Ahli Bahasa soal Kata 'Maneh' yang Jadi Polemik Ridwan Kamil dan Guru di Cirebon

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil usai hadiri Acara Hakordia Tahun 2022, Jumat (12/9/2022). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil usai hadiri Acara Hakordia Tahun 2022, Jumat (12/9/2022). Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Muhammad Sabil seorang guru di Cirebon dipecat dari sekolah usai mengomentari unggahan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil. Dalam unggahannya, Sabil menyebut Ridwan Kamil dengan kata bahasa Sunda 'maneh'.

Maneh, dalam bahasa Sunda, artinya kamu—biasanya diucapkan antar-teman sebaya. Dan kasar bila diucapkan oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua.

Menanggapi hal itu, Dosen Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad), Gugun Gunardi, menilai kata 'maneh' dapat menjadi kata yang halus apabila diucapkan secara lisan dan intonasi yang tepat. Begitupula, kata 'maneh' akan jadi kasar bila dikatakan dengan intonasi yang tidak tepat.

"Jadi, kalau mengatakan sesuatu yang bahasa Sundanya kasar maka alangkah baiknya harus dalam bentuk tuturan yang dengan intonasi yang halus," kata dia melalui sambungan telepon pada Rabu (15/3).

Sementara itu, apabila disampaikan secara tulisan, Gugun menilai tanda baca menjadi penting. Jangan sampai tanda baca seperti titik dan koma tidak tepat karena acap kali mengakibatkan maksud dari tulisan yang disampaikan malah diterima dengan arti berbeda oleh pembaca.

"Tanda baca itu penting, tanda baca yang menghaluskan, kemudian yang kasar, kan suka seenaknya titik koma dan lainnya. Itu tentu harus diakhiri dengan kata-kata yang menimbulkan kalau itu tidak kasar," ucap dia.

Gugun juga menjelaskan soal tingkat tutur bahasa atau level berbahasa Sunda. Menurut dia, tingkatan itu berasal dari Jawa. Di dalam bahasa Sunda, tingkatan dibagi menjadi tiga yakni bahasa Sunda kasar, sedang, dan halus. Menurut dia, adanya tingkatan dalam proses berbahasa itu dimaksudkan dalam rangka membina karakter manusia.

"Sekarang bisa jadi ada orang yang berpendapat dulu mah Sunda teh agak ada yang halus dan kasar, kasar semuanya, nah, tapi kan pola tuturnya. Kemudian, tindak tutur sekarang apakah masih feodal? Kan enggak. Itu masuknya pada sopan santun berbahasa dalam koridor pembinaan karakter supaya orang menjadi lebih sopan," kata dia.

Apalagi, sambung Gugun, apabila bahasa Sunda itu disampaikan kepada seorang pemimpin. Intinya, dia mengatakan tutur kata yang baik tak hanya berlaku bagi bahasa Sunda tapi juga bahasa lain termasuk bahasa Indonesia.

Sementara itu, disinggung soal layak atau tidaknya pemecatan yang dilakukan kepada Sabil sebagai guru, Gugun menilai mestinya hal itu tak dilakukan. Sebab, bagaimanapun sikap manusia masih dapat diperbaiki dengan komunikasi yang baik.

"Kalau dipecat mah kita mencontohkan lagi karakter tidak baik lagi. Manusia bukan batu, manusia masih bisa diperbaiki, sekeras-keras manusia diajak ngobrol yang baik kan bisa menjadi baik," tandas dia.

Sebelumnya diberitakan, komentar Sabil ditulis dalam salah satu unggahan Ridwan Kamil ketika sedang menggelar zoom meeting dengan sejumlah murid di SMP 3 Tasikmalaya.

Komentar Sabil di akun Instagram Ridwan Kamil. Foto: Dok. Istimewa

Dalam meeting itu, Ridwan Kamil terlihat mengenakan jas berwarna kuning dan berbincang dengan tiga murid. Lalu, Sabil dengan akun @sabilfadhillah menyematkan komentar yang mempertanyakan kapasitas Ridwan Kamil ketika berbincang dengan tiga murid itu.

"Dalam zoom ini, maneh teh keur jadi gubernur Jabar ato kader partai ato pribadi @ridwankamil???" demikian bunyi dari komentar Sabil.

Ridwan Kamil merespons kabar ini. Dia mengaku kaget soal pemberhentian guru tersebut. Menurutnya pihak sekolah jangan sampai melakukan pemecatan.

"Saya sudah mengontak sekolah/yayasan, agar yang bersangkutan untuk cukup dinasihati dan diingatkan saja, tidak perlu sampai diberhentikan," kata Ridwan.

kumparan post embed