News
·
4 Agustus 2021 13:00
·
waktu baca 2 menit

Ahli Kesehatan Masyarakat: Jangan Isoman Tanpa Kontak Fasyankes, Bahaya!

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Ahli Kesehatan Masyarakat: Jangan Isoman Tanpa Kontak Fasyankes, Bahaya! (52284)
searchPerbesar
Anak terpapar COVID-19 beraktivitas di sebuah rumah milik warga yang dijadikan tempat isolasi mandiri bagi warga sekitar di RW 1 Kelurahan Kacapiring Kecamatan Batununggal, Bandung. Foto: Dok. Humas Pemkot Bandung
Di masa gelombang baru lonjakan corona ini, khususnya Juli lalu, pemerintah menyarankan pasien COVID-19 tanpa gejala atau bergejala ringan untuk melalukan isolasi mandiri di rumah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi beban RS dan tempat isolasi terpusat yang menangani pasien corona bergejala sedang hingga kritis.
ADVERTISEMENT
Tetapi, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya mengingatkan harus ada persiapan bagi warga yang ingin melakukan isoman. Meski isolasi di rumah, warga masih harus melaporkan kondisinya kepada fasilitas kesehatan terdekat.
“Kesiapan isolasi harus diterapkan, apalagi kalau ada tanda-tanda gejala meningkat itu harus segera ke RS. Termometer itu harus ada di setiap rumah, tensimeter, dan oksimeter. Sehingga kondisi terpantau. [Lalu] jangan isolasi menyendiri tanpa kontak dengan fasilitas pelayanan kesehatan, itu bahaya,” kata Ede di YouTube FMB9ID_IKP, Rabu (4/8).
Lebih lanjut, Ede menerangkan apa yang harus dilakukan masyarakat utuk menghadapi situasi pandemi di tengah terpaan varian Delta yang lebih menuler. Pertama tentu menerapkan protokol kesehatan 3M (menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker).
Ahli Kesehatan Masyarakat: Jangan Isoman Tanpa Kontak Fasyankes, Bahaya! (52285)
searchPerbesar
Rumah milik warga yang dijadikan tempat isolasi mandiri bagi warga sekitar di RW 1 Kelurahan Kacapiring Kecamatan Batununggal, Bandung. Foto: Dok. Humas Pemkot Bandung
Kedua, masyarakat harus mengenali gejala COVID-19. Kalau sudah merasakan gejala, segera melakukan isolasi atau memisahkan diri dari anggota keluarga lain agar mereka tak ikut terpapar.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, segera testing supaya kondisi tubuh ketika dites masih sehat bugar dan memudahkan penanganan. Sementara apabila ada kemungkinan hasil tes keluar masih lama, tetap lakukan isolasi mandiri sampai betul-betul dipastikan negatif.
“Yang juga [perlu] dicatat, testing itu antar daerah beda-beda. Sebelum Juli itu DKI Jakarta 24 jam [tes] bisa dilakukan, tapi ketika pada puncaknya itu Juli bisa sepekan baru dapat hasil. Nah, ketika menunggu masyarakat harus isolasi di rumah. Tapi dipantau, bahkan idealnya sudah bertemu dokter untuk periksa sehingga kondisi umum bisa diketahui,” jelas Ede.
Ede mengingatkan kembali bahwa isolasi terpantau di rumah sangat penting. Khususnya demi mencegah kematian akibat pasien COVID-19 terlambat ditangani.
“Persoalannya, karena kurang waspada, menganggap [isoman tanpa pengawasan] itu tidak ada masalah sering lolos. Jadi ada kasus kematian isoman itu misalnya ketika tes antigen saja, padahal harusnya pakai PCR. Kedua merasa aman dan nyaman di rumah,” tandas dia.
ADVERTISEMENT