Afrika, Benua yang Belum Terdeteksi Penyebaran Virus Corona

Penyebaran virus corona atau novel coronavirus 2019 (2019-nCoV) terus meluas setiap harinya. Virus yang telah menewaskan 259 orang di China ini telah menyebar ke sejumlah negara di Asia, Amerika, hingga Eropa. Australia tak luput dari serangan virus ini.
Hanya tinggal Afrika, satu-satunya benua yang belum terdeteksi adanya penyebaran virus mematikan ini. Negara-negara di Afrika pun tengah berjuang agar virus corona tak menyebar dengan cepat ke benua hitam ini.
Dilansir AFP, Sabtu (1/2), para pejabat kesehatan di Afrika mengatakan, sejumlah negara Afrika tak dilengkapi secara baik langkah-langkah penanganan virus corona.
Sementara beberapa negara lainnya telah menjalankan upaya pemeriksaan penumpang di bandara dan menangguhkan visa bagi warga China.
Seperti Mesir, Maroko, Ethiopia, Kenya, Afrika Selatan, Rwanda, dan Mauritius telah meningkatkan pengawasan terhadap pendatang dari China karena memiliki hubungan perdagangan dengan negeri tirai bambu itu.
Meskipun Afrika adalah benua yang belum mengonfirmasi kasus virus corona, namun menurut Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Benua Afrika, John Nkengasong, beberapa negara seperti Ethiopia, Kenya, Angola, Botswana, dan Pantai Gading, diduga telah mengisyaratkan kemungkinan infeksi.
"Sangat mungkin bahwa ada kasus yang terjadi di benua (Afrika) yang belum diakui. Ketegangan ini besar. Saya belum melihat wabah yang berkembang pesat seperti yang kita hadapi," kata Nkengasong.
Sayangnya mengonfirmasikan kasus virus corona di Afrika tak secepat di benua lain. Upaya ini membutuhkan waktu lama karena otoritas kesehatan yang kurang memiliki keahlian. Selain itu, harus mengirim sampel ke laboratorium di negara-negara yang lebih maju seperti Afrika Selatan.
Sementara itu, Direktur Pusat Kebijakan Kesehatan Global dari Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington, J. Stephen Morrison, mengatakan, virus yang berasal dari Wuhan, China, ini sangat berisiko jika mencapai negara-negara tertentu di Afrika.
Khususnya bagi Liberia, Sierra Leone, dan Guinea yang pernah menghadapi krisis ebola pada 2014-2016. Pada saat itu, krisis ebola menewaskan 11.300 orang.
Dia memperingatkan virus corona bisa menyebabkan 'pandemik global' di Afrika seperti saat ebola.
Pemeriksaan di Bandara
Lembaga Kesehatan Liberia menyebut penyebaran virus corona sebagai 'bencana'. Kepala Lembaga Kesehatan Liberia, Mosoka Fallah, mengatakan, pemerintah telah memberlakukan pemeriksaan pendatang di bandara-bandara.
"Langkah-langkah harus diambil secepat mungkin untuk mencegahnya masuk ke sini," katanya.
Pemeriksaan pendatang juga diberlakukan di Bandara Internasional Blaise Diagne, Senegal. Petugas kesehatan mengecek pendatang dengan kamera termal kecil sebelum pemeriksaan paspor.
"Tanda pertama dari penyakit menular ini adalah demam," kata Barnabe Gning, yang bertanggung jawab atas kontrol di bandara negara Afrika Barat itu.
Dokter yang sebelumnya membantu pencegahan ebola itu mengatakan, orotitas bandara telah memasang sistem keamanan pencegahan virus corona mulai akhir pekan lalu.
Menurutnya, pemerintah telah melakukan kebijakan yang cepat dan tepat. Terlebih pemerintah Senegal telah mengadakan pelatihan penanganan wabah penyakit pada November 2019 lalu.
Meski demikian, Gning mengingatkan bahwa penggunaan kamera termal tidak cukup.
Otoritas Afrika Selatan juga terus memeriksa suhu penumpang di bandara dan telah menyiapkan 11 rumah sakit yang akan menangani keadaan darurat jika muncul virus yang telah menewaskan 159 orang di China itu.
Diimbau Menghindari Toko China
Beberapa negara di Afrika juga telah memberlakukan larangan bepergian untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus corona.
Kekhawatiran terhadap penyebaran virus corona merebak di Nigeria sejak awal pekan ini. Pihak berwenang bahkan menutup supermarket China di ibu kota Abuja. Namun upaya ini untuk memantau produk makanan buatan China yang sudah kadaluarsa.
Kekhawatiran serupa juga muncul di Botswana. Bahkan, warga dilarang untuk berbelanja di toko-toko China
"Hal pertama adalah menghindari pergi ke toko-toko Cina sebanyak mungkin," kata Mqondisi Dube, seorang warga di ibu kota Gabarone.
Hoaks Obat Virus Corona
Sayangnya kekhawatiran virus corona dimanfaatkan segelintir orang untuk mendapat keuntungan. Warga di Cape Verde termakan hoaks agar segera membeli tanaman adas/fennel.
Beredar kabar tanaman itu dapat digunakan sebagai obat mencegah dan menyembuhkan virus corona. Ternyata berita itu palsu.
Tanaman adas memang biasa digunakan untuk obat dan teh herbal. Bagian yang dimanfaatkan biasanya adalah bijinya. Namun hingga kini belum ada informasi yang menyebut tanaman ini dapat menyembuhkan virus corona.
Pemerintah Cape Verde pun tengah menyelidiki hoaks obat virus yang menyebabkan lebih dari 11.000 orang di dunia terpapar, dan meminta warga untuk tetap tenang, serta menjaga kesehatan.
Pendatang Dimbau Tak Keluar Rumah
Pemerintah Nigeria mendesak siapa pun yang datang dari China untuk mengisolasi diri selama setidaknya dua minggu, walau tidak sakit.
Sementara Kedutaan China di Mauritania juga meminta warganya yang baru tiba di negara Afrika Barat untuk tetap di dalam ruangan selama dua minggu selama inkubasi virus corona.
Selain itu, Mozambik menjadi salah satu negara yang memberlakukan penangguhan visa bagi warga China. Pemerintah Mozambik juga melarang warganya untuk bepergian ke China.
