891 Warga Banjar Kalsel Mengalami ISPA Imbas Asap Karhutla

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Polisi berupaya memadamkan kebaran hutan dan lahan (karhutla) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (3/9/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Polisi berupaya memadamkan kebaran hutan dan lahan (karhutla) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (3/9/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap pekat dalam beberapa bulan terakhir semakin berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, sebanyak 891 warga tercatat mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026.

Salah seorang warga yang mengalami ISPA, Wahyu, mengaku kabut asap yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir berdampak terhadap kesehatannya dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Yang namanya kita pegawai swasta, meski kabut parah kita tetap wajib turun ke kantor. Karena itu saya terpapar ISPA,” ucap Wahyu, salah satu pasien ISPA di Puskesmas Gambut, Rabu (14/10/2026).

Ia berharap pemerintah lebih serius dalam menanggulangi karhutla karena bencana tersebut merugikan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.

Sementara itu, pengelola layanan ISPA di Puskesmas Gambut, Sri Julianti, mengatakan setiap hari ada sekitar 10 hingga 15 warga yang datang untuk memeriksakan diri karena mengalami gejala ISPA.

“Untuk data yang kami himpun sejak bulan Agustus hingga pertengahan Oktober ini, total warga yang terpapar ISPA sebanyak 891, di mana kebanyakan remaja dan lansia,” katanya.

Sri mengatakan, pasien dengan kondisi ISPA berat akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Biasanya yang masih balita, dengan gejala batuk, demam, hingga sesak napas. Biasanya kita lakukan penanganan, namun jika sangat parah kita rujuk ke rumah sakit,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura, Arif Rahman, mengatakan saat ini belum ada layanan khusus atau pengobatan gratis yang secara khusus diberikan kepada penderita ISPA akibat kabut asap.

Namun, warga yang mengalami ISPA dapat memanfaatkan BPJS Kesehatan, baik melalui program pemerintah maupun kepesertaan mandiri, untuk mendapatkan layanan pengobatan.

“Tidak ada sih kebijakan itu. Namun, kebanyakan mereka menggunakan BPJS untuk berobat,” ungkapnya.