640 Warga Afghanistan Berdesakan dalam Pesawat Kargo AS untuk Keluar dari Kabul
·waktu baca 2 menit

Lebih dari 600 warga Afghanistan yang terdiri dari perempuan, lelaki, dan anak-anak, berdesakan dalam pesawat militer Amerika Serikat yang berangkat meninggalkan Ibu Kota Kabul.
Dikutip dari Reuters, warga sipil Afghanistan itu berkumpul di dalam pesawat kargo C-17 pada Minggu (15/8/2021). Foto yang menunjukkan peristiwa tersebut beredar luas di jejaring sosial.
Seorang pejabat AS mengatakan, sekitar 640 orang berbondong-bondong memasuki pesawat, bersamaan dengan ribuan warga menyerbu Bandara Internasional Hamid Karzai.
“Jumlah penumpang yang jauh lebih tinggi dari biasanya merupakan hasil dari dinamisnya situasi keamanan, yang memaksa pengambilan keputusan cepat oleh awak kabin, secara penuh memastikan penumpang-penumpang ini dibawa keluar Afghanistan dengan cepat,” kata dia.
Menurut pabrik pesawat kargo tersebut, Boeing, armada C-17 Globemaster III memiliki kapasitas hingga 134 penumpang. Dengan demikian, jika mengangkut 640 orang berarti pesawat itu overload.
Menurut situs berita keamanan dan pertahanan AS Defense One, para penumpang memasuki pesawat lewat ramp yang terbuka sebagian, tepat sebelum pesawat bertolak menuju Qatar.
Pada penerbangan komersial sebelumnya, Kabul ke Doha, Qatar, bisa ditempuh minimal 9 jam dengan satu kali pemberhentian di Dubai.
Bagi sejumlah pengamat, foto ratusan warga di dalam C-17 itu merupakan simbol harapan dan keberanian para kru evakuasi.
Tetapi bagi pihak lain, foto ini menjadi pengingat atas kacaunya upaya evakuasi dari Afghanistan usai AS memutuskan untuk menarik seluruh pasukannya dari negara tersebut.
"Kita perlu lebih banyak lagi pesawat sejenis itu," kata Direktur Eksekutif Human Rights Watch, Kenneth Roth.
Situasi di Afghanistan semakin bergejolak setelah Taliban menguasai ibu kota Kabul dan istana kepresidenan pada Minggu (15/8).
Selepas pengambilalihan kekuasaan ini, ribuan warga Afghanistan berbondong-bondong menyerbu bandara untuk melarikan diri dari negaranya. Mereka khawatir Taliban yang berkuasa akan menerapkan hukum yang keras seperti saat mereka berkuasa pada 1996-2001.
