AHY Pimpin Konsultasi Bilateral dengan Rusia, Perkuat Kerja Sama Maritim
·waktu baca 6 menit

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memimpin Konsultasi Bilateral Indonesia-Rusia di bidang kemaritiman. Pertemuan di Moskow pada Senin (1/6) itu dihadiri Penasihat Presiden Federasi Rusia sekaligus Ketua Dewan Maritim Federasi Rusia Nikolai Patrushev.
Pertemuan yang merupakan kelanjutan dari dialog yang diinisiasi pada November 2025 di Jakarta itu, menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kerja sama di bidang perkapalan, konektivitas maritim, logistik, pengembangan sumber daya manusia, serta pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.
Dalam sambutannya, AHY menegaskan hubungan Indonesia dan Rusia terus berkembang menuju kemitraan yang semakin strategis, terutama setelah kedua negara meluncurkan Deklarasi Kemitraan Strategis yang disepakati Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin pada Juni 2025.
“Hubungan kedua negara tidak lagi hanya bertumpu pada hubungan politik dan diplomatik, tetapi juga bergerak menuju kemitraan strategis yang lebih konkret dalam pembangunan ekonomi, konektivitas, teknologi, dan ketahanan wilayah,” ujar AHY dikutip dari keterangannya, Rabu (3/6).
Menko AHY menjelaskan, sebagai negara kepulauan dengan 17.380 pulau, Indonesia membutuhkan sistem konektivitas yang terintegrasi dan berkelanjutan. Karena itu, pengalaman Rusia di bidang transportasi, infrastruktur, logistik, dan teknologi maritim dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung agenda pembangunan nasional Indonesia.
“Pembangunan konektivitas tidak bisa hanya mengandalkan satu moda transportasi. Diperlukan keseimbangan dan kolaborasi antarmoda untuk memperkuat pemerataan pembangunan sekaligus menekan biaya logistik nasional,” kata Menko AHY.
Dalam konsultasi bilateral tersebut, kedua negara membahas sejumlah bidang kerja sama prioritas, antara lain peningkatan kapasitas angkutan laut, kerja sama ilmiah dan teknis di bidang kemaritiman, pembangunan pelabuhan berkelanjutan, pengembangan industri galangan kapal, pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia maritim, serta pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
Menko AHY menilai Indonesia dan Rusia memiliki kesamaan karakter sebagai negara maritim besar yang memiliki peluang luas untuk membangun kemitraan jangka panjang.
“Indonesia dan Rusia sama-sama dianugerahi geografi yang luar biasa. Kekayaan geografis ini bukan hanya warisan, tetapi juga tanggung jawab dan peluang untuk membangun masa depan bersama melalui ekonomi maritim yang berkelanjutan,” ujar Menko AHY.
Sebagai tindak lanjut kerja sama, kedua negara sepakat membentuk tiga kelompok kerja strategis. Kelompok kerja pertama berfokus pada pengembangan industri galangan kapal dan pelabuhan berkelanjutan. Kelompok kerja kedua menangani pengembangan sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan. Adapun kelompok kerja ketiga berfokus pada pengembangan sumber daya manusia, riset, dan pelatihan.
Pembentukan kelompok kerja tersebut, AHY menerangkan, menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh agenda kerja sama dapat berjalan secara terarah, terukur, dan menghasilkan manfaat nyata bagi kedua negara.
“Indonesia hadir dengan semangat kemitraan yang setara. Kami siap melangkah maju bersama Rusia menuju masa depan maritim yang lebih kuat, lebih hijau, dan lebih sejahtera bagi kedua bangsa,” tegas AHY.
Pada kesempatan itu, Menko AHY juga mengungkapkan sejumlah perkembangan konkret hasil tindak lanjut konsultasi bilateral sebelumnya. Di antaranya kerja sama antara PT PAL Indonesia dan Rosatom terkait Floating Nuclear Power Plant (FNPP) yang telah diawali dengan penandatanganan Non-Disclosure Agreement (NDA) pada April 2026 dan akan dilanjutkan melalui penyusunan nota kesepahaman.
Selain itu, pembahasan kerja sama pembangunan kapal antara PT PAL Indonesia dan Ak Bars Shipbuilding Corporation terus berjalan. PT Pelindo juga tengah menindaklanjuti kerja sama dengan CIFREX untuk pengembangan kapal berkecepatan tinggi. Sementara itu, Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Luar Negeri RI sedang mengoordinasikan rencana pengiriman tenaga terampil sektor galangan kapal ke Rusia.
AHY menegaskan kerja sama Indonesia-Rusia di sektor maritim bukan sekadar komitmen di atas kertas, melainkan telah bergerak menuju implementasi nyata yang diharapkan mampu memperkuat konektivitas, meningkatkan daya saing industri, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara.
“Setiap pencapaian besar selalu lahir dari satu langkah pertama. Kunci keberhasilan kerja sama ini terletak pada peran aktif kedua belah pihak. Karena itu, mari kita melangkah bersama dengan visi yang berani, kerja yang terukur, dan hasil yang nyata,” pungkas Menko AHY.
Bertemu Diaspora
Selain melakukan pertemuan bilateral, selama di Rusia AHY juga menyempatkan diri bertemu dengan Dubes Indonesia untuk Rusia Jose A.M. Tavares, jajaran KBRI Moskow, serta perwakilan diaspora Indonesia di Rusia. Pertemuan itu dilakukan pada Minggu (31/5) waktu setempat.
Dalam pertemuan tersebut, AHY menyampaikan apresiasi kepada KBRI Moskow yang telah mendukung dan memfasilitasi berbagai agenda kerja sama Indonesia-Rusia.
“Setiap diplomasi internasional membutuhkan koordinasi yang tidak sederhana. Kami sungguh menghargai dedikasi KBRI Moskow dalam menjaga dan memperkuat hubungan baik Indonesia dan Federasi Rusia,” ujar AHY.
Di hadapan para diaspora, Menko AHY memaparkan sejumlah program strategis nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya untuk menopang target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Program-program tersebut meliputi pembangunan Giant Sea Wall Pantai Utara Jawa dengan estimasi investasi USD 80 miliar yang membentang dari Banten hingga Gresik; percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana; Gerakan Indonesia ASRI untuk penataan kawasan kumuh dan permukiman nelayan; Program Pembangunan 3 Juta Rumah; pengembangan jaringan perkeretaapian lintas pulau dan transportasi massal berbasis Transit Oriented Development (TOD); penerapan kebijakan Zero Over Dimension Over Load (Zero ODOL) yang akan efektif penuh pada 2027; penguatan bendungan dan ketahanan air; serta dukungan pengembangan Ibu Kota Nusantara.
Menko AHY menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk mewujudkan swasembada pangan, energi, dan air, memperkuat konektivitas nasional, meningkatkan pemerataan pembangunan kewilayahan, serta memperkuat ketahanan lingkungan.
Dalam konteks tersebut, Menko AHY menilai diaspora Indonesia di Rusia memiliki posisi yang sangat strategis sebagai mitra pembangunan nasional.
“Diaspora Indonesia bukan hanya representasi bangsa di luar negeri, melainkan juga mitra strategis pembangunan nasional. Kami melihat banyak peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan, mulai dari transfer pengetahuan, pengembangan jejaring bisnis, promosi investasi, hingga penguatan diplomasi teknologi dan inovasi,” kata AHY.
Menurut Menko AHY, diaspora Indonesia di Rusia juga dapat berperan sebagai penghubung berbagai peluang kerja sama konkret di bidang perdagangan, pendidikan, riset, energi, kemaritiman, logistik, dan infrastruktur.
Pemerintah Indonesia, lanjut Menko AHY, saat ini juga terus mendorong peningkatan ekspor berbagai komoditas unggulan ke pasar Rusia, seperti produk perikanan, kopi, rempah-rempah, dan produk maritim. Karena itu, diaspora diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat jaringan distribusi, pemasaran, dan pengembangan akses pasar bagi produk Indonesia.
“Kami berharap diaspora dapat menjadi bagian dari solusi untuk memperluas jejaring perdagangan Indonesia di Rusia, sekaligus membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas antara kedua negara,” ujarnya.
Menko AHY juga mendorong penguatan pemetaan dan konsolidasi diaspora Indonesia di Rusia secara lebih terstruktur berdasarkan bidang keahlian dan potensi kontribusinya terhadap pembangunan nasional.
Menutup pertemuan, Menko AHY menegaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan diaspora harus terus diperkuat sebagai kemitraan jangka panjang yang saling mendukung.
“Pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga wujud ikatan yang kuat antara tanah air dan putra-putri bangsa yang tengah berkarya di luar negeri. Mari terus menjaga koneksi, memperkuat kolaborasi, dan bersama-sama berkontribusi untuk Indonesia yang semakin maju, sejahtera, dan berdaya saing global,” tutup Menko AHY.
