Ahli Jelaskan Mengapa Ada Mutasi yang Bikin Corona Lebih Cepat Menular

Varian baru corona atau mutasi virus SARS-CoV-2 semakin banyak bermunculan di berbagai negara dan membuat masyarakat waspada. Di antaranya yakni varian B.1.1.7 asal Inggris atau mutasi E484K yang baru-baru ini masuk ke Tanah Air.
Menanggapi hal ini, Dokter Ahli Patologi Klinik Tonang Dwi Ardiyanto terlebih dulu menjelaskan bagaimana tubuh seseorang menanggapi mutasi-mutasi baru tersebut. Ia mengakui apabila mutasi-mutasi ini memang lebih cepat menular karena sudah lebih mengenal antibodi seseorang.
"Mutasi itu mudahnya. Kalau kita bayangkan, virus yang pertama kali ada di Wuhan, kita sebut wild type ya, itu suatu virus yang seperti burung Nuri yang punya paruh kuning. Kemudian setelah dia dapat mutasi pertama, itu dia muncul satu bintik merah, ini lalu menyebar di dunia. Ketika ada di Inggris nambah lagi bintiknya, sekarang B.1.1.7 misalkan. Di Brasil juga nambah lagi," kata Tonang dalam siaran pers virtual di YouTube FMB9ID_IKP pada Selasa (13/4).
"Nah, selama merahnya masih belum menghilangkan kuningnya di paruh tadi, maka antibodi kita masih bisa mengenali. Memang semakin banyak bintik merah tadi ada risiko antibodi kita mengenalinya makin susah," imbuhnya.
Tonang melanjutkan, mutasi tersebut lebih mudah menular bukan karena metode barunya. Namun karena ketika dia masuk antibodi tadi itu mengenali, virus ini berusaha mencari titik ikatan.
Dalam mencari titik ikatan, dia harus menghindari sistem imunitas kita. Memang jika mutasi terlalu banyak, maka sistem imun seseorang lebih mudah diterobos dan mutasi lebih mudah menular.
Tetapi Tonang menerangkan, semua mutasi baru COVID-19 apa pun bentuknya hanya berbahaya apabila masuk ke tubuh manusia. Sehingga masyarakat harus mencegah masuknya virus termasuk juga mutasi baru, dengan 3M.
"Mau seperti apa pun mutasi terjadi, itu hanya bahaya di tubuh kita. Kalau virus itu di luar sana mau mutasi apa pun silakan. Ndak masalah bagi kita, selama kita bisa menjaga tidak masuk ke tubuh kita. Nah, tidak masuk itu lah maka sarannya ya masker harus disiplin, cuci tangan harus disiplin," jelas Tonang.
Oleh sebab itu, Tonang menegaskan protokol 3M tentu masih relevan dan justru menjadi senjata utama dalam memerangi mutasi virus corona. Selama 3M diterapkan dengan disiplin, masyarakat harusnya tak perlu khawatir dengan adanya mutasi-mutasi baru SARS-CoV-2.
"Selama virusnya ndak masuk ke tubuh kita, mau mutasi apa pun ndak usah kita pikirkan. 3M itu kelihatannya sederhana, klise, tapi itu memang senjata kita. Sudah. Dengan cara itu (3M) mau dapat virus mutasi kayak apa kalau ndak masuk tubuh kita tidak ada masalah," pungkasnya.
