Ahli Wabah UI soal Istilah New Normal Dikoreksi: Masih Banyak Mispersepsi

Ahli wabah Universitas Indonesia Pandu Riono menyambut baik pengakuan pemerintah soal kesalahan menggunakan diksi new normal di era pandemi corona. Apalagi istilah itu disalahartikan oleh banyak kelompok masyarakat.
"Ya, terima kasih pada pemerintah yang mau mengaku keliru. Perlu diperkuat komunikasi publik yang sistematik dan masif," kata Pandu di Jakarta, Minggu (12/7).
Ia menambahkan, selain istilah new normal masih ada penggunaan istilah lain yang sulit dipahami publik. Hal ini yang kemudian berisiko memunculkan mispersepsi.
"Masih tinggi mispersepsi risiko tentang COVID-19, sehingga publik belum sadar penularan masih tinggi. Kondisi indonesia sangat abnormal," ungkap dia.
Menurutnya, perlu kesadaran tinggi dari masyarakat akan hal tersebut. Tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
"Perlu kepatuhan tinggi untuk 3M, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Pemerintah perlu melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, selebriti dan lain-lain," tutur dia.
Sebelumnya, Pemerintah terus memperbaiki pola komunikasi untuk memberikan informasi penanganan virus corona, salah satunya penggunaan istilah 'new normal'. Jubir penanganan virus corona, Achmad Yurianto, mengakui masyarakat sempat kebingungan.
"Diksi new normal dari awal diksi itu segera kita ubah, new normal itu diksi yang salah dan kita ganti dengan adaptasi kebiasaan baru," kata Yuri dalam launching buku anggota komisi IX Fraksi PAN Saleh Daulay berjudul 'Mengadang Corona: Advokasi Publik di Masa Pandemik' di Gedung DPR, Senayan, Jumat (10/7).
Oleh karena itu, ia mengatakan pemerintah saat ini menggunakan istilah adaptasi kebiasaan baru. Terlebih, kata dia, penggunaan istilah new normal dianggap masyarakat kembali berkegiatan seperti biasa tanpa memperhatikan protokol kesehatan.
