Air di Ujung Jakarta, Ada Tapi Tak Bisa Menghidupi

“Air adalah kehidupan, dan air bersih berarti kesehatan” – Audrey Hepburn
Segelas air yang kita minum hari ini kemungkinan besar telah melewati sejuta perjalanan, berputar menembus ruang dan waktu. Bertemu tanah hingga atmosfer, ada di zaman batu hingga sampai ke gelas kaca kita pagi ini.
Sayangnya kita seringkali lupa bahwa ketersediaan air di muka bumi nampaknya selalu dalam angka yang sama sedangkan populasi manusia terus meningkat. Dampaknya, kompetisi untuk mendapatkan air bersih makin ketat. Ditambah iklim yang sudah mulai berubah karena katanya bumi makin renta.
Tak heran jika saat ini ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah menjadi satu hal yang sakral. Di daerah Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara tepatnya di Rumah Susun (rusun) Waduk Pluit, air bersih masih menjadi polemik bagi para penghuninya. Sejak 2013 rusun ini dihuni, air bersih yang disediakan oleh PAM Jaya tidak layak konsumsi.
“Untuk rusun ini dilayani oleh PT PAM Jaya. Air bakunya dari Waduk Pluit. Itu untuk melayani 12 blok di sini. Ada 1.200 unit,” kata Kepala Sarana dan Prasarana Agung saat ditemui kumparan di kantornya, Kamis (9/11). Menurut Agung, air yang disediakan oleh PAM Jaya tergolong cukup bersih. “Ya, bersih ya. Tapi bukan untuk minum,” katanya.
Menurutnya, air bersih ini hanya sebatas untuk mandi dan mencuci pakaian. Ada banyak faktor yang menyebakan air di kawasan ini tidak layak untuk dikonsumsi. Kondisi fisik Jakarta Utara yang dekat dengan laut membuat air di sini terasa sedikit asin.

Jakarta Utara pada dasarnya memiliki Cekungan Air Tanah (CAT) yang mengandung unsur Fe (besi) dengan kadar yang tinggi serta kandungan Na (Natrium), Cl (Klorida), TDS (Total Disolve Solid) dan DHL (Daya Hantar Listrik) yang tinggi akibat adanya pengaruh dari intrusi air asin.
Dengan kondisi tersebut, menjadikan tak sembarang air di Jakarta Utara dapat digunakan atau dikonsumsi. Mohammad Hatta salah satu staff bagian produksi dari PAM Jaya menjelaskan pengelolaan air dari Waduk Pluit hingga menjadi air bersih dilakukan dengan proses panjang. Awalnya, air waduk dipompa kemudian ditampung di tangki air baku.
Lalu air tersebut ditransfer ke aerator untuk ditambahkan oksigen serta mengoksidasi organik sehingga bisa terurai. Proses berlanjut ke tahap utama yaitu koagulasi, flukolasi, sedimentasi, serta filtrasi.

Ada penambahan zat kimia untuk membantu proses koagulasi. Ada juga penambahan alum dan kaporit yang berfungsi sebagai oksidator. Selanjutnya air masuk ke tahap filterisasi dengan sand filter (penyaringan pasir) dan activated carbon hingga akhirnya air dapat didistribusikan ke warga rusun.
“Standarnya masih air bersih. Kualitas air bakunya bisa dikatakan berat. Jadi belum bisa (digunakan sebagai air minum),” jelas Hatta.
Untuk melengkapi proses pengolahan air, Hatta mengatakan PAM Jaya selalu rutin melakukan pengecekan. Ada dua jenis pengecekan yang dilakukan.
“Kalau pengecekan rutin kami lakukan sehari dua kali untuk parameter secara fisik. Kalau secara lab, seminggu sekali,” katanya.
Pengecekan ini nantinya untuk mengetahui kendala-kendala yang muncul saat pengelolaan air. Menurut Hatta salah satu kendala besar pada air baku adalah tingkat TDS yang tinggi.
“TDS itu tingkat saliniti atau kadar garam. Batas TDS untuk air bersih 1500, untuk air minum 500. Sedangkan hari ini tinggi sekali mencapai 2500,” kata Hatta.
Ia menjelaskan tingkat TDS ini juga dipengaruhi oleh kondisi alam seperti air laut yang pasang. Jika hal tersebut terjadi, Hatta dan timnya akan melakukan pengecekan berkala tiap satu jam sekali.
Tidak hanya pihak PAM Jaya, pengecekan juga dikawal oleh para teknisi rusun.
“Kami selalu koordinasi dengan PAM Jaya. Kalau airnya jelek saya juga lapor ke Pak Hatta,” kata Kepala Teknisi Rusun Waduk Pluit Subandi.
Menurut Subandi selama ini tidak ada masalah berarti yang berkaitan dengan ketersedian air. Kalaupun terlambat, bagi Subandi hal itu sudah biasa dan masih bisa dimaklumi.
“Kalau telat pihak PAM Jaya ngomong ke kita, misal lagi ada trouble. Kalau kayaknya troublenya lama, mereka langsung kirim air pakai mobil tangki,” kata Subandi.

Ia juga menjelaskan selama ini kendala teknis yang dialami warga juga masih dapat ia tangani. Subandi dan 13 teknisi lainnya berjaga secara bergantian selama 24 jam sehari.
Mereka memastikan tidak ada masalah teknis yang dapat menghambat aliran air ke setiap unit di rusun. “Paling kalau masalah teknis hanya pipanya mampet,” kata Subandi.
Sayangnya meski pengolahan sudah dilakukan sesuai prosedur bahkan ketersediaan air selalu dijaga agar mencukupi, namun kualitas air masih belum dapat menjawab kebutuhan warga rusun. Warga masih mengeluh karena kualitas air yang buruk sehingga tidak dapat dikonsumsi.
“Airnya kurang bersih. Kadang kuning kadang ijo, kadang ada baunya gitu," ungkap Thoriq seorang pemuda rusun Waduk Pluit saat diwawancarai kumparan.
Tak hanya Thoriq, Lis seorang ibu penjual makanan di rusun juga mengungkapkan hal yang sama.
“Kualitas air kurang bagus, kuning. Ngga jernih. Lengket, sering gatel, ngga seger, namanya juga air waduk” ungkap Lis. Ia mengaku memilih membeli air galon untuk dikonsumsi. Tidak hanya Lis, semua warga juga nyatanya masih harus merogoh kocek untuk memenuhi kebutuhan air setiap hari.

Harga air isi ulang dipatok sebesar Rp 6.000 hingga Rp 8.000 untuk satu galon. Untuk merk tertentu, warga harus membayar Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per galon. Sedangkan untuk satu drum besar mereka membayar Rp 20.000.
Kondisi tersebut membuat Lis memutar otak agar pengeluaran untuk air bisa diminimalisasi.
“Saya sehari bisa habis satu galon untuk minum dan masak. Kalau mandi, pakai air dari PAM dulu, nanti dibilas satu ember pakai air bersih. Biar nggak boros,” kisahnya.
Kisah yang sama juga dialami ibu Sukiyah, seorang warga yang pindah ke rusun karena relokasi. “Enggak ada air bersih, air waduk. Buat makan beli isu ulang Rp 6.000. Kalau air drum Rp 20.000 sedrum. Kalo mandi nyuci air waduk tuh,” kisahnya.
Pedagang mi ayam di rusun Waduk Pluit ini mengatakan satu drum besar air hanya ia gunakan dalam waktu dua hari. Meski dirasa sulit, warga di rusun Waduk Pluit terlihat memahami kondisi air yang buruk di wilayah tersebut. “Mau protes juga ke mana? Kan air waduknya memang sudah jelek. Mau protes gimana,” kata Sukiyah.
Selama ketersediaan air tidak diimbangi dengan kualitasnya yang baik, harapan warga rusun Waduk Pluit akan adanya air bersih nampaknya masih bertepuk sebelah tangan.

Reporter: Nesia Qurrota dan Selfy Momongan
