Ahmad Basarah: RI Tak Baik-Baik Saja, Republik Rasa Kerajaan
ยทwaktu baca 2 menit

Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah saat menghadiri deklarasi Jaringan Alumni HMI dan Muslimin Indonesia mendukung Ganjar-Mahfud bicara terkait kondisi Indonesia saat ini yang dinilainya seperti kerajaan.
Basarah mengatakan, kondisi tersebut tak baik untuk Indonesia yang dibangun lewat perjuangan kemerdekaan dan kesepakatan para pendiri bangsa.
"Indonesia saat ini sedang kurang baik-baik saja. Intelektual dan kritidisme alumni HMI dituntut ketika ada upaya-upaya dari pihak-pihak tertentu, untuk mengubah kesepakatan para pendiri bangsa, Indonesia sebagai negara nasional religius, akan diubah menjadi negara republik bercita rasa kerajaan," kata Basarah di Jakarta Concert Hall, iNews Tower, Jakarta Pusat, Selasa (14/11).
Pernyataan tersebut, lanjut Basarah, dikutipnya dari puisi KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Ini tak terlepas dari kontroversi keputusan MK yang belakangan hasil sidang etik MKMK memecat Anwar Usman, paman Gibran dari Ketua MK.
"Ini menurut puisinya KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus mus. Bukan kata saya. Menjadi republik bercita rasa kerajaan," imbuh dia.
"Ketika rasa keadilan diusik, dan kewibawaan MK diobarak-abrik oleh pihak tertentu. Pendapat ini, perasaan publik ini kemudian terkonfirmasi oleh keputusan MKMK," lanjutnya.
Basarah lalu mengungkit lagi putusan MKMK yang menyatakan Anwar Usman bersalah. Dia menyebut, Anwar melanggar etik yang diatur dalam Sapta Karsa Hutama.
"Yang pertama, hakim terlapor terbukti melakukan pelanggaran berat terhadap kode etik dan perilaku konstitusi sebagaimana tertuang dalam Sapta karsa Hutama, yaitu prinsip ketakberpihakan, prinsip kecakapan, kesetaraan, independensi, dan prinsip kepantasan serta prinsip kesopanan," imbuhnya menyinggung Hakim Anwar Usman.
Ketua Tim Koordinasi Relawan Pemenangan Pilpres (TKRPP) PDIP ini juga menyinggung pencalonan Ganjar-Mahfud yang dilandasi untuk kepentingan bangsa tanpa ada unsur hubungan keluarga dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
"Karena baik Mas Ganjar maupun Prof Mahfud tidak punya hubungan darah dengan Bu Mega. Tidak punya hubungan kekeluargaan dengan Pak Hary Tanoe, tidak punya hubungan family dengan Pak OSO, dan tidak punya hubungan kekeluargaan dengan Pak Mardiono," ujarnya.
"Ibu Mega, Pak Hary, Pak Mardiono, dan Pak OSO, memilih kedua tokoh bangsa ini karena mempertimbangkan kepentingan nasional bangsa Indonesia. Bukan kepentingan golongan, bukan kepentingan kelompok, bukan kepentingan keluarga, apalagi kepentingan pribadi," pungkas dia.
