunia hanya melihat dan gagal bertindak tegas terhadap serangan paling mematikan yang pernah dihadapi pers baru-baru ini," kata direktur regional Committee to Protect Journalist (CPJ), Sara Qudah.

Representasi media internasional di Israel dan Palestina, The Foreign Press Association, mendesak Israel untuk menghentikan praktik kejinya yang menargetkan jurnalis.

Sekjen PBB, Inggris, Prancis, Arab Saudi, dan negara-negara lain juga mengecam dan mengutuk serangan brutal itu. Presiden AS Donald Trump, yang sering merestui agresi Israel, bahkan mengaku tidak mengetahui serangan itu.

"Saya tidak senang. Saya tidak ingin melihatnya," kata Trump.

Trump kemudian mengatakan mungkin akan ada akhir yang konklusif di Gaza dalam beberapa minggu ke depan, tanpa menjelaskan lebih lanjut. Tidak jelas apakah yang dia maksud adalah serangan Israel yang akan datang atau perundingan gencatan senjata.