AHY Bicara Industri Hijau hingga Kunci Ketahanan dan Infrastruktur di Singapura
·waktu baca 9 menit

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menghadiri Ecosperity Week 2026 yang diselenggarakan Temasek di Singapura pada 18–19 Mei 2026. Dalam forum internasional tersebut, AHY menyampaikan pesan kunci mengenai pentingnya memperkuat ketahanan kawasan dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Asia di tengah tantangan perubahan iklim, tekanan geopolitik, serta kebutuhan pembangunan yang semakin kompleks.
Kehadiran AHY pada forum global ini merupakan undangan langsung dari Chairman Temasek, Teo Chee Hean, sebagai bentuk apresiasi terhadap peran strategis Indonesia dalam agenda pembangunan berkelanjutan dan penguatan ketahanan kawasan Asia.
Ecosperity Week merupakan forum tahunan unggulan Temasek yang mempertemukan para pengambil kebijakan, investor, inovator, serta pemimpin sektor publik dan swasta dari berbagai negara untuk membahas solusi nyata menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Pada tahun sebelumnya, forum ini dihadiri sekitar 4.000 peserta, baik secara langsung maupun virtual.
Forum tahun ini turut menghadirkan sejumlah tokoh dan pemimpin global dari sektor investasi, keuangan, teknologi, energi, keberlanjutan, dan infrastruktur. Termasuk di antaranya Chairman Temasek Teo Chee Hean, Chairman Rio Tinto Dominic Barton, Chair of the UN High-Level Expert Group on Net-Zero Commitments Catherine McKenna, Director Potsdam Institute for Climate Impact Research Prof. Dr. Johan Rockström, Chairman India Temasek sekaligus mantan CEO DBS Piyush Gupta, Chairman Surbana Jurong Chaly Mah, serta perwakilan berbagai institusi global seperti BlackRock, Google, DBS, Amundi, BloombergNEF, dan World Bank Group.
AHY didampingi Deputi Bidang Koordinasi Pembangunan Perumahan dan Sarana dan Prasarana Permukiman, Ronny Hutahayan; serta Staf Khusus Menteri Sigit Raditya dan Herzaky Mahendra Putra.
Rangkaian agenda AHY dimulai pada Minggu (18/5) dengan menghadiri Opening Dinner Ecosperity Week 2026. Mempertemukan para pemimpin dunia usaha, investor, pemerintah, dan tokoh global dalam forum networking strategis.
Pada Senin (19/5), AHY melakukan courtesy meeting dengan Chairman Temasek, Teo Chee Hean, guna membahas peluang kerja sama strategis di bidang pembangunan infrastruktur berkelanjutan, ketahanan kawasan pesisir, konektivitas, serta penguatan kemitraan investasi Indonesia–Singapura.
Usai pertemuan tersebut, AHY memberikan keynote address pada sesi utama Innovation Day Plenary Ecosperity Week 2026 di Marina Bay Sands Convention Centre, Singapura, dengan tema "From Coastlines to Common Ground: Building a Resilient and Sustainable Asia."
Dalam pidatonya, AHY akan menyoroti pentingnya kolaborasi lintas negara untuk membangun infrastruktur yang tangguh, hijau, inklusif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki pengalaman dan perspektif strategis dalam pembangunan kawasan pesisir, konektivitas antarpulau, ketahanan pangan, air, dan energi, hingga pengembangan infrastruktur yang resilien terhadap perubahan iklim.
Kehadiran AHY dalam forum ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu mitra penting dalam percakapan global mengenai masa depan pembangunan berkelanjutan di Asia.
Partisipasi Indonesia dalam Ecosperity Week 2026 juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendorong pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan, ketahanan, dan pemerataan pembangunan. Sejalan dengan visi pembangunan nasional, infrastruktur dipandang sebagai fondasi penting untuk memperkuat daya saing bangsa sekaligus memastikan tidak ada wilayah yang tertinggal.
AHY Ajak Perkuat Fondasi Persahabatan Indonesia–Singapura
Pembukaan pidato AHY dalam forum internasional Ecosperity Week 2026 berlangsung hangat, personal, sekaligus penuh refleksi mengenai hubungan Indonesia dan Singapura yang terus berkembang lintas generasi.
Di hadapan para pemimpin bisnis global, investor, diplomat, dan pejabat internasional, AHY membuka pidatonya dengan mengenang masa mudanya saat tinggal di Singapura lebih dari dua dekade lalu.
“Dua puluh tahun lalu saya datang ke kota ini sebagai letnan muda Angkatan Darat yang baru menikah untuk melanjutkan studi di NTU,” ujar AHY yang juga alumnus Nanyang Technological University (NTU), Singapura tersebut.
Ia mengenang Singapura sebagai bagian penting dalam perjalanan hidup dan pembentukan perspektif kepemimpinannya. Kehidupan sederhana bersama istrinya di Jurong West, pengalaman belajar di Nanyang Technological University (NTU), hingga kedisiplinan dan tata kota Singapura disebut memberinya banyak pelajaran berharga mengenai visi pembangunan dan pelayanan publik.
AHY juga menyinggung hubungan panjangnya dengan Chairman Temasek, Teo Chee Hean, yang dinilainya bukan hanya tokoh penting Singapura, tetapi juga sosok yang berkontribusi besar dalam memperkuat hubungan kedua negara.
“Saya mengenal Pak Teo tidak hanya sebagai negarawan yang membantu membangun begitu banyak kemitraan Indonesia dan Singapura, tetapi juga sebagai pribadi,” ujar AHY.
Nuansa emosional semakin terasa ketika AHY mengaitkan undangan berbicara di Ecosperity Week dengan perjalanan panjang hubungan Indonesia–Singapura yang dibangun melalui pendidikan, pelayanan publik, dan kepercayaan antargenerasi.
“Tahun lalu NTU memberikan penghargaan Nanyang Distinguished Alumni Award kepada saya. Saya menerimanya bukan hanya sebagai penghargaan pribadi, tetapi sebagai penghormatan terhadap persahabatan antara Indonesia dan Singapura yang tumbuh melalui pendidikan, pelayanan publik, dan lintas generasi,” papar Menko AHY.
Sambutan hangat Chairman Temasek Teo Chee Hean kepada AHY di awal forum turut mencerminkan kedekatan personal sekaligus eratnya hubungan kedua negara.
Bagi AHY, hubungan Indonesia dan Singapura kini telah berkembang jauh melampaui kerja sama ekonomi semata. Ia menilai kepercayaan, kolaborasi, dan kesinambungan hubungan antargenerasi menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan Asia ke depan.
“Persahabatan antarnegara dibangun oleh orang-orang yang terus hadir, menjaga kepercayaan, dan tetap bekerja bersama bahkan ketika dunia sedang menghadapi tantangan besar,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, AHY juga menekankan masa depan Asia akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara-negara di kawasan dalam membangun kolaborasi yang resilien, terbuka, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Infrastruktur adalah Kunci Masa Depan Keberlanjutan
Dalam pidatonya pada Ecosperity Week 2026, AHY menyinggung bahwa infrastruktur menjadi titik paling nyata dalam mewujudkan agenda keberlanjutan dan ketahanan iklim.
“Infrastructure is where sustainability becomes real,” ujar AHY.
Menurut dia, perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai ancaman masa depan, tetapi tantangan nyata yang sedang dihadapi masyarakat saat ini. Ia mencontohkan bencana besar akibat Siklon Senyar di Sumatera yang menyebabkan lebih dari seribu korban jiwa dan jutaan warga terdampak.
“Adaptasi bukan lagi skenario masa depan. Adaptasi adalah biaya yang harus kita bayar hari ini,” ucapnya.
Menurut AHY, pemerintah Indonesia saat ini tengah mempercepat pembangunan infrastruktur adaptif, termasuk proyek Giant Sea Wall Pantura yang menjadi salah satu prioritas strategis nasional pada era Presiden Prabowo Subianto.
Proyek sepanjang 575 kilometer tersebut dirancang tidak hanya untuk perlindungan pesisir, tetapi juga menjaga ketahanan pangan, kawasan industri, serta keselamatan jutaan masyarakat pesisir Jawa.
“Ini bukan sekadar tanggul laut. Ini tentang upaya melindungi masa depan ekonomi negara dan masyarakat kita,” ujar AHY.
Sementara itu, Chairman Temasek Teo Chee Hean turut menegaskan adaptasi iklim kini sama pentingnya dengan mitigasi perubahan iklim. Menurutnya, kemampuan beradaptasi akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi global dan kesinambungan pembangunan jangka panjang.
Dorong Negara-Negara Asia Bangun Industri Hijau yang Adil dan Terbuka
Pada kesempatan yang sama, AHY turut mengajak negara-negara Asia membangun industri masa depan yang lebih bertanggung jawab, inklusif, dan berbasis kemitraan yang adil.
"Industri masa depan harus dibangun secara bertanggung jawab dan berbasis kemitraan,” ujar AHY
Di hadapan para pemimpin bisnis global, investor, diplomat, dan pejabat internasional, Menko AHY menyoroti posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global energi hijau melalui cadangan nikel, energi panas bumi (geothermal), serta pengembangan industri kendaraan listrik.
Menurut dia, hilirisasi industri yang dijalankan Indonesia bukan semata kebijakan ekonomi, melainkan bagian dari strategi memperkuat ketahanan nasional dan membangun masa depan energi bersih.
“Negara yang memiliki material penting masa depan tidak boleh terus menjadi pemasok pasif dalam rantai pasok pihak lain,” katanya.
Selain itu, dia juga menekankan Indonesia terbuka terhadap kerja sama global dengan prinsip keadilan dan saling menguntungkan.
“Kami siap bekerja sama dengan mitra dari Amerika Utara, Eropa, Asia, hingga Global South, dengan prinsip manfaat bersama dan penghormatan terhadap standar yang baik,” ujarnya.
Dalam pidatonya, AHY turut menyoroti besarnya potensi energi panas bumi Indonesia yang dapat menjadi sumber energi bersih utama untuk mendukung industri nikel dan pusat data digital regional.
“Indonesia bisa menjadi bagian penting dari masa depan energi bersih di kawasan Asia,” katanya.
Sementara itu, Chairman Temasek Teo Chee Hean menambahkan Asia memiliki peluang besar membangun sistem ekonomi hijau baru yang menghubungkan sumber daya, teknologi, manufaktur, dan pasar regional.
Menurut Teo, kekuatan Asia terletak pada kemampuannya membangun kolaborasi lintas negara guna menciptakan pertumbuhan yang lebih resilien dan berkelanjutan.
Asia Harus Bangun Ketahanan di Tengah Geopolitik yang Kian Rapuh
AHY mengajak negara-negara Asia memperkuat ketahanan kawasan melalui pembangunan berkelanjutan, kerja sama strategis, dan kepemimpinan jangka panjang di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta tekanan terhadap sistem bumi.
Dia mengingatkan ketegangan di Selat Hormuz menunjukkan betapa rapuhnya sistem global saat ini, sekaligus memperlihatkan betapa cepat guncangan energi dapat melintasi batas negara dan berdampak pada kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Meski demikian, AHY menyampaikan optimisme Asia tetap memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan baru dunia apabila mampu membangun ketahanan kawasan secara kolektif.
Pesan tersebut sejalan dengan peringatan ilmiah yang disampaikan Professor Johan Rockström dalam rangkaian Ecosperity Week. Melalui Planetary Health Check, Rockström mengingatkan stabilitas sistem bumi kini berada dalam tekanan serius. Peringatan tersebut memperkuat urgensi agar pembangunan berkelanjutan tidak berhenti pada komitmen, melainkan diterjemahkan menjadi aksi nyata, investasi, dan kerja sama lintas negara.
Dalam paparannya, AHY juga menyoroti tema besar Ecosperity Week 2026, Powered by Innovation, Driven with Intent. Menurutnya, inovasi dan modal memang penting, tetapi arah, konsistensi, dan keberpihakan dalam menjalankan transisi menjadi faktor yang lebih menentukan.
Menurut AHY, visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan, energi, dan air menjadi fondasi utama arah pembangunan Indonesia saat ini. Ia menegaskan keberlanjutan tidak boleh dipandang sebagai agenda yang terpisah dari kebutuhan rakyat sehari-hari.
Dalam pidatonya, AHY turut menyinggung upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-Siklon Senyar di Sumatera, serta kick-off Giant Sea Wall Pantura sebagai bagian dari komitmen nyata Indonesia dalam membangun ketahanan pesisir, ketahanan pangan, dan perlindungan masyarakat dalam jangka panjang.
AHY menekankan Indonesia memiliki peran penting dalam membangun ketahanan kawasan, baik melalui pembangunan infrastruktur adaptif, penguatan ketahanan pesisir, maupun pengembangan industri hijau. Menurutnya, negara-negara Asia harus mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keamanan energi, dan perlindungan terhadap masyarakat yang paling rentan terhadap krisis iklim.
Sementara itu, Chairman Temasek Holdings Teo Chee Hean dalam sambutannya turut menyinggung dinamika geopolitik yang semakin memengaruhi lanskap investasi, perdagangan, rantai pasok, dan stabilitas global. Menurut Teo, Asia perlu memperkuat resiliensi tanpa kehilangan semangat kolaborasi dan keterbukaan.
Pesan tersebut sejalan dengan seruan AHY agar kawasan tidak hanya mampu bertahan menghadapi ketidakpastian, tetapi juga membangun masa depan yang lebih aman, berkelanjutan, dan inklusif.
