Ahli Wabah Dorong Fasilitas Transportasi Di-upgrade karena Syarat PCR Dihapus

9 Maret 2022 9:36 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Dicky Budiman, epidemiolog dari Griffith University Australia. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dicky Budiman, epidemiolog dari Griffith University Australia. Foto: Dok. Pribadi
ADVERTISEMENT
Satgas COVID-19 Indonesia menerbitkan ketentuan terbaru terkait perjalanan orang dalam negeri di masa pandemi pada Selasa (8/3). Dalam Ketentuan terbaru tersebut, aturan wajib tes PCR dan rapid test antigen bagi Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN) yang sudah divaksinasi lengkap dan booster dihapus.
ADVERTISEMENT
Ahli Wabah Griffith University, Dr. Dicky Budiman, sepakat dengan adanya pelonggaran syarat tes untuk naik transportasi umum. Namun, di sisi lain harus terdapat aspek yang memperkuat untuk memperkecil risikonya.
Penerapan aturan terbaru ini juga diperlukan penyempurnaan di berbagai aspek, salah satunya aspek moda transportasi di Indonesia.
“Untuk memperkecil risiko perlu ada penguatan di aspek moda transportasinya. Kalau pesawat jelas, sudah pakai hepa filter jadi tidak masalah. Tapi bagaimana ventilasi sirkulasi di transportasi umum lainnya? Ini juga yang harus diperkuat,” jelas Dicky melalui pesan singkat, Rabu (9/3).
Dalam penerapan aturan terbaru ini, dibutuhkan kesadaran dan partisipasi dari berbagai elemen masyarakat yaitu dengan menggunakan masker N95 atau KN95 ketika naik kendaraan umum untuk mengurangi risiko terpapar COVID-19.
ADVERTISEMENT
Dicky juga menyarankan ke pemerintah, pelonggaran ini dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru. Dimulai dari daerah yang sudah kuat sistem kesehatannya.
“Saya berpendapat ketika melakukan pelonggaran ini secara bertahap, tidak dalam waktu yang mendadak, terburu-buru, dan tidak langsung berskala besar. Kita bertahap di daerah yang sudah kuat sistem kesehatannya,” kata Dicky.
Masyarakat juga harus tetap waspada dan tidak lalai dengan adanya pelonggaran ini. Karena meskipun dilonggarkan, COVID-19 masih terus ada di sekeliling kita.
“Jangan sampai ada anggapan masyarakat yang menganggap pandemi sudah selesai. Wah, yang terjadi akan memperburuk situasi karena angka kematian bisa meningkat dan itu merugikan kita,” tutup Dicky.
Reporter: Devi Pattricia