Ada Lulusan Al-Azhar Kairo Enggak Bisa Ngaji, Disuruh Khotbah Enggak Mau

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kawasan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kawasan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Foto: Shutterstock

Bagi sebagian orang tua yang ingin mengirim anaknya untuk belajar Al-quran atau ilmu agama lebih dalam, Universitas Al-Azhar di Mesir menjadi salah satu tujuan favorit. Namun kenyataannya saat ini tak seindah bayangan mereka.

Mahasiswa S3 Universitas Al-Azhar Kairo, M. Nuruddin, mengungkap saat ini Al Azhar sudah tidak kondusif. Mahasiswa Indonesia di sana jumlahnya membeludak.

Nuruddin, yang mengambil jurusan Akidah Filsafat, ini menyebut, bahkan cetakan atau lulusan Al Azhar kini tak serta merta langsung fasih dalam membaca Al-quran.

"Ini excess-nya dari pembeludakan yang tidak terkontrol. Ini sekarang muncul stigma-stigma negatif terkait alumni al-Azhar, ada orang-orang lulusan al-Azhar, tapi katanya bacaan quran aja gak fasih. Disuruh ceramah gak mau, disuruh jadi khatib Jumat menolak, pura-pura tawadu (rendah hati)," kata Nuruddin di podcast Diptalk yang tayang di Youtube, kumparan, Rabu (19/6).

"Padahal emang gak bisa, iya kan suka ada yang begitu, berbahaya nih bro," tegasnya.

video youtube embed

Menurutnya, ada faktor langsung yang berujung dari pembeludakan mahasiswa. Yakni pembinaan tak maksimal sehingga lulusannya tak kompeten.

"Itu karena tidak adanya pembinaan, tidak adanya penyeleksian yang ketat," ujar dia.

Seleksi yang tak ketat ini juga jadi persoalan. Tiap tahunnya ada sekitar 1.000-1.500 mahasiswa Indonesia ke Al-Azhar. Dia menduga ada oknum yang sengaja mengambil untung dari sistem penerimaan mahasiswa Al-Azhar ini.

"Orang yang tidak bisa baca Al-quran itu ada di sana sekarang. Ya itu hasil dari mohon maaf ya saya harus katakan, kelakuan para oknum-oknum itu," tutur dia.

"Jadi orang-orang yang tidak kompeten diberangkatkan ke sana, asalkan mereka dapat cuan," tutupnya.

Diptalk bersama Mohammad Nurudin. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan