Ahli Perkirakan 55% Penduduk RI Punya Antibodi Corona di Akhir Tahun Ini
·waktu baca 2 menit

Indonesia kini tengah berada di fase pelandaian kurva kasus COVID-19 setelah sempat dihantam gelombang kedua beberapa waktu lalu.
Penurunan kasus ini tentu diikuti dengan sejumlah pelonggaran pembatasan kegiatan masyarakat yang berujung pada meningkatnya mobilitas. Hal ini tentu harus tetap diwaspadai lantaran ancaman virus corona masih tetap mengintai.
Ahli Biostatistik dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dr. Iwan Ariawan, menyatakan bahwa masyarakat masih harus tetap berhati-hati walau sudah divaksinasi sekali pun.
"Virus ini masih ada beredar, masih ada, belum habis. Dan kita harus lihat di banyak negara meningkat lagi. Jadi kita hati-hati. Meski kita sudah di vaksinasi, vaksin itu enggak ada yang efektif 100%," kata Iwan dalam dialog virtual yang ditayangkan di YouTube BNPB, Selasa (28/9).
Dari analisis yang ia lakukan, Iwan memperkirakan ada sekitar separuh dari total penduduk Indonesia yang memiliki kekebalan alami maupun dari vaksin terhadap virus corona pada akhir 2021 mendatang.
"Kecepatan vaksinasi yang sekarang itu sampai akhir tahun ini perkiraan kami itu ada sekitar 55 % penduduk Indonesia yang punya imunitas terhadap COVID-19. Orang yang punya kekebalan bisa dari vaksinasi, bisa tertular," ungkapnya.
Ia kemudian menyoroti soal separuh dari penduduk lainnya masih belum punya kekebalan atau antibodi terhadap COVID-19. Ini yang bisa menyebabkan kemungkinan naiknya kasus kembali.
"Nah kita bisa lihat banyak tapi masih ada separuh yang belum punya. Mereka bisa kena. Dan 50% penduduk Indonesia itu banyak. Risikonya bisa terjadi wabahnya di mereka-mereka yang belum vaksin. Kalau terjadi, bisa terjadi mutasi dan ini merepotkan yang sudah divaksin bisa terkena juga," kata Iwan.
Apabila penularan secara besar-besaran kembali terjadi, maka bisa saja varian dari virus corona akan terus bermunculan. Untuk itu, vaksinasi saat ini menjadi salah satu solusi untuk meminimalisasi adanya lonjakan kasus yang lebih besar.
"Kalau mutasi baru yang lebih ganas kita yang divaksin enggak mempan lagi vaksinnya. Makanya hindari penularan supaya tidak ada penularan lagi," tutupnya.
