63.400 Orang Terdampak Banjir di Semarang, 3 Meninggal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Banjir di Jalan Pantura Kaligawe, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jawa Tengah, masih belum surut hingga Sabtu (25/10/2025). Foto: Dok.  Polsek Genuk
zoom-in-whitePerbesar
Banjir di Jalan Pantura Kaligawe, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jawa Tengah, masih belum surut hingga Sabtu (25/10/2025). Foto: Dok. Polsek Genuk

Sejumlah titik di Kota Semarang masih terendam banjir pada Rabu (29/10) pagi imbas hujan deras yang mengguyur beberapa hari ini.

Berdasarkan data dari BPBD Kota Semarang, banjir terjadi di 24 kelurahan di 5 kecamatan. Yakni Kelurahan Panggung Lor, Panggul Kidul, Bulu Lor, Tanjung Emas, Bandarharjo, Purwosari dan Dadap Sari di Kecamatan Semarang Utara.

Di Kecamatan Gayamsari, banjir merendam kelurahan Siwalan, Tambakrejo, Kaligawe, dan Sawah Besar dengan ketinggian 10 hingga 80 cm.

Kemudian di Kecamatan Genuk, banjir merendam Kelurahan Genuksari, Gebangsari, Banjardowo, Bangetayu Kulon, Terboyo Wetan, Trimulyo, Muktiharjo Lor dan Trimulyo dengan ketinggian 10 hingga 80 cm.

Lalu di Kecamatan Pedurungan banjir terjadi di Kelurahan Tlogosari Kulon, Muktiharjo Kidul dan Tlogomulyo dengan ketinggian antara 10 hingga 50 cm.

Sejumlah warga menumpang mobil bak terbuka untuk dapat menembus banjir yang masih menggenangii jalur utama pantura Semarang-Demak di Jalan Kaligawe Raya, Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/10/2025). Foto: Makna Zaezar/ANTARA FOTO

Terakhir, banjir juga merendam Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur dengan ketinggian 15-45 cm.

"Ada 63.400 jiwa yang terdampak banjr atau 21.125 KK," ujar Kepala BPBD Kota Semarang Endro P Martanto dalam keterangannya, Rabu (29/10).

Sementara korban meninggal dunia tercatat 3 orang. Namun masih ada satu warga yang dinyatakan hilang usai terseret arus.

"Tiga orang meninggal," sebut dia.

Endro menegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus melakukan berbagai upaya penanganan. Termasuk memastikan suplai logistik bagi warga terdampak banjir terus tersedia dan melakukan rekayasa cuaca.

"Logistik tetap kami penuhi dari Posko Kebencanaan Kota Semarang. Lalu ada posko pengungsian di Kelurahan Muktiharko Kidul dengan 22 jiwa dan di posko pengungsian USM ada 17 jiwa," sebut dia.

Ia menilai, meski upaya penanganan dilakukan semaksimal mungkin, tetapi kondisi cuaca ekstrem tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.

"Bagaimana pun, alam tak bisa dilawan. Yang bisa kami lakukan adalah meminimalkan dampaknya dan memastikan masyarakat tetap aman," kata Endro.