904 Orang Berpartisipasi di Aksi Borong 15 Ton Singkong Petani Gunungkidul
ยทwaktu baca 3 menit

Sebanyak 904 orang berpartisipasi dalam program jasa titip (jastip) borong singkong petani Gunungkidul yang digagas Masjid Nurul 'Ashri di Deresan, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, DIY.
Petani singkong di Gunungkidul sedang kesulitan karena panennya hanya dihargai Rp 500 per kilogram oleh tengkulak.
Melalui program jasa titip (jastip) Masjid Nurul 'Ashri, petani mendapat harga yang layak dan menguntungkan, yakni Rp 2 ribu per kilogram.
"Ada 704 (orang/jemaah) dari Nurul Ashri dan lebih dari 200 (orang) dari Baznas (yang berpartisipasi)," kata perwakilan divisi program Masjid Nurul 'Ashri Sunyoto, Kamis (14/8).
Pada periode ini, Masjid Nurul 'Ashri memborong 15 ton singkong dari petani. Mayoritas orang atau jemaah yang jastip meminta bantuan masjid untuk sekalian disalurkan atau disedekahkan.
"2,4 ton diambil (pemesan), lalu 9,6 ton sedekah, 3 ton (pemesan melalui) Baznas Kota Yogyakarta," katanya.
Sunyoto mengatakan sebanyak 12 ton rencananya akan mulai disalurkan Jumat besok. Sementara 3 ton akan disalurkan pada 20 Agustus. 9,6 ton yang disedekahkan akan dikirim ke masjid, ponpes, hingga panti asuhan.
"Masjid, Panti Asuhan, Pondok pesantren, komunitas lokal, masyarakat umum di Yogya dan sekitarnya," katanya.
Sunyoto mengatakan masjid berencana akan kembali membuka jastip singkong periode kedua. "Direncanakan pekan depan," katanya.
Bangkit Jastip 5 Kg
Salah satu yang ikut jastip ini adalah Bangkit Panuntunari. Pria berusia 26 tahun ini jemaah juga relawan di Masjid Nurul 'Ashri. Dia jastip 5 kilogram singkong.
"Jadi, kemarin melihat berita yang telah diliput oleh Nurul 'Ashri bahwa di daerah Gunungkidul itu terjadi anjloknya harga singkong hingga Rp 500 per kilogram," kata Bangkit ditemui di Masjid Nurul 'Ashri, Senin (11/8).
"Dari sosial media tersebut, ternyata yang respons cukup banyak. Nah, saya berpikir, banyaknya yang di sosial media ini kan dari orang-orang yang sedikit dan dikumpulkan jadi banyak, kenapa saya tidak ikut andil juga? Meskipun sedikit, mungkin bisa membantu," tuturnya.
Miftah Jastip 15 Kg
Jemaah lain, Miftah Al Risqa (25 tahun) turut program jastip ini. Mahasiswi berkacamata ini memesan 15 kilogram singkong. Sama seperti Bangkit, rencananya singkong itu juga akan dibagikan ke tetangga.
Dia sudah sejak semester 1 kuliah menjadi jemaah di Masjid Nurul 'Ashri atau tahun 2018 silam.
"Kita kasihan sama petaninya dan tentu pengin membantu para petani," jelasnya.
Masjid membeli singkong petani yang anjlok dengan harga yang layak. Namun, bagi Miftah harga tersebut tetap lebih murah dibanding ketika dia membeli singkong matang seperti biasanya.
"Iya (harga anjlok Rp 500 per kilo) enggak masuk logika, kan. Karena setahuku kalau nanam singkong tuh bisa 6 sampai 8 bulan. Masak dihargai Rp 500. Apakah itu cukup untuk pemenuhan kebutuhan mereka (petani). Apakah balik modal," jelasnya.
Miftah mengatakan ini bukan kali perdana dia ikut program jastip. Sebelumnya dia beberapa kali ikut program jastip sayur petani Magelang.
"Semangka juga pernah, susu juga," terangnya.
