5 Orang Meninggal karena DBD di Tapteng, Dinkes Sebut Dipicu Banjir

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi nyamuk DBD pada kulit manusia. Foto: AUUSanAKUL/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nyamuk DBD pada kulit manusia. Foto: AUUSanAKUL/Shutterstock

Sebanyak lima orang yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Tapanuli Tengah (Tapteng) meninggal dunia. Hal tersebut berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara pada bulan Januari 2026 hingga Juli 2026.

Pada bulan Januari 2026 hingga Agustus 2026 ditemukan sebanyak 590 kasus DBD terjadi di Tapteng. Dari total kasus tersebut, sebanyak lima orang meninggal dunia, dengan rincian sebagai berikut:

1. Bulan Januari 2026, satu orang meninggal dunia.

2. Bulan Maret 2026, satu orang meninggal dunia.

3. Bulan April 2026, dua orang meninggal dunia.

4. Bulan Juli 2026, satu orang meninggal dunia.

"Total meninggal dunia dari Januari 2026 sampai Agustus 2026 sebanyak lima jiwa," kata, Kabid Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati dalam keterangannya, Senin (14/9).

Sementara itu, Plt. Kadis Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, Lisnawati Panjaitan, mengatakan bahwa bencana banjir di Tapteng menjadi pemicu naiknya kasus DBD di wilayah tersebut. Karena, para warga belum mendapatkan air bersih, sehingga masih menampung air dari hujan.

"Tapteng itu masih sampai saat ini kan bencana banjir masih terus berulang. Dan selama normalisasi sungai itu belum selesai, itu potensi kenaikan ataupun tetapnya angka DBD itu ditemukan masih tetap ada. Karena warga pun belum mendapatkan air bersih, sehingga mereka ketika hujan menampung air tanpa tertutup. Itu kan wadah bagi jentik nyamuk untuk berkembang," kata Lisna.

Lisna menuturkan, lima orang meninggal dunia di antaranya satu orang dewasa, dua remaja dan dua anak-anak. Ia menyebutkan, per September 2026 angka kasus DBD sudah menurun menjadi 15 orang.

Angka turun dilakukan setelah upaya pencegahan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pelatihan Kader Jumantik atau Juru Pemantau Jentik untuk di rumah warga.

"Artinya, kalau kami dari Dinkes selalunya memberikan upaya penanggulangan. Nah, fogging (pengasapan bunuh nyamuk) juga sudah kami lakukan. Fogging lokus, fogging fokus, semua itu kami buat dua siklus. Mudah-mudahan lah ini nanti selesai semua penanganan banjir ini, DBD di Tapteng itu zero," ujar Lisna.

"Turun drastis kita. Karena memang kan di bulan September masih ada, tapi sudah turun drastis, karena kita aktif," sambung Lisna.

Lisna mengatakan, pada tahun lalu kasus DBD di Tapteng lebih rendah daripada tahun ini. Sebab, saat itu Tapteng belum ada bencana banjir sejak November 2025 lalu.

"Kalau tahun lalu pasti jelas lah lebih rendah, karena kan kita belum ada bencana banjir saat itu kan. Tapi, sedangkan dalam kondisi normal saja pun, kita masih ada merawat DBD selama ini di posisi angka sembilan orang. Nah, apalagi lah yang sekarang bencana. Airnya pun semua berjalan. Tapi kalau untuk banyak di setiap kecamatan katanya ada, itu enggak benar. Yang paling banyak itu di lokus (tempat) yang daerah yang terdampak bencana, misalnya di Pandan, Tukka. Tapi, untuk bulan ini sudah menurun jauh," jelas Lisna.

Lisna mengatakan, kasus 590 orang terkena DBD telah sembuh, setelah dilakukan perawatan di rumah sakit. Namun, lima orang meninggal dunia karena pihak keluarga menolak dirawat di rumah sakit.

"Nah, itu memang karena keluarganya tidak mau dirawat, padahal kita sudah turun ke rumahnya melakukan PE (Penyelidikan Epidemiologi), edukasi, kemudian PSN, kemudian edukasi supaya mau dibawa ke rumah sakit. Tapi keluarga justru mau menandatangani surat penolakan tidak dirawat di rumah sakit," imbuh Lisna.

Lisna menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan masyarakat dan melakukan penyuluhan serta melibatkan pihak sekolah untuk melakukan pemeriksaan terhadap penampungan air, terutama di kamar mandi.

Dinkes Tapteng mengimbau agar masyarakat memprioritaskan kebersihan lingkungan sekitarnya. Sebab, bencana bukan hanya banjir tapi juga bencana non alam seperti kasus DBD.

"Jari kami sudah membuat imbauan kepada warga masyarakat Tapteng bahwa saat ini kita bukan hanya bencana banjir dan longsor yang terjadi, namun bencana non alam yaitu adanya kasus DBD," ujar Lisna.

"Diharapkan kepada masyarakat agar seperti memprioritaskan keberhasilan lingkungan, kemudian juga PSN, 3M (Menguras penampungan air, Menutup penampungan air, Mengubur penampungan air), melakukan kegiatan 3M. Kalau demam lebih dari tiga hari, segeralah makan obat paracetamol lalu berkunjung ke Fasilitas Kesehatan terdekat," pungkas Lisna.