Abu Vulkanik Anak Krakatau: Sebaran, Dampak, hingga Manfaatnya bagi Tanah

Citra satelit yang dibagikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak lagi masuk ke wilayah Jakarta per Senin (7/9) pukul 21.00 WIB.
BMKG menyebut abu vulkanik terpantau bergerak menjauhi puncak Gunung Anak Krakatau.
Sebaran terjadi pada lapisan rendah atau dari permukaan hingga 4,57 kilometer. Sebarannya bergerak ke selatan-barat daya, mencakup sebagian Banten, Samudera Hindia di sebelah barat laut dan sekitarnya.
Pada ketinggian ini, sebaran abu berpotensi memengaruhi kualitas dan jarak pandang di wilayah terdampak.
BMKG juga menyampaikan perkiraan sebaran ke depan. Intensitas abu vulkanik diperkirakan tidak terdapat perubahan signifikan atau No Change (NC) dibandingkan pengamatan sebelumnya.
Status NC menunjukkan belum ada perubahan signifikan pada luas maupun intensitas abu dibanding periode sebelumnya.
Sebaran abu vulkanik diperkirakan mencapai ketinggian 15 ribu kaki ke arah barat daya dengan kecepatan ± 18 km/jam. Wilayah potensi terdampak yakni Banten bagian barat, Lampung bagian selatan, Samudera Hindia di sebelah barat daya Lampung dan Banten.
Bandara Soetta Kembali Beroperasi
Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) kembali beroperasi hari ini, Selasa (8/9).
Sebelumnya, bandara terbesar dan tersibuk di Indonesia ini dihentikan sementara operasionalnya menyusul dampak sebaran abu vulkanik.
Kepastian ini disampaikan oleh Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama dalam unggahan resminya di media sosial pada Selasa (8/9) pukul 01.00 WIB.
"Kami informasikan bahwa tiga bandar udara terdampak telah kembali beroperasi dan kegiatan penerbangan dapat dilaksanakan kembali sesuai dengan kondisi operasional dan ketentuan yang berlaku," demikian keterangan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama.
Selain Bandara Soetta, ada dua bandara lain yang kembali beroperasi hari ini, yaitu Halim Perdanakusuma Jakarta dan Husein Sastranegara di Bandung.
Bandara Pondok Cabe dan Bandara Budiarto di Tangerang juga kembali beroperasi pada pukul 02.25 WIB.
Jakarta Masih Terapkan PJJ
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi satuan pendidikan di Jakarta hingga Selasa (8/9). Kebijakan itu diambil karena masih ada wilayah di Jakarta yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan keputusan memperpanjang PJJ diambil usai berdiskusi dengan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
"Tadi saya sudah berdiskusi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan sekarang ini sebenarnya abu vulkaniknya sudah mengalami penurunan yang luar biasa. Tetapi di beberapa daerah masih ada, dan kami masih memerlukan waktu satu hari untuk memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ ini sampai dengan besok," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (7/9).
Pramono mengatakan kebijakan tersebut akan ditindaklanjuti melalui Surat Edaran (SE) Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
Pemprov DKI Jakarta juga melanjutkan penanganan sebaran abu vulkanik melalui penyemprotan water mist. Penanganan tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah perangkat daerah, termasuk Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Satpol PP.
"Yang juga tidak kalah pentingnya adalah bekerja sama antara Damkar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan kemudian juga dengan Satpol PP dan sebagainya untuk yang pertama, water mist itu terus kita lakukan sampai dengan besok," jelasnya.
Selain itu, Pramono meminta gedung-gedung yang memiliki fasilitas water mist turut melakukan penyemprotan untuk membantu mengendalikan abu vulkanik di Jakarta.
Erupsi Bisa Terjadi Sewaktu-waktu
Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) saat ini masih tinggi ditandai dengan terekamnya gempa-gempa yang berasosiasi aktivitas vulkanik GAK.
"Hal ini menunjukkan bahwa erupsi dapat kembali terjadi sewaktu-waktu," kata Badan Geologi, Senin (7/9).
Badan Geologi menegaskan, pihaknya terus melakukan pemantauan intensif melalui Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau yang berada di Pasauran, Banten dan Kalianda, Lampung.
"Seluruh data hasil pemantauan dianalisis dan dievaluasi oleh para ahli gunung api di Badan Geologi," katanya.
Sejak 2 Juli 2026, status Gunung Anak Krakatau dinaikkan menjadi Level III (Siaga) akibat peningkatan aktivitas letusan.
GAK yang berlokasi di Selat Sunda itu lalu mengalami erupsi terus-menerus pada Jumat, 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB. Setelah itu aktivitas GAK kembali ke pola erupsi Strombolian.
BMKG Siapkan Modifikasi Cuaca
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggeser operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menangani dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Operasi yang sebelumnya disiapkan dari Pondok Cabe akan dialihkan ke Semarang dan Kertajati, Jawa Barat.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan pemindahan lokasi operasi dilakukan karena sejumlah bandara masih terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
"Kalau yang hari ini, modifikasi cuacanya itu untuk mengurangi kepekatan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau ya. Jadi ini kita di Posko Pondok Cabe enggak bisa terbang karena bandara closed," kata Seto usai Rapat Koordinasi terkait penanggulangan dan penanganan Karhutla 2026 di Graha Marini, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (7/9).
Seto mengatakan pesawat untuk operasi modifikasi cuaca kemudian didatangkan dari Kalimantan ke Semarang. Sementara itu, BMKG juga menunggu kondisi Bandara Kertajati agar dapat digunakan sebagai lokasi operasi.
"Kita geser, kita datangkan pesawat tadi Pak Kepala BNPB dari Kalimantan kita datangkan pesawat ke Semarang ya, nanti sambil menunggu Kertajati juga kita akan operasi di sana," ujarnya.
Menurut Seto, operasi modifikasi cuaca tersebut dilakukan untuk membantu meluruhkan abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah. BMKG menyiapkan dua metode, bergantung pada kondisi awan di wilayah sasaran.
Jika tidak terdapat awan, pesawat akan membawa bahan penyemaian atmosfer berupa air yang dicampur surfaktan. Campuran tersebut diharapkan dapat mengikat partikel abu vulkanik sehingga turun ke permukaan.
Sementara apabila awan mulai tumbuh, metode yang digunakan akan berbeda. BMKG akan menggunakan air yang dicampur bahan semihigroskopis untuk membantu mengaktivasi awan menjadi hujan.
"Nah nanti kalau sudah ada awan tumbuh, bahannya kita ganti menjadi air tapi kita campur dengan bahan semihigroskopis," katanya.
Seto berharap dua metode tersebut dapat membantu mengurangi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam waktu satu hingga dua hari.
"Dia akan mengaktivasi awan menjadi hujan. Dengan adanya dua metode ini, harapannya dalam satu dua hari ke depan ini persoalan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau bisa kita selesaikan dengan catatan tidak ada letusan-letusan baru ya yang menyemburkan debu-debu vulkanik yang baru," ujarnya.
Abu Vulkanik Bikin Tanah Subur
Di balik dampak erupsi, material vulkanik ternyata menyimpan potensi bagi kehidupan masyarakat dalam jangka panjang, salah satunya adalah membentuk tanah yang subur untuk pertanian.
Kendati begitu, abu vulkanik tidak serta-merta membuat tanah menjadi subur. Material hasil erupsi membutuhkan proses pelapukan dalam waktu yang panjang sebelum mineral di dalamnya berubah menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Mahfud Arifin, Ir., M.S., menjelaskan bahwa endapan material erupsi gunung api akan mengalami pelapukan seiring waktu. Proses tersebut kemudian melepaskan berbagai mineral yang dibutuhkan tanaman.
"Mineral yang terkandung (dalam letusan gunung api) akan melapuk dan mengeluarkan berbagai nutrisi yang subur bagi kebutuhan tanaman," ungkap Prof. Mahfud, dikutip dari situs resmi Unpad.
Proses ini dipelajari Prof. Mahfud dari fenomena erupsi Krakatau pada 1883 silam. Sekitar satu abad kemudian, tepatnya pada 1983, ia bersama tim ahli tanah dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian terhadap struktur tanah di kawasan yang sebelumnya tertimbun material erupsi. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa material erupsi Krakatau telah membentuk lapisan tanah subur dengan ketebalan sekitar 25 sentimeter.
Salah satu cirinya terlihat dari warna tanah yang berubah menjadi hitam. Warna tersebut menandakan adanya kandungan nutrisi yang dilepaskan melalui proses pelapukan mineral primer. Mineral seperti kalsium, magnesium, natrium, hingga kalium menjadi sejumlah unsur yang dibutuhkan tanaman.
Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa pembentukan tanah subur dari endapan material vulkanik membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Untuk menghasilkan lapisan tanah hitam dan subur setebal 25 sentimeter di kawasan Krakatau, proses pelapukan berlangsung hingga sekitar 100 tahun.
"Diperkirakan dalam waktu 100 tahun, daerah erupsi Gunung Semeru kemudian bisa menjadi daerah yang sangat subur, dengan tanah hitam yang tebal dan subur untuk tanaman pertanian," kata Prof. Mahfud.
Meski kesuburan tanah membutuhkan waktu panjang, material hasil erupsi tetap bisa memberikan manfaat dalam jangka lebih pendek. Endapan material vulkanik kerap ditambang dan dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa keberadaan gunung api memiliki kaitan erat dengan aktivitas masyarakat di Indonesia. Wilayah di sekitar lereng gunung api bahkan kerap menjadi kawasan permukiman yang padat.
"Walaupun sering meletus, masyarakat selalu merapat karena tanahnya subur untuk pengembangan pertanian," ujar Prof. Mahfud.
