5 Momen Jokowi 'Marah-marah'

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jokowi di Muktamar ke-30 IDI di Samarinda, Kalimantan Timur (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi di Muktamar ke-30 IDI di Samarinda, Kalimantan Timur (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)

Presiden Joko Widodo belakangan kerap mengungkapkan ekspresi kemarahan di berbagai kesempatan. Bahkan, pilihan kata yang digunakan Jokowi dalam menunjukkan kemarahannya terus menjadi perbincangan.

Jokowi sempat menyampaikan bahwa kesabaran ada batasnya hingga meminta masyarakat berhati-hati dengan politikus sontoloyo.

Berikut momen-momen Jokowi 'marah-marah'.

Presiden Jokowi tinjau fasilitas difabel di Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (1610). (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Jokowi tinjau fasilitas difabel di Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (1610). (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)

1. Sabar Ada Batasnya

Jokowi memang terus dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), terlebih jelang Pilpres 2019 seperti sekarang ini. Jokowi yang biasanya menanggapi dengan santai kini menaikkan nada bicaranya. Dia menyebut kesabaran ada batasnya.

"PKI dibubarkan 1965, 1966, saya lahir 1961. Umur saya baru 4 tahun. Masa ada PKI balita, ampun. Masa ada kejamnya seperti itu, menuduh, memfitnah," tutur Jokowi saat berpidato di acara pembagian sertifikat tanah di Gedung Samarinda Convention Hall, Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (25/10).

"Sabar, sabar. Ya kan sudah sabar. Tapi sabar kan juga ada batasnya. Saya sudah diam terus lho itu. Diam, kok ini enggak berhenti-berhenti. Jangan-jangan dipikir-pikir saya takut," ujar dia.

Jokowi Resmikan Dua Bandara di Samarinda, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi Resmikan Dua Bandara di Samarinda, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)

2. Politik Sontoloyo

Jokowi juga menunjukkan 'amarahnya' saat kebijakan dana kelurahan mulai dimunculkan. Sejumlah pihak langsung mengkritik keras kebijakan ini dan dianggap hanya bagian dari kampanye Pilpres 2019.

Jokowi nampaknya tak sependapat dengan cara politikus mengaitkan kebijakan dana kelurahan ke ranah politik. Jokowi lalu mengingatkan warga agar tak terpengaruh dengan politikus yang melontarkan komentar negatif.

"Itulah kepandaian politikus untuk mempengaruhi masyarakat, hati-hati, banyak politikus baik-baik, tapi banyak juga politikus sontoloyo," kata Jokowi di Lapangan Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10).

Jokowi (kiri) dan Prabowo (kanan) di Monas, Jakarta, Minggu (23/9/2018). (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi (kiri) dan Prabowo (kanan) di Monas, Jakarta, Minggu (23/9/2018). (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

3. Bantah Prabowo soal 2030 Indonesi Bubar

Capres Prabowo Subianto sempat menyatakan Indonesia bisa bubar pada 2030 bila tidak dikelola dengan baik. Hal ini langsung dibantah oleh Jokowi.

Jokowi sangat marah karena para politikus justru menebarkan pesimisme, bukan membangun optimisme.

"Jangan malah berbicara pesimis, 2030 bubar," jelas Presiden dalam pidatonya di acara Konvensi Nasional 2018 kelompok relawan GK Jokowi di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/4).

"Pemimpin itu harus memberikan optimisme kepada rakyatnya, pemimpin itu harus memberikan semangat kepada rakyatmya, meskipun tantangannya berat dan tidak gampang," imbuh dia.

Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan 32 Wali Kota se-Indonesia di Istana Bogor. (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan 32 Wali Kota se-Indonesia di Istana Bogor. (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)

4. Marahi Menteri soal Dokumen Barang Lartas

Jokowi juga tak segan memarahi para menterinya saat ada kebijakan yang dirasa menyulitkan rakyat dan para investor. Hal ini ditunjukkan Jokowi saat mengkritik kebijakan dokumen barang larangan dan atau pembatasan (lartas) yang dinilai rumit.

“Ketemu berapa yang dipotong? 5.000 jadi 2.200. Itu kebanyakan. Itu apa sih? Dipikir Saya enggak tahu itu buat apa? Permainannya apa?” tuturnya di Istana Negara, Rabu (31/1).

“Jangan buat regulasi yang justru membuat industri teriak karena pasokan terhambat. Jangan sampai ada yang tidak detil, tidak ada data. Perangkat Kemendag gede sekali. Kalau ada yang data yang tidak ada, itu kebangetan,” tutur dia.

Menteri Kemenristekdikti Mohammad Nasir (Kiri), Presiden Jokowi (Kedua dari kiri), Menteri PMK Puan Maharani (Kedua dari Kanan), Mensesneg Pratikno (Kanan)  di Istana Negara. (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kemenristekdikti Mohammad Nasir (Kiri), Presiden Jokowi (Kedua dari kiri), Menteri PMK Puan Maharani (Kedua dari Kanan), Mensesneg Pratikno (Kanan) di Istana Negara. (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)

5. Marahi Gubernur yang Buat Investor Ogah Investasi

Jokowi juga sempat jengkel dengan para gubernur dan ketua DPRD yang terlalu gemar membuat aturan yang menyulitkan investor dalam berinvestasi. Kekesalan itu ditunjukkan Jokowi saat pertemuan dengan gubernur dan ketua DPRD se-Indonesia.

"Saya jengkel ini. Alasan nomor satu calon investor balik badan, tidak jadi investasi di Indonesia adalah regulasi. Kita kebanyakan perizinan, aturan, yang ruwet sampai detik ini," ungkap Jokowi di Istana Negara ketika itu di hadapan seluruh gubernur dan ketua DPRD provinsi se-Indonesia, Selasa (23/1).