Ahli: Kematian Akibat Omicron di Indonesia Meningkat 75 Kali Lipat dalam 2 Bulan

3 Maret 2022 12:01 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Peziarah berdoa di depan makam keluarganya di areal pemakaman khusus dengan protokol COVID-19 di TPU Bambu Apus, Jakarta Timur, Selasa (2/3/2021). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Peziarah berdoa di depan makam keluarganya di areal pemakaman khusus dengan protokol COVID-19 di TPU Bambu Apus, Jakarta Timur, Selasa (2/3/2021). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Omicron merupakan varian COVID-19 yang sedang menjadi perhatian di Indonesia. Meski gejala Omicron disebut lebih ringan dibanding varian Delta, tapi pemerintah dinilai harus tetap waspada.
ADVERTISEMENT
Ahli sekaligus guru besar FK UI Prof Tjandra Yoga Aditama menyinggung soal tingkat kematian yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
"Pada 2 Maret 2022 kemarin, ada 376 pasien COVID-19 kita yang meninggal dunia. Walaupun memang angka ini jauh lebih rendah daripada waktu Delta, tetapi sekian ratus meninggal setiap hari tentu perlu dapat perhatian pula," kata Prof Tjandra dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/3).
Prof Tjandra Yoga Aditama. Foto: Dok. Pribadi
Ia kemudian merujuk data kasus kematian sejak varian Omicron yang masuk ke Indonesia sejak 16 Desember 2021 lalu. Meningkat sebanyak 75 kali lipat hanya dalam waktu 2 bulan.
“Pada Omicron ini, pada 3 Januari 2022 yang meninggal 5 orang dan kemarin Rabu (2/3) 376 orang, sudah naik 75 kali dalam 2 bulan,” paparnya.
ADVERTISEMENT
Ia membandingkan ketika periode Delta. Bila dilihat dari total kasus meninggal saat varian Delta melonjak tahun lalu, kasus varian Omicron ini memang lebih rendah. Namun, lonjakan kenaikan kasus per harinya jauh lebih tinggi.
“Saat itu angka kematian per 27 Mei 2021 sebanyak 136 orang dan lalu naik menjadi 2.069. Jadi di Delta angka kematian naik sekitar 15 kali lipat dalam 2 bulan,” jelas Tjandra.
“Kenapa pada Omicron yang tidak seberat Delta tapi kok kenaikan angka kematian tinggi sekali, dalam kurun waktu yang sama-sama 2 bulan,” lanjutnya.
Sejumlah petugas mengusung peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Rorotan, Jakarta, Kamis (10/2/2022). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
Oleh karena itu, Tjandra berpendapat pemerintah harus lebih mengkaji lebih lanjut mengenai penyebab lonjakan kasus kematian ini agar bisa dikendalikan.
Lebih lanjut, Tjandra menuturkan saat ini Indonesia berada dalam urutan 3 teratas negara dengan angka fatalitas tertinggi atau Observed Case Fatality Ratio yang dikompilasi oleh John Hospkins University per 1 Maret 2022.
ADVERTISEMENT
Sedangkan untuk negara asia lainnya seperti India dan Vietnam berada di urutan 12. Bahkan Ukraina yang sedang terlibat konflik dengan Rusia berada di peringkat 6.
“Angka ini menunjukkan dari setiap 100 kasus COVID-19 di negara itu maka berapa banyak yang meninggal, jadi jelas menunjukkan dampak penyakit terhadap terjadinya kematian di masing-masing negara,” jelas Tjandra.