Afsel Umumkan Banjir Bandang di Durban Jadi Bencana Nasional
ยทwaktu baca 2 menit

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengumumkan banjir bandang yang melanda Kota Durban menjadi bencana nasional pada Senin (18/4). Banjir itu telah menewaskan ratusan orang.
Tercatat 443 orang dilaporkan tewas. Kemudian 48 warga masih dinyatakan hilang. Selain itu, beberapa daerah luluh lantak dan tak lagi dapat diakses termasuk 16 sekolah.
Ramaphosa memperingatkan, pembangunan kembali layanan dasar pun akan memakan waktu.
"Ini adalah bencana kemanusiaan yang membutuhkan upaya bantuan besar-besaran dan mendesak," kata Ramaphosa dikutip dari AFP, Selasa (19/4).
"Pelabuhan Durban -- yang merupakan salah satu terminal pengiriman terbesar dan tersibuk di benua itu dan yang vital bagi perekonomian negara kita -- telah sangat terpengaruh," tambah dia.
Penerapan status bencana nasional ini sama seperti mreka memerangi pandemi COVID-19. Keputusan tersebut membuka sumber daya tambahan untuk membantu pembangunan ulang.
Masyarakat mengkhawatirkan kemungkinan korupsi. Sebab, dugaan tersebut turut menyelimuti upaya Afsel ketika mengatasi COVID-19.
Ramaphosa kemudian menyiasati kerisauan itu. Ia mengatakan, pemerintah akan membentuk badan pengawasan khusus.
Tim tersebut akan mencakup jenderal, kelompok bisnis dan agama, serta asosiasi profesional insinyur dan akuntan.
Militer Afsel juga telah mengerahkan 10.000 tentara. Para serdadu memulihkan listrik dan mencari korban yang hilang. Kendati demikian, harapan akan keselamatan mereka kian menyusut.
Ratusan mayat telah ditemukan sejauh ini. Bersamaan dengan itu, kondisi cuaca semakin mempersulit pemakaman. Jalanan hancur dan kuburan tergenang air.
"Ada begitu banyak yang meninggal, dan kamar mayat tidak bisa menunjang karena terendam banjir," kata manajer umum layanan pemakaman di perusahaan asuransi Avbob, Pieter van der Westhuizen.
Sebagian besar daerah eThekwini belum memiliki pasokan listrik maupun air. Pemerintah setempat memperkirakan 80 persen saluran air di kota itu rusak.
Tanker air sedang dikerahkan di seluruh wilayah. Tetapi, pihak berwenang masih berjuang untuk mengisinya. Para petugas darurat lantas tergabung dalam satuan raksasa. Tukang ledeng hingga tukang listrik berjerih mengembalikan kehidupan normal
Sementara itu, para tunawisma membantu membersihkan jalan dari lumpur. Mereka berupaya memberi jalur bagi tanker air untuk lewat.
Sebagian warga mengeluh, tanker air kerap datang tanpa pemberitahuan. Sebagian lainnya tak dapat mengantre dengan disiplin.
"Ada juga banyak dorongan di sana. Orang-orang putus asa -- mereka tidak peduli dengan orang berikutnya," ungkap ibu dua anak berusia 30 tahun, Philakahle Khumalo.
