Ahli Sebut Semburan Gas di Bogor Ada Kaitannya dengan Gunung Pancar

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Semburan gas alam saat pengalian sumur di Bogor. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Semburan gas alam saat pengalian sumur di Bogor. Foto: Dok. Istimewa

Gas alam bercampur air menyembur di Kampung Leuwikotok, Desa Pasirlanja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jabar, pukul 15.30 WIB, Rabu (11/10).

Semburan itu muncul saat warga sedang mengebor sumur. Para tukang frustrasi air tidak kunjung muncul, mereka terus mengebor hingga kedalaman 125 meter. Tapi kemudian yang menyembur gas alam bercampur air.

Ahli Hidrogeologi Fakultas Teknik, Universitas Pakuan, Singgih Irianto, menyebut fenomena semburan gas itu ada kaitannya dengan batuan air panas di Gunung Pancar, Bogor.

"Normal, bisa saja. Bisa saja, kan, di situ kayak di Babakan Madang dan sekitarnya itu ada batuan air panas. Mungkin fenomena (semburan gas) ada kaitannya dengan itu," kata Singgih saat dihubungi wartawan, Kamis (12/10).

Singgih menjelaskan, gas yang tersimpan dalam bumi itu dipengaruhi oleh aktivitas gunung api terdahulu seperti gunung api purba.

"Kaitannya dengan aktivitas gunung api purba dulu. Kalau di Babakan Madang Gunung Pancar. Kan ada air panas, Nah, berarti di bawahnya ada gas," ujarnya.

Semburan gas di Kecamatan Sukaraja ini terdeteksi jenis gas metana.

Metana adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas dengan rumus kimia CH4. Metana murni tidak berbau, tetapi jika digunakan untuk keperluan komersial, biasanya ditambahkan sedikit bau belerang untuk mendeteksi kebocoran yang mungkin terjadi.

Petugas melakukan pemeriksaan di lokasi gas alam bercampur air menyembur di Kampung Leuwikotok, Desa Pasirlanja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Rabu (11/10/2023). Foto: kumparan

Terkait adanya semburan gas alam berbarengan dengan air, kata Singgih, air tersebut berasal dari fosil yang tersimpan dari pembentukan batuan yang di dalamnya ada gas atau air.

"Jadi air tersimpan di fosil itu tertekan. Air tersimpan di fosil itu terbuka, kan ada tekanan dari bawah. Karena formasi, gas jadi keluar," ucapnya.

Menurut istilah hidrologi yang tertulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), air fosil adalah air yang terperangkap dalam ruang di antara batuan dan tetap tinggal di batuan itu sejak penimbunan.

Soal semburan gas metana yang berbahaya itu, kata Singgih, mesti dipastikan terlebih dahulu sejauh mana dan berapa intensitasnya.

"Ya, bahaya kalau membakar, tapi kan sudah hilang. Kalau waktu keluar bahaya, tapi kalau sudah di udara sudah lepas dia (gasnya)," ucap Singgih.

Gunung Pancar, Bogor. Foto: Arifin Asydhad/kumparan

Semburan sudah berhenti

Pantauan kumparan di lapangan, semburan gas bercampur air sudah berhenti pada pukul 11.30 WIB, Kamis (12/10).

Petugas masih berjaga di lokasi TKP dan puluhan warga masih diungsikan sementara hingga hasil laboratorium dari ESDM keluar.

Petugas melakukan pemeriksaan di lokasi gas alam bercampur air menyembur di Kampung Leuwikotok, Desa Pasirlanja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Rabu (11/10/2023). Foto: kumparan

Lalu apakah gas tersebut akan menyembur kembali?

"Kecil kemungkinannya, yah. Karena air fosil yang tersimpan dan tekanan berkurang. Beda dengan Lapindo masih produksi. Kalau ini kan cairannya sudah berkurang," kata dia.

Singgih menyarankan, sebelum melakukan pengeboran perlu dilakukan penyelidikan geologi bawah permukaan terlebih dahulu.

"Ya saran saya dilaporkan saja. Nanti akan diamati lebih lanjut. Nanti akan dilakukan kajian bawah permukaan biasanya untuk mengetahui lapisan-lapisan batuan pembawa airnya," pungkasnya.